ALTSAQAFAH.ID – Salah satu kelatahan bangsa kita di era digital ini adalah meng-copas, menirukan, mengulang, dan membagikan hal-hal yang dianggapnya bagus, indah, berisi, dan keren. Penulis sebutkan contohnya, seperti kata-kata bijak yang mengandung pesan moral, inspirasi, atau motivasi yang lebih populer dengan istilah quote.
Siapa pun orangnya, mudah untuk menyebarkan, membagikan, dan mengepos quote yang bagus. Tidak peduli latar belakangnya, entah berprofesi sebagai guru, dosen, santri, pelajar, mahasiswa, atau kalangan cerdik cendekia lainnya, bahkan seorang penjual es teh pun bisa melakukan itu.
Ambil salah satu quote yang penulis yakin hampir semua peselancar medsos mengetahuinya karena sering berseliweran di beranda medsosnya: “al-Adab fauqal Ilmi”, “adab di atas ilmu”, “adab dulu baru ilmu”, dan kalimat-kalimat yang semakna. Bagi para orang tua baru, yang sedang asyik-asyiknya menemani tumbuh kembang anaknya, sering menyitir quote: “Didiklah anakmu sesuai zamannya”. Tidak peduli siapakah yang membuat quote-quote itu, tidak peduli apa yang dimaksud pembuat quote-quote itu, pokoknya yang penting bagus, baik, memiliki pesan moral, langsung di-posting ulang, dijadikan status, dijadikan senjata di kolom komentar, dan bila perlu dibuatkan meme yang lucu, tetapi menyentuh.
Latahnya netizen itu hampir menyamai konsep berpikirnya ahli zhahir (Mazhab Zhahiriyyah) yang memahami teks hanya dari zhahir teks semata. “Adab di atas ilmu” ya sudah begitu saja pemahamannya, berakhlak dahulu baru berilmu atau pemahaman dangkal yang semakna. “Didiklah anakmu sesuai zamannya” akan dipahami mendidik anak dengan apa yang ada sekarang, dengan gadget dan alat-alat kekinian. Apakah ada proses rethinking, pembacaan ulang, dan pemahaman baru atas quote-quote yang beredar di medsos? Mayoritas hanya mengamini, tanpa direnungkan. Hanya posting ulang, tanpa di-muthala’ah lagi. Minimal, dengan dipikir dahulu, ada secercah cahaya fresh pemahaman yang beda dari pemahaman mainstream yang hanya tekstual.
Penulis mencoba me-rethinking sebuah quote: al-Adab fauqal Ilmi. Pemahaman mainstream adalah lebih baik beradab daripada berilmu atau dikembangkan lagi, orang yang punya akhlak baik meskipun bodoh, lebih baik daripada orang pintar atau cerdas, tetapi tidak beradab. Padahal terjemahan quote itu adalah akhlak di atas ilmu. Dari mana timbul pemahaman mainstream itu sampai menyimpulkan lebih baik orang yang berakhlak daripada orang yang pintar?
Membandingkan orang pandai itu dengan orang bodoh, bukan dengan orang yang punya akhlak baik. Membandingkan orang yang berakhlak baik itu dengan orang yang berakhlak buruk. Kalau pun mau memaksakan pada maksud tersebut, harusnya orang yang bodoh, tetapi berakhlak lebih baik daripada orang yang pintar, tetapi tidak berakhlak.
Lebih lanjut, apakah orang yang berakhlak baik tidak punya ilmu, tidak pandai? Harusnya dia punya ilmu tentang akhlak, mana yang baik dan mana yang buruk. Artinya, orang yang berakhlak harusnya punya ilmu, punya pengetahuan atau bisa dikatakan pandai. Dari mana orang tahu kalau misuh (berkata kasar) itu tidak baik atau bukan akhlak yang baik kalau tidak pernah belajar atau diajari?
Oleh karenanya, pemahaman adab lebih baik dari ilmu perlu dipikirkan lagi, apa benar begitu? Berilmu mutlak harus dimiliki untuk bisa beradab meskipun beradab tidak mesti dimiliki orang yang berilmu.
Belum lagi kalau kita mau menggali sumber yang paling valid untuk mencari tahu siapakah yang mengatakan itu? Dalam konteks apa dia berkata seperti itu? Adakah orang lain yang menjelaskan maksudnya? Sungguh tidak sesederhana seperti rangkaian kata-kata tersebut apabila kita mau menyelaminya lebih dalam.
Istilah rethinking yang penulis gunakan bukan tanpa alasan. Rethinking adalah salah satu langkah kritis kita untuk minimal tidak latah atas fenomena-fenomena yang terjadi. Rethinking yang penulis maksud sederhananya adalah pembacaan ulang atas fenomena yang sudah terjadi dan dipahami dengan pemahaman “legal” (umum). Kalau istilah penulis, rethinking bisa disederhanakan kembali dengan muthala’ah, mendaras ulang, mencari pemahaman lewat keterangan-keterangan yang merujuk pada berbagai referensi, atau minimal nalar-nurani (akal-hati).
Rethinking diharapkan menjadi rem bagi para peselancar medsos (netizen) supaya tidak latah, ikut-ikutan posting, tanpa mengetahui maksud dari postingan-nya. Terkadang penulis menyimpulkan bahwa orang-orang yang mengepos quote-quote itu sebenarnya apakah memahami sesuatu yang di-posting? Atau hanya buat gagah-gagahan biar dikomentari “kereeen…”, “menyala abangku!!!”?
Spirit rethinking itu sejalan dengan firman Allah:
{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِن جَاۤءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإࣲ فَتَبَیَّنُوۤا۟ أَن تُصِیبُوا۟ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةࣲ فَتُصۡبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِینَ }
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” [Surah Al-Ḥujurāt: 6]
Dan Al-Qur’an pun di dua tempat mengingatkan, bahkan memerintahkan kita untuk bertanya kepada ahlinya, bukan kepada quotes.
{ فَسۡـَٔلُوۤا۟ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ }
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”[Surah An-Naḥl: 43]
{ وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ إِلَّا رِجَالࣰا نُّوحِیۤ إِلَیۡهِمۡۖ فَسۡـَٔلُوۤا۟ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ }
“Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” [Surah Al-Anbiyāʾ: 7]
Bertanya adalah salah satu proses belajar. Artinya, secara tidak langsung Allah memerintahkan kita untuk belajar.
Dengan rethinking, quote-quote akan memiliki kekuatannya. Tidak gersang tanpa pemahaman yang baik. Pun demikian dengan semua pemberitaan di medsos, baik berupa tulisan maupun potongan video, akan lebih jernih kita menyikapinya (setidaknya demikian) jika kita mau me-rethinking pembacaan atas berita-berita yang beredar.
Kepala Madrasah Aliyah (MA) Al-Tsaqafah, asal Cirebon, Jawa Barat. Santri Lirboyo. Sarjana Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

