ALTSAQAFAH.ID – Sahabat merupakan orang yang istimewa karena diberi kesempatan hidup satu masa dan bertemu langsung dengan Rasulullah saw. Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama mengenai pengertian sahabat, pendapat yang masyhur mengatakan, “Sahabat adalah orang Islam yang bertemu Rasulullah saw., beriman dengan beliau, dan meninggal dalam keadaan mukmin.”
Dalam ranah periwayatan hadis, ulama sepakat bahwa predikat sahabat sebagai orang yang adil (memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni), adil diketahui menjadi salah satu syarat diterimanya suatu hadis. Tidak adanya verifikasi mengenai keadilan sahabat, menurut Imam al-Haramain al-Juwainy, “Karena para sahabat menjadi pembawa syariat, penyambung ajaran Islam dari Rasulullah saw. kepada umat Islam setelahnya. Jika saja periwayatan hadis berhenti pada mereka, syariat Islam hanya akan bertahan pada masa Rasulullah saw. Oleh karena itu, berkat para sahabat syariat Islam dapat sampai kepada kita sekarang ini.”
Pada masa awal ajaran Islam dibawa oleh Rasulullah saw., hanya beberapa orang yang percaya kepada beliau dan masuk Islam. Menurut Ibnu Shalah yang dinukil oleh al-Suyuthi (w. 911 H) dalam kitabnya Tadrib Al-Rawi mengatakan bahwa dari kalangan laki-laki yang pertama masuk Islam adalah Abu Bakar ra. (w. 13 H), dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib ra. (w. 40 H), dari kalangan perempuan adalah Khadijah ra. (w. 10 kenabian), dari kalangan hamba sahaya adalah Zaid bin Haritsah, dan dari kalangan budak adalah Bilal bin Rabbah.
Seiring dengan penyebaran agama Islam yang semakin luas, sahabat nabi semakin bertambah. Jumlah sahabat yang tercatat oleh sejarah sekitar 114.000 orang. Dengan kecerdasan intelektual yang kuat, para sahabat dapat menghafal dan merekam segala tentang Rasulullah saw. Meliputi sabda, ibadah, amalan, kebiasaan, sikap, sampai karakteristik fisik beliau sehingga peran sahabat ini sangat penting dalam periwayatan hadis-hadis Rasulullah saw.
Ada enam peringkat teratas yang paling banyak meriwayatkan hadis, yaitu pertama, Abu Hurairah ra. (w. 59 H) meriwayatkan sebanyak 5374 hadis. Disusul dengan Abdullah bin Umar ra. (w. 73 H) meriwayatkan sebanyak 2630 hadis, Anas bin Malik ra. (w. 93 H) meriwayatkan sebanyak 2286 hadis, Aisyah ra. (w. 58 H) meriwayatkan sebanyak 2210 hadis, Abdullah bin Abbas (w. 68 H) meriwayatkan sebanyak 1660 hadis, dan Jabir bin Abdillah (w. 78 H) meriwayatkan sebanyak 1540 hadis.
Sebaliknya, ada sahabat-sahabat yang hanya meriwayatkan satu hadis, di antaranya Ubay bin Ammarah al-Madani. Menurut al-Mizzi, beliau hanya meriwayatkan satu hadis, yaitu tentang mengusap Khuff. Abi al-Lahm al-Ghifari, beliau hanya meriwayatkan satu hadis tentang istisqa’. Selain itu adalah Ahmar bin Juz’ al-Bashri, Adra’ al-Sulami, Basyir bin Jahhasy al-Qurasyi, Hadrad bin Abi Hadrad al-Sulami, dan Rabi’an bin Amir bin alhad al-Azdi.
Kekhususan sahabat yang bernama Abdullah. Ada sekitar 220 sahabat yang bernama Abdullah, tetapi ada sahabat yang secara khusus diberi julukan “’Abadilah”. Diberi nama ‘Abadilah karena mereka merupakan sahabat-sahabat Nabi saw. yang tergolong akhir wafatnya dan sangat dibutuhkan perannya oleh para sahabat dan tabiin lainnya sehingga ketika mereka berkumpul untuk memberikan suatu fatwa, pasti dikatakan, “Fatwa ini dari ‘Abadilah.” Yang dimaksud ‘Abadilah tersebut adalah Abdullah bin Umar (w. 73 H), Abdullah bin Abbas (w. 68 H), Abdullah bin Amr bin al-Ash (w. 63 H), dan Abdullah bin Zubair (w. 94 H).
Tingkatan sahabat ada 12, yaitu tingkatan pertama, sahabat yang pertama masuk Islam di Makkah yang dikenal dengan al-sabiqun al-awwalun termasuk di dalamnya adalah khulafaurasyidin. Kedua, sahabat dar al-nadwah (tempat pertemuan bagi orang Quraisy sebelum dan masa awal Islam). Ketiga, sahabat yang turut berhijrah ke Habasyah. Keempat, ashabul aqabah al-ula, yaitu sahabat yang berbaiat kepada Nabi saw. di Bukit Aqabah I yang terjadi pada tahun ke-12 kenabian. Kelima, ashabul aqabah al-tsaniyah, yaitu sahabat yang berbaiat kepada Nabi saw. di Bukit Aqabah II yang terjadi pada tahun ke-13 kenabian. Keenam, sahabat muhajirin pertama yang sampai ke Quba’ sebelum masuk Madinah. Ketujuh, sahabat yang turut serta dalam Perang Badar yang terjadi pada tahun kedua hijriah. Kedelapan, sahabat yang berhijrah antara Perang Badar dan Perjanjian Hudaibiah. Kesembilan, sahabat yang terlibat peristiwa Baiat Al-Ridwan. Kesepuluh, sahabat yang berhijrah antara peristiwa Perjanjian Hudaibiah dan Fathu Makkah. Kesebelas, orang-orang Islam yang terlibat peristiwa Fathu Makkah (tahun 8 H). Keduabelas, sahabat kecil yang menyaksikan Fathu Makkah pada haji wadak yang terjadi pada tahun ke-10 H.
Keistimewaan lain yang diberikan pada sahabat nabi adalah sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (al-asyrah al-mubasysyarun bi al-jannah), yaitu Abu Bakar (w. 13 H), Umar bin al-Khattab (w. 23 H), Ustman bin Affan (w. 35 H), Ali bin Abi Thalib (w. 40 H), Sa’ad bin Abi Waqqash (w. 55 H), Sa’id bin Zaid (w. 51 H), Thalhah bin Ubaidillah (w. 36 H), Zubair bin Awwam (w. 36 H), Abdurrahman bin Auf (w. 32 H), dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah (w. 15 H).
Dua sahabat yang hidup 60 tahun pada masa jahiliah dan 60 tahun pada masa awal Islam dan keduanya meninggal di Madinah pada tahun 54 H, yaitu Hakim bin Hizam bin Khuwailid dan Hassan bin Tsabit bin al-Mundzir.
Para sahabat menyebarkan Islam ke berbagai daerah hingga pada akhir abad I hijriah banyak sahabat yang meninggal. Di antaranya sahabat yang terakhir meninggal di Makkah adalah Abu al-Tufail (w. 100 H), di Bashrah ada Anas bin Malik (w. 93 H), di Madinah ada Sahl bin Sa’ad al-Anshari (W. 88 H), di Kufah ada Abdullah bin Abi Aufa (w. 86 H), di Syam ada Abdullah bin Busr al-Mazini (w. 88 H), di Mesir ada Abdullah bin Harits (w. 86 H), dan di Yamamah ada al-Harmas bin Ziyad al-Bahili (w. 102 H).
Demikian sejumlah sahabat Nabi saw. dan keistimewaannya. Mengenal sahabat serta status dan tahun wafatnya merupakan hal penting dalam dunia Islam karena dapat digunakan untuk mengidentifikasi keautentisitasan suatu hadis yang diriwayatkan oleh mereka serta menambah kecintaan kita kepada mereka. Wallahu a’lam.
Editor: Senja Bagus Ananda
Pengajar Ilmu Hadis, Sarjana Ilmu Keperawatan (Profesi Ners) UIN Syarif Hidayatullah

