Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah menerima kunjungan silaturahmi Asosiasi Muslim Xinjiang, Tiongkok, pada Selasa (10/2/2026). Bertempat di Auditorium Pesantren, rombongan disambut langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A.
Kunjungan ini dipimpin oleh Executive Vice President of Xinjiang Islamic Institute, Zhang Wujun. Kehadirannya didampingi oleh sejumlah tokoh penting yang merepresentasikan ulama dan pemerintah daerah Xinjiang.
Dalam sambutannya, Kiai Said menekankan bahwa hubungan Islam antara Indonesia dan Tiongkok memiliki akar sejarah yang sangat kuat dan panjang. Menurut Kiai Said, Islam justru datang lebih awal ke Tiongkok sebelum menyebar ke Nusantara.
“Islam datangnya lebih dulu ke Cina, bahkan di Cina ada beberapa makam sahabat. Di Guangzhou ada makam Sa’ad bin Abi Waqqas. Dari Cinalah, kemudian dakwah Islam datang ke sini,” ujarnya.
Selain itu, Kiai Said juga memaparkan bukti sejarah akulturasi budaya, mulai dari peran Syekh Quro, Hasanudin Karawang, hingga Laksamana Cheng Ho yang membangun masjid di Banyuwangi, Surabaya, Gresik, Tuban, dan Semarang.
“Sunan Gunung Jati pun punya istri cantik dari Cina, namanya Ong Tien. Brawijaya V, Raja Majapahit, punya istri Cina, Siu Ban Ci, punya anak laki-laki namanya Jin Bun, itulah Raden Fatah, Raja Demak,” imbuhnya menceritakan kedekatan genealogis tokoh Islam Nusantara dengan Tiongkok.
Kondisi Muslim Xinjiang
Terkait isu yang sering beredar di media sosial mengenai kondisi Muslim di Xinjiang, Kiai Said memberikan klarifikasi tegas. Berdasarkan pengamatan dan interaksinya, ia meminta agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang provokatif.
“Jangan percaya kalau ada berita di media sosial kalau umat Islam di sana disiksa, dibunuh, ditindas, dilarang beribadah. Jangan percaya,” tegas Kiai Said.

Ia menggambarkan bahwa Islam di Xinjiang—yang penganutnya mencapai lebih dari 10 juta jiwa—telah eksis selama lebih dari 1000 tahun. Kiai Said juga menceritakan keunikan budaya setempat, mulai dari buah-buahan seperti apel dan anggur yang khas, hingga penggunaan aksara Arab dalam bahasa setempat.
“Semua kita orang Islam bersaudara, tidak pandang bulu kulitnya warna apa, bahasanya apa. Harus saling silaturahmi dan mendoakan,” pesannya.
Apresiasi dari Xinjiang
Mewakili delegasi, Executive Vice President of Xinjiang Islamic Institute, Zhang Wujun, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kiai Said. Ia mengenang kunjungan Kiai Said ke Xinjiang pada November tahun lalu (2025) yang dinilai sangat berarti bagi komunitas Muslim di sana.
“Setelah balik ke Indonesia, saya sangat senang bisa melihat beliau (Kiai Said) membantu kami untuk memperkenalkan keadaan Xinjiang yang sebenarnya. Kami ingin mengucapkan terima kasih,” ujar Zhang Wujun.
Dalam kesempatan tersebut, Zhang juga menegaskan komitmen lembaganya dalam mendukung Islam yang moderat. “Kami selalu mendukung penyebaran Islam yang toleran dan anti-terorisme. Kita harus menjaga perdamaian dan harmoni sosial,” tambahnya.
Menutup sambutannya, Zhang Wujun berharap kerja sama ini terus berlanjut. Ia mengundang tokoh-tokoh agama dan para santri Indonesia untuk berkunjung langsung ke Xinjiang guna melihat geliat Islam di Negeri Tirai Bambu tersebut.

