Di era sekarang, tekanan untuk “berhasil lebih cepat” semakin besar. Media sosial sering kali menampilkan versi terbaik dari kehidupan orang lain, yang tanpa disadari memperparah rasa cemas dan tidak percaya diri. Perasaan tersebut umumnya terjadi ketika seseorang mulai mempertanyakan arah hidup, tujuan, dan makna dari semua yang sedang dijalani atau disebut sebagai fase quarter-life crisis.
Menurut Arnett (2000), quarter-life crisis adalah masa transisi dari remaja ke dewasa awal, yang terjadi antara usia 18 tahun dan 30 tahun. Fase ini ditandai dengan perasaan cemas dan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi di masa depan, yang terkait dengan tanggung jawab yang harus dipenuhi sebagai orang dewasa.
Pada fase ini, banyak orang mulai mempertanyakan: “Apakah aku sudah berada di jalan yang benar?”, “Kenapa hidup terasa stagnan?”, “Mengapa orang lain terlihat lebih maju dariku?”. Perasaan-perasaan ini sering muncul karena tekanan sosial, ekspektasi keluarga, hingga perbandingan dengan pencapaian orang lain, terutama di era media sosial.
Musik sebagai Sarana Refleksi Diri
Salah satu cara untuk mengatasi fase quarter-life crisis ini adalah dengan membangun support system yang berarti: kelilingi diri dengan teman, keluarga, mentor yang suportif dan positif, atau mendengarkan musik. Musik merupakan salah satu bentuk karya seni yang hadir melalui bunyi dengan keselarasan, nada, dan irama, serta dituangkan dalam bentuk lagu yang mengandung ungkapan perasaan maupun pikiran penciptanya.
Dalam konteks komunikasi, musik dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk pesan estetik yang memungkinkan penyampaian makna secara simbolis dan emosional, sehingga dapat diterima dan dipahami secara universal oleh pendengarnya. Hal ini memungkinkan musik untuk berperan tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran, refleksi diri, dan penguatan psikologis.
Peran musik yang magis untuk menguatkan psikologis dan refleksi diri tertuang pada lagu 33x dari band Perunggu sebagai representasi quarter-life crisis. Lagu tersebut dapat dibaca lebih dalam bukan hanya sebagai potret kegelisahan anak muda, tetapi juga sebagai simbol perjalanan spiritual.
Di tengah kebingungan yang identik dengan fase quarter-life crisis, angka “33x” dapat dimaknai sebagai representasi praktik tasbih; mengulang zikir kepada Allah sebagai bentuk penenangan diri. Struktur lagu 33x cukup sederhana, yakni verse 1-reff 1-verse 2-reff 2-bridge–outro dengan genre alternative rock atau indie rock yang dirilis tahun 2023.
Membedah Makna: Dari Gelisah Menuju Berserah
Lalu, apa yang membuat lagu tersebut merupakan representasi antara kegelisahan dan tasbih kepada Allah? Mari kita bedah struktur lagunya dengan sedikit pemaknaan dari sudut pandang pengetahuan penulis yang sempit ini.
Verse 1:
Risalah terikatnya, batin dan raga yang mengunci
Di atas Sang Maha Daya semua kendali terambil alih
Jikalau kau keluhkan dengung sumbang yang mengganggu
Buka lagi visimu, kau tahu mana urutan Satu
Verse 1 ini seperti bisikan pikiran sendiri, sadar bahwa ada yang tidak beres dalam hidup, perasaan khawatir akan hidup begitu kuat padahal sedari kecil kita tahu bahwa Allah bisa mengambil alih urusan hamba-Nya. Tak hanya bisikan pikiran sendiri, pada verse 1 ini juga mengajari kita untuk membuka lagi visi kita dan tahu mana prioritas yang harus dijalani, serta jangan terlalu sering mengeluhkan dengung sumbang yang mengganggunya.
Reff 1:
Di antara putaran nirfungsi
Petakan semua lagi, titik tuju yang telah terpatri
Melamban bukanlah hal yang tabu
Kadang itu yang kau butuh, bersandar hibahkan bebanmu
Pada bagian awal menggambarkan situasi yang dialami individu saat usia menuju dewasa, yakni terjebak dalam rutinitas kerja yang sibuk, tidak produktif, atau melelahkan secara mental. Frasa ini bermakna lingkaran setan di mana seseorang terus beraktivitas, tetapi kehilangan arah atau tujuan yang sebenarnya, sehingga disarankan untuk melamban agar bisa memetakan lagi titik tuju yang sudah terpatri dalam diri. Pada bagian ini bukan hanya melamban yang disarankan, melainkan juga bersandar untuk mengurangi beban. Kata “bersandar” di sini bisa berarti bercerita kepada keluarga, sahabat, teman, atau Zat Yang Mahatinggi, yakni Allah.
Verse 2:
Rotasikan pandanganmu, ambil sudut yang terbaru
Belum pernah kau coba lihat semua bukan dari matamu
Kelak kau kan mengingat yang membawamu ke sini
Kami pernah di situ, di posisimu, helakan kesahmu
Makna yang ada pada verse 2 merupakan ajakan untuk mengubah perspektif baru dengan melihat semua yang sudah ada di sekelilingmu saat ini. Pada bagian ini juga menekankan pendengar untuk selalu bersyukur dengan mengingat proses yang sudah dilalui hingga mencapai tahap sekarang ini. Diakhiri dengan validasi emosional dari pencipta lagu bahwa mereka juga pernah berada di posisi kita sekarang ini.
Reff 2:
Tak perlu kau berhenti kurasi
Itu hanya sementara, bukan ujung dari rencana
Jalanmu kan sepanjang niatmu
Simpan tegar dalam hati, dua sembilan kau terus mencari
Pada reff 2 ini bermakna ajakan untuk terus melanjutkan proses hidup, berkarya, atau berjuang tanpa perlu berhenti total saat menghadapi kelelahan. Ajakan ini juga merupakan motivasi untuk tetap bertahan (tawakal) karena rintangan bersifat sementara, bukan akhir dari rencana.
Bridge:
Sebutlah nama-Nya, tetap di jalan-Nya
Kelak kau mengingat, kau akan teringat
Bagian bridge merupakan bagian yang mengaktualisasikan judul lagunya itu sendiri. Maknanya adalah ajakan untuk berzikir, bertawakal, dan konsisten di jalan Allah saat menghadapi masalah hidup. Dalam tradisi Islam, angka 33 memiliki makna khusus dalam zikir: 33 tasbih (Subhanallah), 33 tahmid (Alhamdulillah), dan 33 takbir (Allahu Akbar).
Ini merupakan simbol pengulangan doa atas usaha manusia untuk menenangkan hati melalui pengingat akan Allah. Repetisi ini selaras dengan nuansa lagu yang terasa berulang, seperti pikiran yang terus berputar. Bedanya, jika overthinking membawa kecemasan, maka zikir membawa ketenangan. Lagu ini seolah berada di antara dua kondisi tersebut: antara pikiran yang bising dan hati yang sedang belajar untuk diam.
Outro:
Terus berenang, lanjutlah mendaki
Terus berenang, lanjutlah mendaki
Pada bagian akhir lagu menggambarkan perjalanan hidup. Berenang dan mendaki adalah aktivitas fisik, namun makna pada lagu ini menekankan keduanya sebagai simbol perjuangan, tekad, dan ketahanan dalam melanjutkan hidup mencapai tujuan yang telah terpatri tadi.
Berenang sering dihubungkan dengan usaha melawan arus, sedangkan mendaki melambangkan perjuangan menembus rintangan menuju puncak. Artinya, membentuk makna hidup adalah proses yang menantang, namun tetap harus dijalani langkah demi langkah.
Menemukan Kembali Arah Pulang
Berdasarkan pemaknaan struktur lagu di atas, lagu 33x dapat dimaknai sebagai jembatan antara kegelisahan dan ketenangan, antara krisis dan spiritualitas. Melalui simbol “33x”, kita diajak melihat bahwa quarter-life crisis bukan hanya tentang kehilangan arah, tetapi juga tentang menemukan kembali arah yang lebih hakiki.
Pada akhirnya, mungkin jawaban dari semua kegelisahan itu bukanlah sesuatu yang harus dicari jauh-jauh, melainkan sesuatu yang diulang dengan sederhana: dalam zikir, dalam diam, dan dalam kedekatan dengan Allah.
Saya berharap semoga tulisan ini ada manfaatnya, entah itu sedikit atau banyak, dan Allah berkenan mencatatnya sebagai amal yang baik. Dan apabila pembaca merasakan ada manfaatnya, sesungguhnya hanya Allah yang mampu memberi manfaat kepada hamba-Nya. Jika ada kekeliruan, maka hal itu sesungguhnya datang dari diri yang tak pernah bisa lepas dari khilaf dan kesalahan, baik itu kekeliruan lahir maupun batin.
Guru Matematika PPL Al-Tsaqafah. Pegiat One Piece dan Fans Manchester United (MU).
