Arti Sebuah Gelombang Ketenangan

ALTSAQAFAH.ID – Rembulan sempurna membulat di tengah langit gelap di atas sana. Cahaya yang dihasilkannya lembut meratakan seluruh kota, kebersamaan dengan bintang-gemintang yang sempurna menghiasi langit semesta, terang-redup, seperti lampu-lampu kecil yang disusun acak. Pada suatu tempat di penjuru dunia, tempat yang sederhana. Tempat itu tempat yang suci nan tenang.

Tepatnya setelah azan Magrib di depan teras rumah sang kiai terdengar sebuah nada berlantunkan ayat suci Al-Qur’an, “Bismillahir-rahmanir-rahim ….” Kalimat itu terucap begitu ringan, bernada. Selarik napas, satu per satu ayat suci itu terucap. Satu per satu ayat bagaikan air mengalir dengan nada yang sedikit-sedikit mencengkok, bergelombang bagai ombak air merambat di permukaan laut. Seperti sedang melihat pertunjukan.

Belum lama ketenangan itu berlangsung, beberapa menit yang tidak terduga, suara Rehan lama-lama bergetar. Entah mengapa, tiba-tiba bacaan yang kian lancar, kini malah salah-salah. Semakin bergetar suaranya, semakin ragu, semakin tidak lancar. Seperti ini lagi, padahal aku yakin dia dapat melakukannya dengan baik.

Beberapa menit, sampai akhirnya bacaan itu selesai, Rehan mulai menyerahkan buku mengajinya pada sosok di hadapannya, sang kiai. Ragu-ragu, sejenak gerakan Rehan terhenti oleh tangan beliau. “Saya ingin bertanya padamu, Nak,” ucap sang kiai dengan nada yang begitu berwibawa. Wajah Rehan semakin was-was, penasaran atas pertanyaan sang kiai. “Seberapa sering kamu berlatih mengaji di luar jam mengaji?” tanya sang kiai. Rehan menelan ludah, “Setiap hari di waktu senggang, Kiai.” Sang kiai terdiam, “Buku itu saya tidak tahu akan menulis apa di sana.” Kepala Rehan sedikit mendongak. Wajahnya semakin terlihat tidak enak hati, kecewa. “Saya berlatih hampir setiap waktu, Kiai. Kefokusan saya hanya pada mushaf. Jujur, saya juga sedang kebingungan dengan situasi yang saya alami, Kiai,” jawabnya. Sang kiai masih terdiam. “Saya akan menulis di buku itu, tapi dengan sebuah syarat,” ucap kiai.

Mata Rehan seketika membulat. Syarat? Apakah syarat itu? “Saya kan hanya memintamu mencari sepotong kalimat. Kesimpulan dari kegiatanmu, hikmah apa yang kau dapat setelah menjalani harimu, barangkali cara itu dapat membantumu semangat mengaji,” lanjut sang kiai dengan kalimatnya.

Rehan mendapat sebuah ketenangan hati begitu sang kiai rupanya tidak memarahinya, tetapi sang kiai justru tersenyum dengan tatapan teduh dan penuh arti. “Jangan lupa tetaplah mengaji esok hari, Nak.”

Sebenarnya, sudah ketiga kalinya peristiwa yang sama terjadi berturut-turut. Rehan yang kemarin-kemarin masih mampu mendapat tanda tangan, tetapi dengan catatan “kurang lancar”. Tadinya, Rehan tidak seperti ini. Sebaliknya, bacaannya bagus, tartil, selalu mendapat nilai A plus setiap penilaian semester. Namun, entahlah mengapa, kini Rehan sering kali mengaji dengan terbata-bata, tarikan napasnya tidak serileks dulu. Napasnya lebih ragu-ragu, tidak teratur. Kemanakah bacaan Rehan yang lalu merdu menenangkan hati? Tidak ada yang tahu. Aku pun tak kunjung memberi tahu.

◊◊◊

Ransel punggung berwarna abu terlihat gelantung di bahu Rehan. Sesekali, teman sekawan Rehan berpapasan dengannya. “Selalu rajin, Bro?” sapanya santai, Rehan hanya balas menyengir. Di kelas, pelajaran baru saja dimulai, ditandai dengan masuknya seorang ustaz ke dalam kelasnya. Ustaz Zainal, guru mata pelajaran tafsir, tak lama berkata kepada para santrinya. Meminta tugas yang telah diberikan minggu lau. Seketika, tak habis perkataan sang ustaz, ada yang merespons dengan murah hati, ada juga yang panik, teringat tugas minggu lalu belum dikerjakan.

Sementara Rehan tetap tenang. Tugasnya sudah dikerjakan sejak kemarin, Rehan segera meraih buku tulis di ranselnya. Satu menit, ia mencari-cari di setiap sudut isi ranselnya, tidak ada. Tunggu, mengapa tidak ada? Tak habis pikir, belum usai kebingungan Rehan, Ustaz Zainal kembali membanting meja. Berseru, berkata tentang hukuman yang akan diberikan bila tidak mengerjakan tugas. Rehan membuka kopiah, mengacak-acak rambutnya, riweh sendiri. Sial!

Di asrama, Rehan baru pulang dari masjid setelah belajar mengaji. Pintu kamar pun dibukanya, berganti di sisi dalam dengan suasana amat berisik. Teman-temannya tengah bergurau. Seketika suara itu mengganggu bagi Rehan. Kemudian, dia berkata agar mengecilkan suara mereka. Menegur. “Bergabung, Bro.Terakhir kali kau bergabung setelah mendapat guru ngaji pak kiai,” sahut salah satu teman Rehan. “Ya, kau tak pernah lagi ikut bercanda bersama kami,” yang lain menimpali. Suasana kembali gaduh dengan seruan sana sini, saling bersahutan. Kata-kata itu pun membuat Rehan marah. Jelas-jelas dia memang harus giat berlatih jika ingin mencapai yang terbaik. Tak penting bergabung setiap kali ada di kamar, mereka hanya membuang waktunya. Ini bukan dukungan yang baik bagi sesama kawan. Rehan kembali melangkah keluar kamar setelah berseru pada mereka. Membanting pintu. Berada di kamar hanya akan selalu merusak suasana hatinya.

◊◊◊

Teras rumah kiai kembali dipenuhi suara bergema para santri menghafal senantiasa melantunkan ayat suci. Setiap santri tengah bergiliran maju untuk menyetorkan hafalan masing-masing. Saat ini adalah giliran Rehan yang akan menyetor hafalan. Saat ini, dirinya kembali percaya bahwa akan melaksanakan dengan baik.

Ilustrasi para santri sedang menghafalkan Al-Qur’an

Namun, alih-alih bersuara merdu, Rehan mendadak tidak bisa mengingat ayat yang dihafal. Entah karena kikuk atau apalah, yang jelas Rehan kembali melakukannya dengan tidak begitu baik hari ini. Satu menit, Rehan masih belum mengingat ayat berikutnya. Beberapa saat, kembali teringat, sambung lagi ayat berikutnya, lagi-lagi lupa. Seperti itulah seterusnya.

Rehan akhirnya selesai menyetor hafalannya. Gerakan Rehan untuk menyerahkan buku mengajinya sedikit diurungkan, ragu-ragu. Khawatir akan respons sang kiai. Sang kiai tersenyum menatap Rehan “Bagaimana pertanyaannya, Nak? Sudah dapat jawaban?” tanya sang kiai.

Rehan menelan ludah, betapa lupanya dia soal pertanyaan itu. Pikirannya, untuk mengaji dengan cepat selesai dan melaksanakan dengan baik adalah suatu hal yang harus dilakukan segera agar urusan cepat selesai, sebaik-baiknya suasana pun lega, itu adalah poin yang memang kewajiban para santri. Di samping itu semua, ayolah siapa yang mengira semakin ribut urusannya ini? Bagi Rehan, ini sudah cukup melelahkan untuk membuatnya sibuk, sebagian besar hari dia habiskan hanya untuk mengaji.

Sampai akhirnya, azan Isya terdengar berkumandang. Suara yang sempurna menenangkan hati. Rehan pun mulai melaksanakan salat Isya.

