Mengapa Kartini Menjadi Simbol Perjuangan Perempuan Indonesia?

ALTSAQAFAH.ID – Seragam mbak-mbak sebuah miniswalayan di bagian kasir terlihat berbeda hari itu. Dia menggunakan kebaya warna hitam. Aku pun bertanya-tanya, apakah miniswalayan di Jakarta Selatan memiliki pelayanan yang berbeda?

Aku sadar, hari itu adalah 21 April. Hari kelahiran Raden Ayu Kartini. Seorang tokoh pahlawan nasional yang hari kelahirannya diperingati sebagai hari nasional.

Aku pun mengecek status di Instagram dan WhatsApp. Sorotan cerita di layar ponsel pintarku penuh dengan pamflet, “Selamat Hari Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang.” Sebenarnya apa yang orang-orang rayakan pada hari itu?

Aku jadi penasaran tentang sosok Kartini dan pemikirannya. Dalam situs Wikipedia disebutkan R.A. Kartini adalah perempuan bangsawan pejuang hak wanita. Istilah kerennya, Kartini melakukan emansipasi; memperjuangkan hak-hak wanita agar terbebas dari status sosial-ekonomi yang rendah atau pengekangan hukum sehingga membatasi kaum perempuan untuk maju dan berkembang. Kaum perempuan yang bisa sejajar dengan kaum lelaki, bukan hanya sebagai subordinat. Dalam hal ini, Kartini memperjuangkan hak perempuan agar bisa merasakan manisnya bangku sekolah.

Sebenarnya tidak hanya Kartini yang memperjuangkan pendidikan perempuan. Di Provinsi Aceh, sosok bernama Malahayati pun ikut serta dalam memperjuangkan pendidikan perempuan dengan mendirikan sekolah Malahayati. Akan tetapi, mengapa orang-orang mengenal Kartini sebagai tokoh pejuang hak wanita dan bukannya Malahayati?

Pertanyaan itu terjawab karena Kartini memiliki kegemaran menulis. Kartini menulis surat-surat yang berisikan keresahannya terhadap kondisi sosial saat itu serta solusi-solusi berupa pemikirannya. Salah satu tulisannya kini menjadi sebuah karya abadi, Habis Gelap Terbitlah Terang. Kita bisa menemukan pemikiran yang tertuang di surat-surat Kartini di antaranya Zelf-ontwikkeling (pengembangan diri), Zelf-onddericht (pengajaran diri), Zelf-vertrouwen (kepercayaan diri), Zelf-Werkzaamheid (efikasi diri), dan Solidariteit (solidaritas) atas dasar Religieusiteit (ketuhanan), Wijsheid (kebijaksanaan), dan Schoonheid (keindahan).

Jika kawan-kawan perhatikan ide-ide dan cita-cita Kartini, perubahan berskala sosial harus dimulai dari pengembangan individual. Individu yang sudah melatih potensi diri sedimikian rupa kelak bisa mengubah nasib suatu bangsa.

Selain semangat belajar yang tinggi disertai dengan bacaan yang banyak, Kartini sangat peduli dan peka terhadap lingkungan sosialnya sehingga hal itu membangkitkan semangatnya untuk melawan sistem sosial saat itu serta memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan.

Saya yakin, di dalam setiap perempuan terdapat sosok Kartini, sosok pejuang cita-cita yang tinggi. Hanya saja, setiap Kartini masa kini memiliki visi dan misi yang berbeda. Tugas kita adalah menggali potensi diri agar suatu saat nanti bisa berdedikasi untuk negeri.

 

 

 

Penulis: Ali Akbar Kamil, Alumnus Al-Tsaqafah, Mahasiswa KPI UIN Syarif Hidayatullah

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya