Saat menghadiri prosesi Wisuda dan Kelulusan Santri Al-Tsaqafah angkatan ke-XI, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, menyampaikan hal yang menarik untuk kembali diingat. Ia berkata, “Barangkali (Al-Tsaqafah) ini adalah cikal bakal kembalinya Bait al-Hikmah yang dulu pernah mencetak sejumlah ilmuwan tersohor.”
Di usia yang masih terbilang muda, Al-Tsaqafah sudah menunjukkan potensi yang sangat luar biasa. Integrasi keilmuan yang ditawarkan adalah salah satu dari banyak hal yang patut dibanggakan oleh individu-individu yang terikat dengan nama besar pesantren ini.
Memasuki usia ke-13, rasanya menarik untuk menengok kembali bagaimana Al-Tsaqafah telah menempuh perjalanan panjang hingga menjadi dirinya hari ini.
Berikut adalah sebuah refleksi perjalanan 12 tahun Al-Tsaqafah, yang diolah dari wawancara dan obrolan bersama para saksi hidup yang mendampingi perjalanan tersebut sejak hari pertama.
Siapa sangka, visi besar tentang peradaban ini justru dimulai dari langkah yang sangat sederhana dan merakyat.
Pendidikan Setara untuk Semua Kalangan
Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, awalnya mendirikan lembaga pendidikan ini dengan tujuan mulia nan sederhana: masyarakat menengah ke bawah bisa sekolah, tanpa menutup pintu bagi kalangan menengah ke atas.
Kepala Bidang Administrasi dan Keuangan Al-Tsaqafah, Ulin Nuha, menyebut bahwa hal itu dibuktikan langsung dari komposisi para santri awal.
“Dari awal, santri yang diambil bukan santri prestasi. Itu 11 santri dari wilayah Indramayu,” ungkapnya.
Bagi Uha, sapaan akrab Ulin Nuha, hal itu menjadi bukti bahwa Kiai Said menginginkan masyarakat dari kalangan apa pun berhak mengakses pendidikan yang setara.
Komitmen ini tidak hanya di atas kertas. Sebab, seluruh santri angkatan pertama yang nantinya berjumlah 28 orang—termasuk 11 anak dari Indramayu tersebut—diberikan beasiswa penuh hingga mereka lulus.
Tujuan utamanya, minimal, agar mereka mampu berislam dengan baik dan benar, serta memiliki akhlak yang mulia.
Awal Mula Kurikulum dan Integrasi Keilmuan
Pada masa perintisan di tahun 2013, kondisi bangunan dan fasilitas masih sangat terbatas. Jumlah santri masih bisa dihitung jari.
Fokus utama Al-Tsaqafah kala itu adalah memastikan kegiatan mengaji dan sekolah formal dapat berjalan dengan baik. Kepala Madrasah Aliyah Al-Tsaqafah, Akrom Halimi, menjelaskan bahwa pada awalnya Al-Tsaqafah menerapkan konsep sekolah di pagi hari, lalu mengaji di sore dan malam hari.
“Sekolah pagi dan ngajinya sore, habis asar, dan habis isya,” ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, evaluasi menunjukkan bahwa memisahkan pengajian kitab dan pelajaran umum membuat para santri cenderung “pilih kasih”. Ada yang bersemangat di pelajaran umum tetapi malas saat mengaji, maupun sebaliknya.
Dari hasil evaluasi itulah lahir konsep integrasi kurikulum. Pelajaran umum dan kitab kuning dilebur dalam satu waktu yang sama, tidak lagi dipisah antara pagi dan sore.
“Di angkatan kedua, kalau tidak salah, terobosan itu mulai diterapkan,” jelas Akrom.
Setelah tiga tahun berjalan, tepatnya saat meluluskan angkatan pertama Aliyah (MA) pada tahun 2016, Al-Tsaqafah membuka jenjang Tsanawiyah (MTs). Sejak saat itu, kurikulum mulai disusun secara berjenjang untuk kelas 7 hingga kelas 12.
“Fikih, misalnya, kita buat berjenjang. Dari kitab Safinah, kemudian naik ke Sullam al-Taufiq, lalu Fath al-Qorib. Hadis juga sama, begitu pula Tafsir, dan ilmu lainnya,” paparnya.
Ciri Khas Al-Tsaqafah sebagai Pesantren Peradaban
Integrasi keilmuan di Al-Tsaqafah nyatanya bukan sekadar peleburan jadwal, tetapi juga berakar pada landasan filosofis yang kuat. Kepala Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Sofwan Yahya, menjelaskan bahwa sistem ini berpijak pada prinsip ketiadaan dikotomi ilmu.
“Kita merujuk kepada ilmuwan-ilmuwan muslim terdahulu, yang memang di waktu itu keilmuan belum mengerucut ke spesialisasi atau jurusan-jurusan. Dulu, ilmuwan muslim tidak memisahkan hal ini. Akidah, fikih, kedokteran, matematika, sains, itu semua lahir dari rahim keislaman,” urai Sofwan.
Menurutnya, dengan pemahaman tersebut, santri diharapkan mampu mewarnai kedua dunia keilmuan. Ilmu agama menjadi fondasi minimal untuk diri pribadi dan keberagamaan masyarakat Islam, sementara ilmu umum menjadi sarana untuk khidmah (mengabdi) kepada masyarakat luas. Keduanya memiliki kedudukan yang sama pentingnya.
“Saya kira apa yang dikatakan al-Ghazali itu betul sekali, yang membedakan ilmu hanya skala prioritasnya saja. Ada yang fardhu ‘ain dan ada juga yang fardhu kifayah,” tambahnya.
Turunan dari filosofi peradaban ini tercermin kuat pada mata pelajaran khusus yang diajarkan. Santri Al-Tsaqafah mendapatkan kurikulum yang bersinggungan langsung dengan peradaban dan kebudayaan Islam, seperti Aljabar wa al-Muqobalah (Aljabar Klasik), al-Iqtishod al-Islami (Ekonomi Islam), Ilm al-Thibb (Ilmu Kedokteran), hingga Tarikh Siyasi (Sejarah Politik Islam).
Akrom Halimi menceritakan bahwa pendekatan ini adalah ciri khas yang melekat kuat pada Al-Tsaqafah. Ia mencontohkan, jika beberapa pondok pesantren di Jawa Barat terkenal dengan spesialisasi keilmuan Nahwu-Shorof, dan pesantren lain unggul di bidang Mantiq, Balaghah, atau Hadis, Al-Tsaqafah memiliki trademark-nya tersendiri.
“Karena pendiri Al-Tsaqafah adalah Buya Said, kita mencari tahu apa yang sebenarnya lebih ditekankan oleh beliau. Ketemulah bahwa ketika membahas Islam, Buya sering kali menyampaikan bahwa agama ini tidak hanya sebatas akidah dan syariat saja, tetapi juga peradaban dan kebudayaan,” jelasnya.
Dengan epistemologi tersebut, Al-Tsaqafah tidak hanya sekadar mengajarkan fikih atau akidah secara sempit, tetapi juga membawa pemahaman menyeluruh tentang sejarah, peradaban, dan keilmuan mutakhir sebagai satu kesatuan nilai Islam yang utuh.
Jejak Global Alumni: Bukti Keberhasilan Integrasi Kurikulum
Keberhasilan integrasi keilmuan yang diterapkan Al-Tsaqafah nyatanya bukan sekadar isapan jempol. Hal ini tercermin secara nyata dari sebaran lulusannya yang mampu menembus berbagai perguruan tinggi bergengsi, baik di dalam maupun luar negeri.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Al-Tsaqafah, Nizar Idris, menegaskan bahwa pencapaian para alumni ini adalah representasi paling konkret dari nilai-nilai luhur yang ditanamkan pesantren.
“Banyak alumni kita yang berhasil diterima di luar negeri, baik Timur Tengah, Asia, dan Eropa, atau di dalam negeri di kampus-kampus bonafide,” ungkap Nizar.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari identitas keilmuan mereka sebagai santri. “Mereka tidak hanya mampu menguasai ilmu eksak saja, tapi juga hafal al-Qur’an dan menguasai ilmu agama secara mendalam,” jelasnya.
Tradisi mengirim santri ke mancanegara ini sudah berhasil dilakukan sejak angkatan-angkatan awal. Di antaranya adalah pengiriman studi ke Maroko, Mesir, Yaman, China, Jepang, dan Polandia. Tren positif ini terus dijaga konsistensinya hingga hari ini.
“Alhamdulillah, selain ke luar negeri, tahun ini Al-Tsaqafah kembali berhasil mengantarkan santrinya menembus UGM, UI, IPB, Brawijaya, ITS, ITB, UIN, dan kampus-kampus lainnya,” lanjut Nizar bangga.
Refleksi dan Harapan di Tahun ke-13
Memasuki usia ke-13, sebuah pertanyaan reflektif muncul: apakah realitas Al-Tsaqafah hari ini sudah sepenuhnya menjawab apa yang dicita-citakan saat awal didirikan? Menjawab hal ini, Sofwan Yahya memberikan pandangan yang objektif dan rendah hati.
“Secara umum belum sepenuhnya. Namun secara parsial, hal-hal tertentu sudah terlihat kemajuannya,” ungkapnya. Ia mencontohkan, dari segi fasilitas, kondisi pesantren saat ini sudah jauh lebih memadai dibandingkan masa awal perintisan.
Menurut Sofwan, Al-Tsaqafah masih akan terus memperbaiki diri dan berkembang ke arah yang lebih baik. Meski bermula dari cita-cita sederhana, yakni pemerataan pendidikan, visi Al-Tsaqafah ikut berkembang seiring berjalannya waktu.
Pada giliran selanjutnya, Al-Tsaqafah melihat bahwa dirinya memiliki tanggung jawab dan peran yang jauh lebih luas, yakni menciptakan generasi yang bahkan lebih unggul dari sang pendiri, Kiai Said itu sendiri.
Kesadaran untuk terus mengembangkan diri ini menjadi bekal penting dalam menatap tantangan zaman. Sofwan menegaskan kembali bahwa memegang teguh kaidah Al-Muhafazhatu ‘ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bi al-jadid al-ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik) adalah sebuah keharusan mutlak.
“Saya kira motonya al-Ashalah wa al-Mu’asharah, ya. Yang orisinal harus dijaga, tetapi semangat zaman juga tetap harus,” tegasnya.
Semangat untuk beradaptasi dengan kemajuan zaman ini juga diamini oleh Ulin Nuha. Dari sisi tata kelola, ia menyebut langkah digitalisasi yang cukup progresif bagi Al-Tsaqafah.
“Ya, harus ada pengembangan, terutama digitalisasi. Bahkan, uang jajan ini rencananya kita bakal pakai (pemindai) telapak tangan. Jadi nanti ke kantin, cukup bawa telapak tangan. Set! Itu kan kemajuan teknologi, jajan anak juga bisa terkontrol. Tapi, ini masih kita kaji, ya,” paparnya antusias.
Merawat Nilai Orisinal: Akhlak dan Pengabdian
Memasuki usia ke-13, di tengah arus modernisasi dan digitalisasi ini, salah satu nilai orisinal yang tidak boleh tergerus oleh laju zaman adalah etika atau akhlak. Bagi Sofwan, inilah pakem esensial yang membuat pesantren senantiasa dikagumi dan wajib untuk dilestarikan.
“Akhlak itu bukan hanya sikap tubuh seperti cium tangan kiai, tapi juga sikap diri dalam merespons realitas. Menulis, misalnya, juga butuh akhlak. Harus sesuai etika penulisan, tidak mengakui karya orang lain sebagai hasil sendiri. Itu fondasi yang akan terus kita lestarikan,” urainya.
Dengan pemaknaan akhlak yang luas dan kurikulum yang tidak mendikotomi keilmuan, Sofwan berharap para santri siap menyongsong masa depan sekaligus mewarnai peradaban di bidangnya masing-masing.
“Apa pun profesi mereka nanti—baik menjadi pebisnis, birokrat, dokter, atau pegawai negeri—semua itu bisa bernilai ibadah asalkan dilandasi dengan akhlak, etika keislaman, dan semangat pengabdian kepada masyarakat. Nilai itulah yang terus kita tanamkan,” tutupnya.
Pemimpin Redaksi altsaqafah.id. Pengampu Mantik dan Akidah. Koordinator Said Aqil Siroj (SAS) Center PCINU Mesir (Periode 2021-2022).

