Gelar Penguatan Literasi Guru, Al-Tsaqafah Hadirkan Peneliti IRCELYON Paris

Guna meningkatkan mutu pembelajaran, Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah menggelar acara “Penguatan Literasi Guru” pada Sabtu (15/11/2025). Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi para guru untuk membedah metode pengajaran di era Kurikulum Merdeka.

Ketua Pelaksana Acara, Abdul Gofir, mengungkapkan bahwa agenda ini lahir dari observasi mendalam terhadap kebutuhan para guru di lapangan. Banyak tenaga pendidik yang mencari metode pembelajaran yang paling tepat dan mudah diterima oleh siswa, khususnya dalam aspek literasi membaca, numerasi, dan budaya.

“Kami mengadakan acara ini untuk mempermudah guru mengambil pandangan-pandangan baru. Sebagaimana anjuran kementerian, peningkatan literasi adalah hal yang krusial,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gofir menekankan bahwa output utama dari kegiatan ini adalah terciptanya ruang belajar yang lebih kritis bagi siswa.

“Ini juga nantinya akan kami terapkan untuk memperbarui Satuan Ajar Pembelajaran (SAP) hingga Capaian Pembelajaran (CP) secara menyeluruh,” tegasnya.

Para guru Al-Tsaqafah bersama pemateri

Untuk memberikan wawasan yang komprehensif, kegiatan ini menghadirkan akademisi dengan rekam jejak riset internasional, Rohib, S.T., M.S.Eng, Ph.D. Rohib merupakan Manajer Center for Sustainability and Waste Management (CSWM) Universitas Indonesia (UI) yang menyelesaikan gelar doktoralnya di bidang Energy Engineering di University of Science and Technology, Korea Selatan. Ia juga pernah tercatat sebagai Postdoctoral Fellow di IRCELYON, Paris, dan terlibat dalam proyek riset strategis SAFHYR dan ELOBIO.

Latar belakang narasumber yang kuat dalam dunia riset global ini memberikan perspektif baru bagi para guru di Al-Tsaqafah. Zaenurrahman, peserta dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris, mengaku bahwa materi yang disampaikan menjadi pemicu semangat baru.

“Pemateri memberikan gambaran global, misalnya bagaimana pendidikan di Korea dan Prancis menggunakan kurikulum yang cocok dengan karakteristik anak didik mereka,” katanya.

Zaenurrahman juga menyoroti kebijakan kurikulum Indonesia yang selalu berubah di setiap periode pemerintahan. Menurutnya, perubahan tersebut ‘memaksa’ sekolah dan guru untuk harus terus beradaptasi.

“Di pelatihan ini, kita diajak berpikir bagaimana ‘meracik’ kurikulum yang terus berubah tersebut agar berjalan selaras dengan karakteristik anak didik dan nilai-nilai pesantren yang kita anut,” tutupnya.

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya