ALTSAQAFAH.ID – Perbedaan respons seorang pembaca ketika membaca ungkapan alaihi salam sesudah nama sahabat Ali bin Abi Thalib. Ada sebagian yang lebih memilih menulis/menyebut karramallahu wajhah dengan berbagai alasan sejarah dan teologis, di antaranya pertama, beliau adalah sahabat nabi yang tidak pernah menyembah berhala dan tidak pernah sujud sama sekali sebelum masuk Islam. Kedua, Ali adalah orang yang dikenal tak pernah melihat aurat, baik aurat dirinya sendiri maupun orang lain. Ketiga, Ali dikenal sebagai seorang pria yang gagah dan tampan.
Ada juga yang tetap menggunakan radiyallahu ‘anhu. Mungkin sebagian orang ketika menemukan atau membaca ‘ibarah/ungkapan Ali alaihi salam dalam sebuah buku/kitab akan mempunyai kesan bahwa penulis kitab tersebut adalah seorang bermazhab Syi’ah.
Padahal ketika melihat beberapa kitab klasik, misal al-Bukhari (ahli hadis), Ibn Jinni (ahli bahasa Arab), al-Baqillani (ahli ilmu Al-Qur’an dan teologi Islam), mereka menggunakan alaihi salam dalam kitab al-Muhtasab karya Ibnu Jinni dan al-Intishar karya al-Baqillani. Akan tetapi, dalam beberapa cetakan lain, misal Shahih al-Bukhari, tertulis radiyallahu ‘anhu, bukan alaihi salam.
Dalam pandangan sebagian orang, ungkapan alaihi salam adalah khusus para nabi dan rasul. Ada yang mengatakan bawah ungkapan alaihi salam dan karramallahu wajhah yang dikhususkan pada sahabat Ali itu pertama dimunculkan atau digunakan oleh kaum Syi’ah, kemudian yang lain ikut atau meniru mereka. Kita dapat mengambil salah satu contohnya dari tradisi dalam salat tarawih ketika yang bertugas sebagai bilal membaca, “Al-khalifah ar-rabi’ ‘Ali b. Abi Thalib“, lalu para jemaah mengatakan, “Karramallahu wajhah.”
Ada yang menarik ketika Ibn Katsir menafsirkan Q.S. Al-Ahzab: 56.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Berikut kutipan tafsir Ibn Katsir dalam kitabnya Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim jilid 11 halaman 237:
قلت: وقد غلب هذا في عبارة كثير من النساخ للكتب، أن يفرد علي، رضي الله عنه، بأن يقال: “عليه السلام”، من دون سائر الصحابة، أو: “كرم الله وجهه” وهذا وإن كان معناه صحيحا، لكن ينبغي أن يُسَاوى بين الصحابة في ذلك؛ فإن هذا من باب التعظيم والتكريم، فالشيخان وأمير المؤمنين عثمان بن عفان أولى بذلك منه، رضي الله عنهم أجمعين.
(تفسير القرآن العظيم، مجلد 11 ، ص 238)
Ibn Katsir di sini tidak mengatakan tradisi menulis Ali alaihi salam itu dari Syi’ah, tetapi lebih baiknya, dalam pandangan Ibnu Katsir, menyamakan ungkapan penghormatan antara Ali dan sahabat-sahabat lain walaupun artinya itu benar. Yang dikhawatirkan, berdasarkan beberapa ungkapan atau lafal, seperti al-imam, ‘alaih al-salam, al-mujaddid, dan lain sebagainya, sesudah atau mendahului beberapa nama tokoh, kita langsung menghakimi orang dengan sebutan Wahabi, Syi’i, Muktazilah, dan lain-lain.
Guru Balaghah dan Insya' di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

