Mengenang K.H. Mahrus Aly Melalui Prof.Dr. K.H. Said Aqil Siroj

ALTSAQAFAH.ID – Tanggal 6 Ramadan 1405 Hijriah, tepatnya hari Ahad malam Senin, 26 Mei 1985, Indonesia dan Nahdlatul Ulama (NU) kehilangan tokoh kharismatik. Sosok kiai yang tegas dan arif, K.H. Mahrus Aly yang saat itu menjadi pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur wafat karena sakit.

K.H. Mahrus Aly masih termasuk paman (uak) Buya Said. Ibu Kiai Mahrus bernama Ny. Hasinah binti Kiai Said Gedongan, sedangkan Buya Said adalah putra dari K.H. Aqiel bin Kiai Siroj bin Kiai Said Gedongan. Beliau mulanya mondok (menyantri) di Kasingan, Rembang, asuhan Kiai Kholil bin Harun (kakek dari Gus Mus). Setelah mengkhatamkan kitab Alfiyah, beliau pindah ke Lirboyo yang diasuh oleh Kiai Manab atau K.H. Abdul Karim. Setelah Mbah Manab tahu persis bahwa Kiai Mahrus orang yang luar biasa, Kiai Mahrus pun dinikahkan dengan putrinya yang bernama Nyai Zainab.

Untuk mengenang sosok yang fenomenal bagi santri Lirboyo ini dan bertepatan dengan haulnya, saya mencoba menyarikan kenangan Buya Said pada K.H. Mahrus Aly. Tulisan ini berasal dari hasil nguping pembicaraan wawancara Tim Pembukuan Profil K.H. Mahrus Aly Pondok Pesantren HM Lirboyo yang pada hari Kamis malam Jumat, 29 Februari 2024.

Kiai yang Arif

Buya Said menyimpulkan bahwa K.H. Mahrus Aly adalah kiai yang arif. Beliau bercerita bahwa dulu santri tidur di musala atau masjid adalah hal yang lumrah. Suatu hari, ketika Kiai Mahrus mau mengimami salat Subuh, ada santri yang masih tertidur di dekat mihrab musala. Ketika santri-santri lainnya mau membangunkan santri itu, Kiai Mahrus melarangnya. Beliau berkata, “Jangan dibangunin. Dia lagi bermimpi bertemu dengan Kanjeng Nabi.”

Buya Said juga menceritakan, setelah mengaji kitab Fathul Wahhab sekitar pukul 23.00 WIB, ndalem beliau dipadamkan (gelap). Orang akan mengira kalau beliau sudah tidur. Pada pukul dua malam, beliau sudah duduk di teras ndalem, lalu beliau keliling pondok sambil memberi makan kambing atau kucing yang beliau temui. Ketika kondisi sedang gawat, misalnya mendekati pemilu, beliau tidak pernah tidur dan wiridan sampai subuh.

Kiai yang Tegas dan Berani

Cerita tentang keberanian K.H. Mahrus Aly sudah masyhur sebagaimana karamah dan kesaktian beliau. Buya Said menceritakan kisah ketika Pondok Lirboyo diberikan pemasangan listrik gratis oleh Soeharto (negara) pada tahun 1971, kurang dari sebulan menjelang pemilu dalam suasana politik yang genting. Yang meresmikan adalah Pangdam Brawijaya Jawa Timur, Letjen. Wahono dan dihadiri oleh seluruh Dandim dan Danramil se-Jawa Timur. Di hadapan tamu undangan, ketika menyampaikan sambutan, Kiai Mahrus berkata dalam pidatonya dengan tenang, “Terima kasih kepada Pak Harto yang telah memberikan hadiah pada Lirboyo berupa listrik yang kalau dengan biaya sendiri bisa mencapai ratusan jutaan, bahkan mungkin miliaran.” Setelah berterima kasih dan mendoakan, Kiai Mahrus melanjutkan, “Tapi dengan syarat tidak ada tendensi politik. Kalau ada (tendensi politik), silakan cabut kembali sekarang!”

Kiai Mahrus bersahabat dengan pejabat, tetapi kalau sudah marah, beliau tidak punya rasa takut. “Waktu itu, waktu itu ya (sebelum NU mengakui asas tunggal Pancasila), Kiai Mahrus berpidato di hadapan Jenderal Sudomo yang saat itu menjabat Wakil Panglima ABRI: ‘Barang siapa yang mengatakan Pancasila lebih mulia daripada Islam, maka orang itu kafir, murtad!” terang Buya.

Beliau juga bersikap tegas kepada pemerintah. Kalau kebijakan pemerintah baik dipuji, kalau jelek dikritik. Menurut Buya Said, sikap Kiai Mahrus ini seperti sikap NU kepada pemerintah. NU tidak terlalu dekat dan juga tidak menjauh dari pemerintah. Menurut Buya Said, kalau terlalu dekat dengan pemerintah, tidak bisa mengkritiknya, tidak bisa nahi munkar. Apabila terlalu jauh dengan pemerintah, nanti tidak bisa amar ma’ruf.

Dalam bingkai NU, kiprah Kiai Mahrus hanya sebatas Rais Syuriah PWNU, tetapi perannya sangat besar. Hal ini bisa kita lihat ketika K.H. Idham Cholid yang saat itu sudah menjadi Ketua Umum PBNU selama 28 tahun, diminta mengundurkan diri karena dinilai NU tidak ada kemajuan. “Pelengseran” K.H. Idham Cholid ini diinisiasi oleh tiga kiai, yaitu Kiai Mahrus, Kiai Ali Maksum, dan Kiai As’ad Syamsul Arifin.

Kiai Mahrus juga menjadi juru islah (damai atau penengah) ketika terjadi perseteruan antara dua kubu di tubuh PBNU. Perseteruan dua kubu itu dikenal dengan SS vs. II (K.H. Ahmad Syaikhu-Subhan ZE vs. K.H. Idham Cholid-K.H. Imron Rosyadi). Kubu SS adalah orang yang keras, sedangkan kubu II adalah orang-orang yang kalem. Keduanya sering bertengkar.

Kiai yang ‘Allamah (Sangat Alim)

Buya Said menceritakan ke-‘allamah-an Kiai Mahrus ketika beliau mengaji langsung kepada Kiai Mahrus. Buya mengaji kitab Mughni Labib (kitab nahwu karya Syekh Ibn Hisyam) bakda Subuh, bakda Zuhur mengaji kitab ‘Uqudul Juman (kitab balagah karya Imam Jalaluddin Al-Suyuthi) dan kitab Idhahul Mubham (kitab Ilmu Mantiq karya Syaekh Ahmad Al-Damanhuri), bakda Asar mengaji kitab Ghayatul Wushul (kitab Ilmu ushul fiqh karya Syekh Zakariya Al-Anshari), dan bakda Isya mengaji kitab Fathul Wahhab (Kitab fikih karya Zakariya Al-Anshari). Kiai Mahrus mensyarahi sendiri atau membuat ta’liqat pada saat mengaji. Meskipun tidak khatam, mengaji pada Kiai Mahrus sangat berkesan.

Kiai Kaya yang Dermawan

Buya Said menceritakan bahwa Kiai Mahrus memiliki dua mobil, yaitu mobil Holden dan Peugeut. Banyak tamu yang mengasih bisyarah kepada beliau. Bahkan, saking banyaknya yang memberi bisyarah kepadanya, amplop-amplop dari tamu tersebut ditaruh di tempat sampah (tempat amplop yang terbuat dari tempat sampah?).

Kedermawanan Kiai Mahrus terlihat di antaranya ketika ada tamu yang kelihatannya tidak mampu (miskin), diberi uang oleh Kiai Mahrus.

Pernah suatu ketika Kiai Mahrus pergi ke kota Kediri dengan berjalan kaki membawa satu kardus rokok. Di perjalanan, setiap beliau bertemu dengan tukang becak, petani, orang miskin yang dilewatinya, diberi rokok olehnya sampai habis semuanya.

“Saat Kiai Mahrus pulang ke Gedongan, beliau bagi-bagi uang kepada saudara-saudaranya,” kata Buya Said mengenang kedermawanan Kiai Mahrus.

Kesaktian dan Karamah Kiai Mahrus

Buya Said menceritakan saat Kiai Mahrus masih menjadi santri atau pengurus pondok dan belum menjadi menantu K.H. Abdul Karim, beliau pernah keliling pondok. Saat itu Desa Lirboyo adalah pusatnya PKI kota Kediri. Saat sedang keliling pondok, beliau dibacok dengan golok dari belakang. Yang terjadi adalah keluar percikan api ketika golok tersebut mengenai kepala Kiai Mahrus.

Buya Said menceritakan lagi kisah lain tentang kesaktian Kiai Mahrus. Pernah ada orang gila yang galak dan tidak ada orang yang berani mendekatinya, tetapi ketika Kiai Mahrus bertemu dengan orang gila tersebut, beliau mengusap-usap kepalanya dan menjadi jinak.

Cerita lain yang Buya Said sampaikan adalah pada saat Kiai Mahrus akan dibunuh oleh anggota KKO (Korps Marinir AL). Hal ini disebabkan mertuanya adalah anggota PKI yang mati pada saat penumpasan PKI dan di antara kelompok yang menumpas PKI adalah santri Lirboyo. Pada saat tiba di pintu ndalem Kiai Mahrus dan beliau keluar, anggota KKO tersebut bertekuk lutut lemas di hadapan Kiai Mahrus.

Masih menurut cerita Buya Said, pernah Kiai Mahrus berangkat pengajian ke Gresik yang waktu itu belum ada jembatan di daerah Sedayu sehingga harus menaiki perahu beserta mobilnya. Tiba-tiba mobil yang dinaiki Kiai Mahrus tergelincir dan jatuh ke Sungai Bengawan Solo. Seketika, semua orang yang berada di perahu dan tepi sungai bingung. Mereka turun ke sungai untuk menyelamatkan Kiai Mahrus. Setelah mobilnya berhasil diangkat, ternyata Kiai Mahrus keluar dari pintu mobil dalam keadaan kering, tidak basah sedikit pun.

Lagi, di antara karamah Kiai Mahrus adalah pada saat sepupunya, Kiai Muhtarom (Uak Buya Said juga) datang dari Jakarta untuk bersilaturahmi dengan Kiai Mahrus. Begitu sampai di ndalem Kiai Mahrus dan bersalaman dengan Kiai mahrus lalu duduk, Kiai Mahrus menyuruh kakak sepupunya itu pulang lagi, “Kang Tarom, pulang sana, pulang.” Kiai Muhtarom pun bertanya, “Saya jauh-jauh dari Jakarta mau ketemu, mau ngobrol sama kamu, kok disuruh pulang, kenapa?” Kiai Mahrus pun menyegatnya, “Udah-udah, ini uang buat tiket bus pulang.” Akhirnya Kiai Muhtarom pun pulang padahal baru sampai. Ternyata, di tengah perjalanan, tepatnya di Terminal Semarang, Kiai Muhtarom wafat.

Hormat kepada K.H. Idris Kamali dan K.H. Ali Maksum     

Kiai Mahrus, kata Buya Said, kalau menerima tamu itu kakinya diangkat satu. Baik tamu tersebut Jendral Nasution, Kiai Wahab Hasbullah, maupun Kiai Bisri Mustofa, Kiai Mahrus menerimanya dengan gaya kaki diangkat ke atas kursi, kecuali kepada dua orang, Kiai Mahrus menerimanya dengan posisi duduk biasa (kaki diturunkan ke bawah), yaitu K.H. Idris Kamali dan K.H. Ali Maksum.

Pesan Kiai Mahrus

“Jangan ingin jadi pejabat, tapi kalau ditawari, tidak apa-apa,” kenang Buya Said pada pesan Kiai Mahrus untuk santri-santri yang mau boyong. Gaji pejabat itu uang syubhat (tidak jelas halal-haramnya), tidak 100% halal. Kamu cari ilmu jangan diniati cari jabatan,” lanjut Buya Said.

Kesan Buya Said

“Kiai Mahrus pada saya kadang ‘galak’, kadang loman (pemurah/dermawan), kadang memberi uang. Kalau saya tidak bisa ngaji, saya ditempeleng (ditampar). Pernah itu sekali ketika saya tidak bisa ngaji Mughni Labib.” Begitulah di antara kesan yang dirasakan oleh Buya Said terhadap Kiai Mahrus.

“Kiai Mahrus pada saat mengaji dan menerangkannya, beliau sangat bersemangat sampai berkeringat. Enak penjelasannya, apalagi kalau ngaji Fathul Wahhab & Ghayatul Wushul,” lanjut Buya Said.

“Kalau ngaji, Kiai Mahrus tidak membacakan kitabnya, santri yang membacakan, termasuk saya yang membacakan kitab Mughni Labib. Kalau tidak bisa ya dimarahi,” kenang Buya Said ketika mengaji kepada Kiai Mahrus.

“Semua orang segan kepada Kiai Mahrus. Entah itu pengurus NU, maupun pejabat, orang kaya. Dan sikapnya toleran sekali. Pemilik Gudang Garam itu dekat sekali dengan Kiai Mahrus. Pada saat meninggal, Kiai Mahrus datang melayat, padahal dia orang nonmuslim.”

“Kiai Mahrus sangat hormat pada istrinya, Bu Nyai Zaenab karena putri dari gurunya, K.H. Abdul Karim,” lanjut Buya.

“Ijazah yang sampai saat ini saya amalkan dari Kiai Mahrus adalah membaca selawat shallallah ‘ala Muhammad 100 kali setiap hari. Syukur-syukur setiap bakda maktubah, selesai salam, posisi duduk tidak berubah, baca selawat itu 100 kali. Dan satu lagi, ayat ‘Laqod jaa’akum…’ tujuh kali setiap bakda maktubah. Insyaallah rezekinya lancar terus dan selamat,” pungkas Buya Said mengenang guru sekaligus uaknya. Mari sejenak kita hadiahkan surat Al-Fatihah untuk K.H. Mahrus Aly, baik bagi yang punya nasab keilmuan atau tidak, sebagai rasa terima kasih, hormat takzim kepada seorang kiai besar. Lahu Al-Fatihah ….

 

*Persembahan seorang santri menyambut Haul Kiainya pada tanggal 6 Ramadan.

akromhalimi@gmail.com   Postingan Lainnya

Kepala Madrasah Aliyah (MA) Al-Tsaqafah, asal Cirebon, Jawa Barat. Santri Lirboyo. Sarjana Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.