ALTSAQAFAH.ID – Sudah 96 tahun sejak Nahdlatul Ulama didirikan, bahkan menurut kalender Hijriah, Nahdlatul Ulama hampir memasuki usia satu abad. Harlah kali ini pun menjadi lebih berwarna dengan adanya ketua umum serta penetapan pengurus baru Nahdlatul Ulama.
Begitu banyak kontribusi Nahdlatul Ulama bagi bangsa ini. Karena harlah kali ini berdekatan dengan hari perayaan Imlek, saya ingin menyinggung sedikit kontribusi salah satu sosok nahdliyin kepada warga Tionghoa.
Sebelum tahun 2000, warga Tionghoa merayakan Imlek secara sembunyi-sembunyi. Alasannya karena pemerintah menganggap Beijing memiliki andil dalam peristiwa G30S/PKI. Puncak kebencian dan sentimen anti-Cina masyarakat Indonesia terhadap warga Tionghoa terjadi saat kerusuhan 1998. Kala itu, tidak ada tempat yang benar-benar aman bagi warga Tionghoa, baik dari pemerintah ataupun masyarakat.
Maka dari itu, Gus Dur melalui Keppres No. 6 tahun 2000 menyatakan, “Presiden Republik Indonesia menimbang bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat istiadat, pada hakikatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari hak asasi manusia.” Gus Dur secara resmi menjadikan hari raya Imlek sebagai libur fakultatif ataupun libur bagi yang merayakan. Pada era Megawati barulah hari raya Imlek dijadikan sebagai hari libur nasional pada 2002.
Gus Dur sebagai presiden yang sebelumnya pernah memimpin NU mengerti betul apa yang harus dilakukan seorang pemimpin, baik pemimpin umat Islam (nahdliyin) maupun bangsa Indonesia secara keseluruhan. Guru saya menyebut sosok seperti ini sebagai ulama nasionalis. Ulama yang mengamalkan ilmu agamanya untuk memecahkan masalah-maslah sosial, demi kesatuan dan persatuan.
Saya hanya ingin menyampaikan, kita harus bisa menjadi sosok Gus Dur berikutnya. Bukan berarti meniru gaya hidup beliau secara mutlak, tetapi cara beliau memberi perhatian dan tenaga besar terhadap permasalahan-permasalahan sosial. Ketika seseorang berniat dengan tulus untuk mengabdi kepada masyarakat dan bangsa, jabatan pun tidak akan menggoyahkan idealisme sosok tersebut. Itulah mengapa sosok beliau begitu disegani.
Semoga harlah NU kali ini membangun semangat para pengurus baru yang akan berkontribusi penuh dalam pengabdian kepada bangsa sehingga menjadi inspirasi dunia, sesuai dengan tema harlah sekaligus visi kali ini: “Merawat Jagat, Membangun Peradaban.”
Penulis: Ali Akbar Kamil, Alumnus Al-Tsaqafah, Mahasiswa KPI UIN Syarif Hidayatullah

