Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, mengingatkan para wisudawan angkatan ke-XI untuk tidak cepat berpuas diri dengan kelulusan di tingkat madrasah. Pesan tersebut disampaikan secara langsung pada “Wisuda dan Kelulusan Santri Angkatan ke-XI”, Sabtu (23/05/2026).
Kiai Said memberikan dorongan kuat agar para lulusan segera merencanakan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
”Teruskan, jangan berhenti, lanjutkan pendidikan. Terserah, mau jurusan agama, mau jurusan apa. Silakan, asal terus,” pesannya di hadapan para santri dan wali santri.
Beliau kemudian memberikan wejangan mengenai tahapan psikologis seseorang dalam menuntut ilmu. Kepuasan semu sering kali muncul pada tahap awal pendidikan tinggi. Namun, kesombongan tersebut akan luntur seiring bertambahnya kedalaman ilmu yang dipelajari.
”Kalau masih tamat Madrasah Aliyah, masih tanggung. Masih jauh. Tamat Aliyah, tanggung. Tamat S1, sombong. Dikira paling pinter. Eh, begitu S2, ternyata yang pinter selain saya itu banyak. Kalau S3, ternyata yang paling bodoh itu saya,” ungkap Kiai Said.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, ia mencontohkan spesialisasi keilmuannya sendiri. Meskipun memiliki gelar doktor di bidang filsafat tasawuf, ia mengaku tidak menguasai keilmuan lain secara mendalam, seperti ilmu nasab yang dikuasai Kiai Imad atau ilmu fikih yang didalami Gus Baha.
”Ternyata setelah S3, saya paling bodoh. Yang saya tidak tahu lebih banyak dari yang saya tahu. Walhasil, ilmu Allah itu tidak ada batasnya. Yang diberikan ke kita hanya sedikitnya sedikit,” pungkasnya.
Tausiyah dari Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah ini menjadi bekal kerendahan hati yang sangat berharga bagi para wisudawan angkatan ke-XI. Di sela-sela tausiyahnya, Kiai Said juga mendoakan agar santri yang telah menyelesaikan pendidikan di Al-Tsaqafah senantiasa dianugerahi kecerdasan yang maksimal dan keberkahan hidup.

