Identitas Buku
Judul: Kami (Bukan) Fakir Asmara
Pengarang: J.S. Khairen
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2024
Halaman: 378 hlm.
Kisah Asmara Dokter Rekayasa Genetika Hewan
Novel ini menceritakan tentang Lira, seorang remaja maniak belajar, hingga berhasil masuk kuliah pada usianya yang ke-14. Ia menghabiskan waktu remajanya tanpa pengalaman menjalin cinta sama sekali.
Lira kira ia akan menemukan cinta di bangku kuliah. Namun, yang ia temukan hanya sebatas pria lalu lalang yang membekas di masa lalu kehidupannya.
Kecintaannya pada fakultas kedokteran sering kali membuatnya masih denial terhadap dunia percintaan. Tetap saja, tak bisa dipungkiri bahwa ia penasaran.
Laki-laki yang pertama kali masuk ke dalam kehidupan cintanya adalah Gerome, yang dengan penuh api menunjukkan ketertarikannya pada Lira. Ada juga Sonny yang sama sukanya dengan Lira.
Namun, dua lelaki itu harus menghadapi kenaifan Lira tentang cinta. Hal ini mendatangkan harapan yang pupus dan hati yang patah.
Kisah dilanjutkan dengan deskripsi nafsu anak muda seorang Lira. Dirinya menyukai kakak tingkat yang tampan bernama Tomi. Bersamaan dengan itu, terjadi pertemuannya yang unik dengan Darwis, penyelamat Lira waktu kelaparan di warung makan Padang.
Sampai lulus kuliah pada usianya yang mencapai 18 tahun, Lira pun tak kunjung menemukan jawaban atas rasa penasaran dan kebingungannya.

Sesuai keinginannya, Lira berangkat ke Amerika Serikat untuk menjalani studi double degree-nya dalam rekayasa genetika hewan dan ilmu kesehatan.
Setelah selesai menjalani studi di Amerika Serikat, Lira kembali ke Indonesia dan menjalani profesi sebagai dosen di universitas milik ayahnya, UDEL. Di sana, ia ditugaskan untuk membenahi sistem yang bobrok dan membangun kembali semangat pendidikan.
Selanjutnya, dikisahkan perjalanan Lira bersama mahasiswa didikannya. Tantangan dalam membentuk karakter serta motivasi mahasiswa yang sebelumnya sempat menurun, dihadapi oleh Lira berbekal pengalamannya di Amerika Serikat dan dukungan para dosen yang sepemikiran dengannya.
Jatuh bangun, naik-turun, dan roller coaster kehidupan dijalani bersamaan dengan masa lalu yang satu per satu hadir kembali. Hal tersebut membawa perubahan, percakapan ringan, serta kehangatan baru yang menciptakan ruang cinta bagi Lira untuk nanti ia selami.
Pada akhirnya, setelah melewati berbagai seleksi dan penyesuaian, di bagian epilog Lira diceritakan bersama suaminya sesaat setelah menikah. Namun, tetap menjadi tanda tanya mengenai siapa suami Lira sebenarnya.
Setelah membaca novel tersebut, saya menemukan bahwa novel ini sangat unik. Pertama, latar tokoh yang digunakan penulis berusia setara SMA, namun berada di lingkungan perguruan tinggi. Tergambarkan dengan jelas aura kenaifan remaja dalam percintaan.
Kedua, novel ini pula memasukkan side story berupa cerpen berjudul “Monster Ketawa”. Dalam ceritanya, Monster Ketawa adalah karya dari tokoh bernama Darwis. Diceritakan bahwa Darwis adalah penulis terkenal, sehingga pembaca pun dapat benar-benar masuk ke dalam semesta Lira dengan disuguhkan cerpen tersebut.
Ketiga, memang sudah lumrah bahwa J.S. Khairen adalah penulis yang hebat. Dalam novel serialnya, Kami (Bukan), mengandung banyak pengetahuan yang dibungkus dengan kisah kehidupan remaja. Jadi, pengetahuan dan pesan dapat tersampaikan dengan baik.
Di Kami (Bukan) Fakir Asmara ini, penulis mampu menyelipkan hal-hal yang berkaitan dengan kedokteran. Hebatnya lagi, pembaca diajak mengetahui tentang sistem pada perguruan tinggi.
Unsur asmaranya tak lupa pula disusun begitu apik. Bagaimana gejolak yang terjadi pada seorang Lira; perasaan bimbang, bingung, dan penasaran tercampur menjadi satu yang dapat disampaikan penulis dengan baik.
Satu hal lagi yang saya sukai adalah unsur komedi yang tidak mendominasi, namun “tipis-tipis” mencairkan suasana saat membaca, sehingga menjadikan pembacanya mudah menikmati alur cerita.
Sayangnya, dari alur yang memuat perjalanan Lira sejak masuk kuliah hingga menjadi dosen—khususnya pada pencarian cinta—harus diakhiri dengan puncak yang menggantung. Detik-detik penentuan pilihan Lira disusun dengan kesan lompat-lompat dan tidak betul-betul menggambarkan proses seleksinya.
Ditambah lagi, pembaca harus menerka-nerka dengan siapakah Lira menikah hanya bermodal narasi yang melompat dan singkat. Hal ini membuat akhir cerita Lira jadi buram dan tidak begitu jelas.
Namun, dalam redaksi akhir di novelnya, penulis menuliskan bahwa novel ini akan bersambung pada judul selanjutnya.
Dari semua kelebihan dan kekurangan novel tersebut, cerita Lira ini tetap menarik untuk dibaca oleh para remaja yang sedang larut dalam kisah cinta monyet. Akan lebih lengkap lagi apabila pembaca merampungkan tiga seri sebelumnya yang berada dalam semesta yang sama.
Alumnus Angkatan XI Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah. Mahasiswi Institut Pertanian Bogor (IPB) Jurusan Bisnis.