◊◊◊

Jamaah isya telah usai, semua santri mulai berlarian keluar. Rehan yang masih di dalam masjid tidak kunjung beranjak berdiri untuk keluar pintu. Rehan berdiam cukup lama, sampai akhirnya Rehan beranjak dari duduk, mengambil sesuatu yang tak jauh darinya. Suasana masjid memang sangat tenang malam ini. Perlahan-lahan mulut itu telah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Menimbulkan gema suara yang membuat nada itu semakin halus didengar. Walaupun nada suaranya sudah stabil, isinya tidak ada. Maksudnya, tak ada satu pun yang diingat, lancar? Tidak sama sekali. Padahal Rehan telah berlatih paling giat di antara temannya.

Tes!

Oh, apa ini yang basah? Mata Rehan kian sembap. Lama-lama semakin deras saja, lantas buru-buru menghapusnya. Situasi yang janggal untuk seorang Rehan. Apa yang telah terjadi?

“Mulutmu bau”

Seketika wajah Rehan melotot, hampir saja menjatuhkan mushafnya sendiri. “Kau … Mushaf? Bicara?” tanya Rehan bingung. “Janganlah bertanya apa-apa. Kuberi tahu padamu, Rehan. Kau salah karena membaca mushaf tanpa mulut bersih. Kau salah karena hari ini kau menghancurkan harimu sendiri. Oh, rasanya ingin kuberi tahu segalanya,” mushaf menjelaskan, Rehan tidak terima.

“Apa maksudnya?”

“Ibaratkan sesuatu seperti batu yang dilempar dalam kolam. Jika kita dengan kasar melemparnya ke dalam air kolam, gelombang itu semakin menyebar, cipratan itu sangat besar hingga berdampak untuk sekitarnya. Namun jika dari awal batu itu dilempar pelan, pelanlah juga gelombang yang dihasilkan. Boleh jadi terlihat seperti gelombang ketenangan. Ikan-ikan menyukai gelombang pelan itu. Sama halnya pada dirimu Rehan, ini soal suasana hati, kontrol diri. Emosimu tak pernah lebih stabil dari setiap hal kecil yang menimpamu. Hujan deras kemarin, kau jadi tidak bisa berangkat mengaji, kau marah akan hal itu. Marah pada siapa? Lantas kau akan menyalahkan Tuhan? Tidakkah engkau lupa Rehan? Membaca Al-Qur’an harus dimulai dengan ketenangan yang berasal dari dalam hati diri sendiri. Dari mana datangnya hari sial? Kau bahkan tak pernah menyadari hal baik apa yang timbul dari kejadian-kejadian sialmu. Suasana hatimu telanjur jelek. Tidak bisa bersyukur jadinya. Setidaknya, hari buruk tak seluruhnya buruk,” jelas mushaf padanya.

Rehan terdiam, aku tahu pikirannya bukan soal mempertanyakan situasi seputar mushafnya yang bisa bicara ataupun situasi macam apa pun. Aku tahu yang mempertanyakan diri Rehan selama ini adalah dirinya yang kebingungan, mengapa suasana hatinya sangat tidak nyaman sejak kemarin?

Tak sedikit orang yang mengalami hal seperti ini dalam hidupnya. Salah satunya adalah kawanku ini. Rehan tidak perlu tahu, betapa dia terlihat sangat terobsesi pada mengaji. Niatnya memang mulia sekali, tetapi tak semua tindakan bisa dibenarkan. Cara Rehan yang salah, jadinya pun salah. Inilah kekeliruan Rehan selama ini. Pentingnya ketenangan hati.

Apakah sudah cukup untuk menjawab pertanyaan sang kiai?

Rehan tersenyum. Pada malam hari itu, malam bulan Ramadan, Rehan akhirnya dapat mengaji dengan baik seperti biasanya. Sang kiai terlihat tersenyum dengan mata redupnya. Satu untuk Rehan, satu untuk dilirik kepada sang Al-Qur’an.

 

*Karya Nashwa Nukhbah (Kelas 10 IPS 2)

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya