Keris Warisan Nenek Moyang dan Fungsinya bagi Masyarakat

ALTSAQAFAH.ID – Keris merupakan salah satu benda pusaka dan kekayaan budaya Indonesia yang masih lestari hingga saat ini. UNESCO menetapkan keris sebagai warisan budaya dunia pada 25 November 2005 di Paris.

Bentuknya khas, memiliki ujung yang lancip dan tajam, semakin lebar ke arah pangkal. Keris di setiap daerah memiliki keunikan dalam bentuk, fungsi, teknik garapan, maupun istilahnya. Selain keunikannya, keris memiliki sejarah panjang, falsafah, nilai seni, hingga bermuatan mistik yang dipercaya memiliki kekuatan di dalamnya.

Pada Prasasti Tuk Mas atau Prasasti Dakawu yang ditemukan di Desa Dakawu, Grabag, Magelang, Jawa Tengah, senjata mirip keris tercatat telah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak abad kelima. Di prasasti tersebut terdapat gambar relief peralatan besi. Dari keterangan yang didapat dari tulisan aksara Pallawa dengan bahasa Sansekerta, prasasti tersebut dibuat sekitar tahun 500 M.

Prasasti Tuk Mas menggambarkan mata air yang bersih dan jernih. Namun, di sana juga terdapat gambar trisula, kapak, sabit, kudi, dan belati atau pisau yang bentuknya mirip dengan keris.

Prasasti Karangtengah pada 824 Masehi menyebutkan kata “keris” dalam suatu daftar peralatan. Dalam Prasasti Poh 904 Masehi, menyebut keris berfungsi untuk sesaji penyembahan.

Prototipe keris juga ditemukan di beberapa candi, seperti di Candi Borobudur abad ke-8 dan Candi Prambanan abad ke-9. Pada kedua candi tersebut ditemukan relief berupa senjata mirip keris, secara umum bentuknya memang berbeda dari desain keris saat ini. Pada relief kedua candi itu keris masih tampak berbentuk tegak.

Relief keris mulai tampak pada Candi Penataran, Nglegok, Blitar, Jawa Timur. Candi ini diperkirakan dibangun pada awal abad 12 M yang didasarkan pada berbagai angka tahun yang tertulis pada berbagai tempat di Candi Penataran yang berkisar antara tahun 1197 M sampai tahun 1454 M.

Relief berbentuk keris juga ditemukan di Candi Sukuh Jawa Tengah. Candi berlatar belakang Hindu yang diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-15 M. Relief ini menggambarkan suasana padepokan pembuat keris, panil candrasengkala yang divisualkan dalam bentuk pembuatan keris. Pada dinding padepokan tampak beberapa senjata, di antaranya keris. Penggambaran keris di Candi Sukuh ini diperkirakan dibangun pada tahun 1437 M, menunjukkan bahwa keris sudah menjadi bagian penting dari masyarakat Jawa.

Fungsi Keris bagi Masyarakat

Keris terus digunakan sampai pada zaman kerajaan di Indonesia. Penggunaan keris semakin berkembang hingga saat ini. Ada beberapa fungsi keris bagi masyarakat yang dirangkum ALTSAQAFAH.ID dari berbagai sumber.

Pertama, keris digunakan sebagai senjata tradisional. Di zaman kerajaan, setiap prajurit membawa keris yang diselipkan di pinggang. Bisa kita jumpai keris bisa pada kisah Ken Arok, Amangkurat II, dan lain-lain.

Keris juga digunakan oleh para pahlawan, seperti Imam Bonjol, Hasanudin, Pangeran Diponegoro, dan sebagainya.

Kedua, keris sebagai benda pusaka warisan nenek moyang. Biasanya keris diwariskan secara turun-temurun dan dirawat dengan sangat hati-hati. Ada juga keris yang disimpan di museum-museum.

Ketiga, keris sebagai lambang atau simbol. Simbol ini menjadi legitimasi identitas, kekuasaan, kewibawaan, dan falsafah masyarakat Jawa.

Keempat, keris sebagai jimat, dapat menjaga dan membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Setiap keris diyakini memiliki kekuatan yang beragam, misalnya untuk pengobatan, pengasihan, pelindung diri, terhindar dari wabah penyakit, dan sebagainya.

Kelima, keris sebagai alat perlengkapan dalam berbagai aktivitas, misalnya upacara bersih-bersih desa, ruwatan, pertunjukan wayang, perlengkapan pakaian adat, dan sebagainya.

Terakhir, keris sebagai benda seni. Dilihat dari bentuk, teknik pembuatan, bahan-bahan yang digunakan, dan cara merawatnya, keris kaya akan imajinasi dan intuisi.

Keris saat ini telah menyebar di berbagai wilayah di Indonesia dan mancanegara, keris bisa kita jumpai di museum-museum keris.

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya