Peringatan HSN 2025, Kiai Said: Tanpa Pesantren, Kualitas Islam di Indonesia Kosong

Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, menegaskan bahwa pesantren adalah pilar utama sekaligus jantung yang menjaga kualitas dan isi ajaran Islam di Indonesia. Menurutnya, tanpa kehadiran pesantren, Islam di Indonesia berpotensi kehilangan kedalaman ilmunya.

Hal ini disampaikannya dalam ceramah pada Puncak Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025, yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta bekerja sama dengan Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah. Acara yang berlangsung pada Minggu (26/10/2025) ini turut dihadiri oleh Ketua PWNU DKI Jakarta, Dr. K.H. Samsul Maarif, serta Dirjen Pengembangan Ekosistem Haji dan Umroh Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Zainal Efendi.

Dalam ceramahnya, Kiai Said menekankan bahwa Hari Santri adalah momen untuk mengakui keistimewaan dan kemuliaan yang dimiliki oleh santri, kiai, dan lembaga pesantren.

Menurutnya, eksistensi pesantren tidak tergantikan karena di sanalah proses tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama) berlangsung. Pesantren, lanjutnya, adalah satu-satunya lembaga yang secara khusus mengajarkan ilmu-ilmu Islam yang detail.

“Kalau tidak ada pesantren, maka agama Islam di Indonesia hanya namanya saja. Kualitas isinya kosong, karena kajian-kajian tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama) adanya di pesantren,” tegas Kiai Said di hadapan para santri dan hadirin.

Kiai Said memaparkan bahwa ilmu-ilmu krusial seperti Musthalah al-Hadis dan Ushul al-Fiqh hanya diajarkan secara komprehensif di lingkungan pesantren.

“Kalau enggak ada pesantren, tidak ada pelajaran Musthalah al-Hadis. Hadis ada. Tapi, mengapa hadis ini sahih? Ini hasan, kenapa hasan? Ini daif, apa daifnya? maqthu’, mauquf, munqathi’, mursal, muallaq, mu’dhal atau apa? kenapa daif? Itu hanya di pesantren diajarkan seperti itu,” jelasnya.

“Coba bayangkan kalau enggak ada pesantren, kira-kira ada enggak yang ngajari tajwid, izhar, iqlab? Ada tidak yang mengkaji Musthalah al-Hadis untuk membedakan hadis sahih, hasan, dan dhaif? Semua itu adanya di mana? Ada di pesantren,” ucapnya.

Baca juga:

Lebih lanjut, Kiai Said juga menjelaskan tiga metode utama dalam memahami epistemologi Islam yang menjadi ciri khas kajian pesantren.

“Pertama adalah metode bayan, yaitu penjelasan dari sumber pokok; Bayan Ilahi (Al-Quran) dan Bayan Nabawi (Hadis),” jelasnya.

Namun, lanjutnya, sumber pokok tersebut tidak mungkin bisa dipahami secara utuh tanpa metode kedua, yaitu burhan (rasionalitas akal).

Bayan tidak mungkin benar tanpa burhan. Akal diperlukan untuk memahami konteks,” ujarnya.

Ia mencontohkan, perintah “dirikanlah shalat” (aqimus shalah) dan perintah “makan dan minumlah” (kulu wasyrabu) sama-sama berbentuk perintah, tetapi memiliki konsekuensi hukum berbeda yang hanya bisa dipahami lewat akal.

“Perintah salat itu lil wujub (menunjukkan kewajiban) dan perintah makan minum itu lil ibahah (menunjukkan kebolehan),” jelasnya.

Kiai Said membagi burhan menjadi dua bentuk. Pertama adalah Ijma, atau konsensus para ulama. “Contohnya Rukun Shalat ada 17. Itu tidak ada di al-Qur’an dan hadis, itu adalah hasil produk burhan para ulama secara kolektif,” paparnya.

Bentuk kedua adalah qiyas. Metode ini, menurutnya, yang membuat Islam relevan di setiap zaman untuk menjawab masalah baru, seperti hukum narkotika.

“Contoh, sabu-sabu haram atau halal? Di al-Quran, hadis dan ijma tidak ada. Harus pakai Qiyas,” terangnya. “Sabu-sabu itu memabukkan (premis minor). Setiap yang memabukkan masuk golongan khamr (premis mayor). Khamr itu haram, ada di Al-Quran (legal statement). Maka sabu-sabu hukumnya haram (positive conclusion).”

Selain diisi dengan ceramah, acara Puncak Peringatan HSN 2025 ini juga dimeriahkan dengan bazar di lapangan utama pesantren. Kemeriahan semakin terasa karena setiap santri mendapatkan kupon gratis yang dapat ditukarkan langsung di berbagai stan makanan yang tersedia.

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya