Setiap hari, para pendidik berdiri di hadapan anak-anak negeri.
Dengan suara yang mungkin sederhana, mereka mengajarkan tentang cinta kasih.
Dengan kesabaran, mereka mengenalkan sejarah.
Dengan ketulusan, mereka menanamkan nilai-nilai kebangsaan.
Mereka mengajarkan bahwa negeri ini dibangun dengan pengorbanan.
Bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah.
Bahwa di balik merah putih, ada darah yang tumpah.
Ada air mata yang jatuh.
Ada nyawa yang dikorbankan.
Anak-anak dituntun untuk mengenal para pahlawan, menghormati leluhur, mencintai keberagaman, menghargai perbedaan, menaati aturan, menjaga persatuan, dan memahami bahwa NKRI adalah harga mati.
Mereka diajarkan untuk mencintai negeri ini bahkan ketika suatu hari nanti mereka harus mengorbankan dirinya demi tanah air.
Dan semua itu diajarkan dengan ketulusan.
Dengan pengorbanan yang tidak selalu terlihat.
Dengan waktu yang sering kali tidak dihitung.
Dengan tenaga yang tidak selalu dihargai.
Dengan harapan sederhana: Semoga anak-anak ini tumbuh menjadi manusia yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Namun, setelah semua nilai itu ditanamkan, muncul satu pertanyaan yang begitu menyakitkan: “Apa yang mereka lihat ketika keluar dari ruang kelas?”
Mereka diajarkan kejujuran, tetapi menyaksikan ketidakjujuran.
Mereka diajarkan tanggung jawab, tetapi melihat kekuasaan yang seolah dapat menghindari tanggung jawab.
Mereka diajarkan persatuan, tetapi menyaksikan perpecahan.
Mereka diajarkan cinta kasih, tetapi melihat pertikaian yang tidak kunjung selesai.
Mereka diajarkan untuk mengutamakan kepentingan bangsa, tetapi justru disuguhi perebutan kepentingan.
Lalu, kita bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian kehilangan kepercayaan?”
Tidakkah kita sadar bahwa terkadang bukan anak-anak yang gagal memahami pelajaran?
Mungkin kitalah yang gagal memberikan contoh.
Sebab pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas.
Anak-anak belajar dari buku, tetapi mereka juga belajar dari perilaku para pemimpinnya.
Mereka mendengar nasihat guru, tetapi mereka juga membaca berita.
Mereka menghafal nilai-nilai Pancasila, tetapi mereka melihat bagaimana nilai itu dipraktikkan.
Mereka belajar tentang keteladanan, tetapi kemudian mencari teladan di dunia nyata dan menemukan begitu banyak kekecewaan.
Di sinilah luka itu bermula.
Guru menanamkan benih cinta kepada negeri.
Namun, negeri justru memperlihatkan alasan bagi mereka untuk mempertanyakannya.
Guru mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah.
Namun, mereka menyaksikan kekuasaan diperebutkan dengan segala cara.
Guru mengajarkan bahwa jabatan adalah tanggung jawab.
Namun, mereka melihat jabatan terkadang lebih sibuk dipertahankan daripada dipertanggungjawabkan.
Guru mengajarkan bahwa bangsa ini harus saling menjaga.
Namun, mereka melihat orang-orang yang seharusnya menjadi teladan justru saling menjatuhkan.
Lalu, apa yang sebenarnya sedang kita ajarkan kepada generasi ini?
Apakah kita sedang membangun generasi yang mencintai negeri?
Ataukah tanpa sadar kita sedang membangun generasi yang pandai mengucapkan cinta kepada negeri, tetapi tidak lagi percaya kepada orang-orang yang menjalankannya?
Jangan salahkan generasi muda jika suatu hari mereka bertanya: “Mengapa kami harus mencintai negeri ini, jika orang-orang yang diberi amanah untuk menjaganya justru tidak menunjukkan rasa cinta yang sama?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.
Tetapi sesungguhnya, itu adalah jeritan sebuah generasi.
Generasi yang sedang mencari arah.
Generasi yang sedang mencari alasan untuk percaya.
Generasi yang membutuhkan teladan, bukan sekadar slogan.
Sebab bangsa tidak akan besar hanya karena anak-anaknya pandai menghafal sejarah.
Bangsa tidak akan kuat hanya karena mereka hafal Pancasila.
Bangsa tidak akan bermartabat hanya karena mereka mampu mengucapkan “NKRI harga mati.”
Sebab nilai-nilai itu baru memiliki makna ketika orang-orang yang memegang kekuasaan juga bersedia hidup di dalamnya.
Keteladanan adalah bahasa pendidikan yang paling mudah dipahami oleh anak-anak.
Guru boleh berbicara berjam-jam tentang kejujuran, tetapi satu keteladanan akan jauh lebih kuat daripada seribu kata.
Guru boleh mengajarkan cinta kasih setiap hari, tetapi satu perilaku penuh kasih dari seorang pemimpin akan lebih membekas dalam ingatan mereka.
Maka jangan biarkan para pendidik berjuang sendirian.
Jangan biarkan guru menanamkan nilai-nilai luhur, sementara kehidupan bangsa justru mencabutnya kembali.
Jangan biarkan anak-anak belajar mencintai negeri dari buku, tetapi belajar kecewa kepada negeri dari kenyataan.
Karena pada akhirnya, pendidikan dan keteladanan tidak boleh berjalan di dua jalan yang berbeda.
Guru telah menanamkan cinta.
Kini, para pemimpin harus menunjukkan bahwa cinta itu layak dipertahankan.
Guru telah mengajarkan pengorbanan.
Kini, mereka yang memegang amanah harus menunjukkan bahwa jabatan bukanlah tempat untuk mencari keuntungan, melainkan ruang untuk mengabdi.
Guru telah mengajarkan anak-anak untuk mencintai Indonesia.
Maka jangan paksa anak-anak mempertanyakan kembali arti cinta itu.
Sebab ketika seorang anak kehilangan kepercayaan kepada negerinya, yang hilang bukan hanya sebuah keyakinan. Yang perlahan-lahan mati adalah harapan.
Dan ketika harapan sebuah generasi mulai mati, maka sesungguhnya, negeri sedang kehilangan masa depannya.
Jangan sampai Indonesia menangis bukan karena kekurangan orang-orang yang mencintainya, tetapi karena terlalu banyak orang yang mengaku mencintainya tanpa benar-benar menjaganya.
Sebab negeri ini tidak hanya membutuhkan generasi yang mencintai Indonesia.
Negeri ini membutuhkan para pemimpin yang pantas dicintai oleh generasinya.
Guru Pendidikan Pancasila PPL Al-Tsaqafah. Suka memandang, tapi tidak ingin dipandang.


