Bus yang kunaiki baru saja memasuki kota kecamatanku. Aku tinggal turun di pertigaan dekat pasar, kemudian naik ojek selama sepuluh menit untuk sampai rumah. Perasaanku caur-baur malam itu, antara bahagia, malu, dan terharu. Aku bahagia dan terharu karena setelah dua tahun merantau, aku bisa pulang ke kampung halaman. Di sisi lain aku merasa malu karena pulang dalam keadaan hanya menjadi pelayan warung makan sementara kawan-kawan seumuranku di rumah rata-rata berstatus sebagai mahasiswa.
Sebenarnya aku tak begitu bodoh. Rangkingku di kelas tak pernah lebih dari lima ketika di madrasah aliyah dulu. Bahkan, aku lolos di salah satu kampus Islam negeri via jalur undangan. Namun apa boleh buat, mimpiku kandas oleh apa yang disebut UKT. Aku tak sempat mengetahui apa kepanjangan dari UKT. Yang pasti, itu semacam SPP yang dibayar satu semester sekali. Bapa hanya menggeleng ketika Aku menunjukkan berapa nominal yang harus ia bayar agar Aku bisa duduk di bangku perguruan tinggi. Aku sudah bisa menduga respon ini dan sudah kukuatkan hati bahkan sebelum Aku memberi tahu Bapa besar UKT-ku.
Seminggu setelah kutemui kenyataan pahit itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, kutinggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di ibu kota. Tak hanya sanak famili yang kutinggal, impian untuk berkuliah pun juga.
Lamunanku buyar saat bus yang kutumpangi berhenti. Tampaknya bus ini terjebak kemacetan. Sayup-sayup kudengar lantunan selawat menggema.
“Ada apa ini, Mas? Kok tidak biasanya Karangijo macet. Padahal ini bukan musim mudik, lho?” Tanyaku pada penumpang di sebelahku, Mas Ari. Ia adalah tetangga jauh yang baru kukenal sesaat setelah bus yang kami tumpangi ini bergerak meninggalkan Terminal Lebak Bulus.
“Ko ora ngerti? Malam ini sedang ada Karangijo Bersholawat di lapangan depan sana. Yang rawuh Gus Kanz yang sedang viral itu. Rencana awalku, jika Aku dapat tiket pagi, Aku akan raweuh. Tetapi apa boleh buat, Aku bangun kesiangan dan tak kebagian tiket pagi. Terpaksa Aku pulang dengan bus siang,” jelasnya. Aku sedikit tertawa mendengar Mas Ari menggunakan diksi rawuh untuk dirinya sendiri. Dalam aturan bahasa Jawa Krama, hal ini kurang tepat.
“Aku baru dengar yang namanya Gus Kanz. Mungkin karena Aku jarang menikmati konten sholawatan di beranda,” timpalku jujur.
“Mulai sekarang, sering-seringlah searching konten sholawat di medsos. Katanya, ‘berkah sholawat, maksiat minggat,’” tambahnya.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan teman seperjalananku itu. Aku mengamini bahwa memang diriku yang pernah mondok ini jauh dari konten-konten islami di medsos. Aku jarang sekali membagikan konten-konten islami di story karena bagiku hal tersebut mendatangkan konsekuensi tersendiri. Aku harus bersikap sebagaimana konten-konten yang kubagikan. Aku merasa masih jauh dari sikap-sikap yang diajarkan di konten-konten islami yang beredar di media sosial itu.
Bus bergerak begitu pelan. Ia seakan malas untuk melaju. Para penumpang yang sudah berada di dalam bus sekitar tujuh jam terkantuk-kantuk karena lelah. Penumpang yang terjaga terdengar mengeluh kala menginsafi bus yang ditumpangi kini terjebak kemacetan.
Bus akhirnya bergerak lagi kendati hanya sesaat. Begitu seterusnya. Suara genjring yang berpadu dengan suara vokalis kian terdengar. Anehnya, suara itu terkesan familier di telingaku. Aku merasa pernah mendengar suara vokalis tapi entah di mana.
“Kau dengar suara itu?” sahut Mas Ari tiba-tiba.
“Ya,” jawabku pendek.
“Itu suara Gus Kanz yang tengah viral itu. Konten-konten tentangnya berseliweran di berandaku. Dia mungkin lebih muda daripadaku, tapi kesalehannya, jauh di atasku. Keimananku tidak ada sekukuhitam keimanannya,” jelas Mas Ari menggebu-gebu.
“Dia, maksudku beliau, mondok di mana?” tanyaku berbasa-basi.
Mas Ari menjawab dengan begitu lengkap, bahkan sampai desa tempat Gus Kanz mondok. Aku tercengang mendengar keterangan laki-laki yang kuduga 5-7 tahun lebih tua dariku itu. Aku paham betul almamater Gus Kanz karena memang kami sealmamater. Aku sebisa mungkin menyembunyikan kekagetanku dengan merespon keterangan Mas Ari sekenanya. Usahaku dibantu dengan suasana di dalam bus yang temaram.
Obrolan kami berhenti. Jawabanku yang singkat bisa jadi ditangkap Mas Ari sebagai isyarat tak tertariknya aku pada informasi yang ia berikan. Ia tahu diri dan memilih diam sambil melihat ke arah jendela. Kurasa dia begitu ingin bergabung dengan majelis selawat yang tengah dalam suasana gegap gempita.
Pikiranku bergejolak. Aku begitu penasaran bagaimana tampang Gus Kanz yang ternyata sealmamater denganku ketika mondok dulu. Aku berusaha untuk tenang dengan menyadarkan diri sendiri bahwa jumlah santri di almamaterku begitu banyak. Bisa jadi Gus Kanz berbeda unit pendidikan denganku atau bisa jadi dia nyantri di sana setelah kululus.
Dengan tertatih, bus yang kami tumpangi mencapai daerah di dekat lapangan tempat Karangijo Bersholawat digelar. Aku mendapat jawaban mengapa kemacetan terjadi. Jalan raya yang normalnya terdapat dua lajur, diaktifkan hanya satu lajur saja. Hal ini terjadi karena pengunjung Karangijo Bersholawat membludak hingga ke jalan raya.
Para pengunjung yang berada di dekat jalan raya niscaya akan kesulitan melihat Gus Kanz dengan mata telanjang. Selain karena jauh, banyak panji-panji besar yang jumlahnya banyak dikibarkan di dekat panggung. Pada panji-panji itu samar-samar terlihat logo-logo majelis sholawat dan foto-foto pemimpin-pemimpinnya. Panitia tampaknya sudah menduga hal ini akan terjadi. Mereka mengantisipasinya dengan menyediakan banyak layar proyektor yang menampilkan suasana di atas panggung.
Sebagai penggemar liga sepakbola Italia, ketika melihat ini, Aku teringat dengan suasasa tribun penonton saat pertandingan sepakbola digelar. Kelompok pendukung yang mengidentifikasikan diri sebagai ultras akan membawa panji-panji besar yang bertuliskan kalimat dukungan atau potret tokoh terkenal dari tim yang mereka dukung. Mereka akan bernyanyi dan menari hampir selama pertandingan apapun yang terjadi. Apa yang kulihat di Karangijo Bersholawat hampir mirip dengan hal itu.
“Lihat lihat! Itu Gus Kanz!” teriak Mas Ari tiba-tiba. Aku kaget dibuatnya. Ia menunjuk ke layar proyektor laksana seorang armada kapal Cornelis de Houtman yang telah berhari-hari terombang-ambing di tengah laut dan kemudian melihat Pulau Sumatera di depannya.
Sepontan Aku melihat ke layar proyektor itu. Aku kaget bukan main ketika melihat wajah Gus Kanz. Wajahnya begitu familiar. Otakku langsung menuju bilik ingatan di mana folder wajah-wajah teman sepondokku berada. Dalam seperkian detik, Aku ingin berteriak “Eureka!” saat Aku sadar bahwa Gus Kanz yang konon sedang kondang ini adalah Ulum atau Kanzul Ulum, santri yang satu tingkat di bawahku. Ia warga Kamar Andalusia yang berjarak tiga kamar dari kamarku, Kamar Bukhara.
Aku masih menikmati kesuksesanku dalam mengindentifikasi siapa Gus Kanz saat Mas Ari tiba-tiba memaparkan apa yang ia ketahui tentang sosok yang tampaknya sangat ia idolakan itu.
“Gus Kanz itu nasabnya nyambung ke kiai-kiai Cilacap dan Rembang. Meski punya nasab, ia tetap belajar begitu ketika mondok. Ia juga gemar tirakat. Ketika mondok, ia adalah santri kinasih kiainya. Ia adalah santri yang terakhir tidur karena sibuk muthala’ah, dan santri yang pertama bangun untuk shalat tahajud,” papar Mas Ari. Ada desah kekaguman di setiap kata yang meluncur dari mulutnya.
“Kata siapa?” Timpalku singkat. Aku menyesali ucapan tersebut karena terkesan Aku tak memercayai ucapan Mas Ari.
“Kata konten-konten di media sosial. Banyak sekali akun-akun santri hits yang mewartakan demikian,” jawab Mas Ari tak mau kalah.
Aku yang tahu betul siapa Ulum maksudku Gus Kanz, hanya mengernyitkan dahi tanda meragukan keterangannya. Keadaan di dalam bus yang temaram menyamarkan ekspresiku. Aku berhutang dua kali pada ketemaraman karena telah menyelamatkan suasana. Ingatanku kembali ke momen-momenku mondok, utamanya momen-momen yang berhubungan dengan Ulum.
Aku tak begitu yakin masalah nasabnya. Aku belum pernah menjumpai orangtuanya secara langsung. Yang Kutahu ia berasal dari keluarga yang berada. Baju dan sarung yang ia kenakan selalu bermerk mahal dan alas kakinya Eiger. Kedua hal itu menjadi penanda yang cukup valid untuk menggambarkan keadaan ekonominya. Ia juga tak pernah kujumpai ikut dikumpulkan oleh Kang Latif di ruang tata usaha sebelum ujian sekolah. Dipanggil ke ruang tata usaha oleh Kang Latif sebelum ujian adalah tanda seorang santri masih menunggak bayaran SPP.
Untuk masalah ia sering tidur terakhir aku setuju, tapi bukan untuk muthala’ah. Setiap santri yang jaga malam tentu sudah mafhum dengan polah Ulum yang sering begadang hingga tengah malam hanya untuk ngobrol tidak jelas dengan teman-teman setongkrongannya. Suatu waktu, Kang Rahmat yang merupakan ketua bidang keamanan naik pitam karena Ulum dan gerombolannya tak menggubris perintahnya untuk tidur. Ia menyiram Ulum gerombolannya hingga basah kuyup.
Sejalan dengan kebiasaan Ulum yang tidur larut malam, ia juga teramat susah untuk dibangunkan. Karena ini, ia mendapat julukan “jamus” yang berarti kerbau dari santri-santri yang kerap berjaga di malam hari. Butuh kesabaran ekstra untuk membangunkannya. Kadang petugas jaga malam sampai menggunakan tungkai untuk membangunkan santri yang satu ini. Ia juga beberapa kali di-ta’zir karena tertangkap basah merokok dan gagal mencapai target hafalan Al-Qur’an. Untuk poin kedua, Aku senasib dengan Ulum. Kami dua kali di-ta’zir bersama karena masalah itu.
Kendati terkenal di komplek asrama karena kebiasaan-kebiasaan buruk tadi, Ulum terkenal di seantero pondok karena suaranya yang bagus. Ia adalah vokalis utama grup hadrah pondok. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa vokalis hadrah adalah selebritas pondok. Posisi ini begitu bergengsi, apalagi bagi santri yang keranjingan akan popularitas.
Saat Ulum baru naik panggung saja, santri-santri puteri akan berteriak histeris bak melihat artis pujaan mereka datang. Seisi aula pondok akan berselawat bersama saat Ulum mulai melantunkan selawat. Seakan paham akan popularitasnya, Ulum tak segan melambaikan tangan seusai manggung. Hal ini akan menimbulkan teriakan yang tak kalah histeris dibandingkan saat ia naik panggung.
Ulum juga menjadi pihak yang paling bertanggungjawab atas keluhan petugas piket bersih-bersih kelas seusai ujian madrasah. Ceritanya begini. Karena kekurangan ruang kelas, ujian madrasah kami dibuat dua sesi. Sesi pagi dan sesi siang. Pada sesi pagi, seluruh ruang kelas akan digunakan sebagai ruang ujian santri puteri. Pada sesi siang, ruang-ruang kelas tadi akan digunakan ujian untuk santri putera. Sering kali ditemui banyak sekali surat dari santri puteri di laci meja Ulum seusai sesi pagi. Saking penuhnya, surat-surat tadi seringkali berhamburan di lantai kelas dan menyebar karena diterpa angin.
“Kamu kenapa. Kok melamun?” sergah Mas Ari. Ia kembali mengagetkanku.
“Itu… sedang menikmati suara Gus Ulum, eh maksudnya Gus Kanz,” jawabku sekenanya.
Kendati bus yang kunaiki sudah hampir meninggalkan area lapangan, suasana yang gegap gempita masih begitu terasa. Suara dari salon-salon yang besar dan banyak cukup memekakkan telinga.
“Iku Iku iku iku iku iku iku…” lirik selawat yang menurutku janggal ini terdengar begitu keras dari dalam bus.
Guru Bahasa Inggris Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah

