Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Umi Hj. Nur Hayati Abdul Qodir, MA., menyampaikan tujuh nasihat penting bagi para santri pada Tasyakur Hari Lahir (Harlah) ke-13 Al-Tsaqafah. Acara tersebut berlangsung khidmat di Auditorium Al-Tsaqafah pada Sabtu (01/08/2026).
Dalam mauidzah hasanah yang disampaikan, Umi Nur Hayati mengutip tujuh nasihat Lukmanul Hakim kepada anaknya sebagai pedoman hidup santri. Pertama-tama, ia menekankan pentingnya bersyukur kepada Allah Swt. dan menjauhi kemusyrikan.
“Pertama, kita harus bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Tiap hari yang kita lihat harus selalu bersyukur. Coba kita di rumah sakit, oksigen bayar, cuci darah bayar. Yang kedua, kita tidak boleh musyrik kepada Allah,” pesannya.
Umi juga menekankan bahwa doa dari orang tua adalah kunci ketenangan hati santri selama menuntut ilmu di pesantren.
Ia mengingatkan kembali perjuangan orang tua, khususnya seorang ibu yang telah mengandung, melahirkan, dan selalu mendoakan anaknya selama menuntut ilmu di pesantren.
“Anak-anak kerasa enggak didoain oleh ibu? Kerasa kan? Hatinya tenang ya, terus betah, terus senang ya, happy kalau bahasa gaulnya. Itu antara lain doa dari kedua orang tua kita,” tambahnya.
Pesan berikutnya, Umi Nur Hayati menegaskan pentingnya berbuat baik dan saling tolong-menolong sesama santri, mendirikan salat berjamaah tanpa menunda kecuali uzur syari, larangan bersikap sombong atau merasa paling pintar, serta kewajiban menjaga akhlaqul karimah.
“Pondok Pesantren Al-Tsaqafah harus mengedepankan akhlaqul karimah, sopan santun, tata krama, adab,” pesannya.
Nasihat-nasihat tersebut ditutup dengan penekanan bahwa seluruh santri yang menimba ilmu di lingkungan Al-Tsaqafah adalah setara. Tidak ada perlakuan khusus maupun pembedaan status bagi santri mana pun.
“Jadi semuanya di sini ialah anaknya Buya, anaknya Umi, anaknya Pak Sofwan, dan juga anaknya Ibu Nisrin. Semuanya sama, tidak ada pandang bulu,” tegasnya.
Selain meresapi mauidzah hasanah, peringatan Harlah ke-13 ini juga menjadi momen refleksi atas perkembangan pesat pendidikan di Al-Tsaqafah.
Sejak awal didirikan dengan jumlah santri yang hanya puluhan, Al-Tsaqafah kini memiliki kurang lebih 800 santri, dengan persebaran alumni yang melanjutkan pendidikan hingga ke Timur Tengah, Afrika Selatan, dan Tiongkok.
Kemeriahan tasyakuran ini turut dilengkapi dengan pembacaan Maulid Barzanji, penampilan musik gambus, serta pembagian doorprize bagi para santri.

