Olimpiade Bahasa Inggris

ALTSAQAFAH.ID – Matahari berangsur-angsur meninggi. Sinarnya mulai terasa hangat jika menyentuh kulit. Ia mengintip dari sela-sela jendela yang tak tertutup gorden kamar Adli. Adli tidak sama sekali terusik meski sinar berhasil masuk menyinari pelipisnya. Rasa kantuk berdaulat penuh akan dirinya setelah ia terjaga semalam suntuk.

Aktivitas hariannya di masa pandemi begitu ajek: begadang hingga pagi, tidur dibangunkan azan Zuhur, scrolling di beranda media sosial, bermain sepak bola dengan bocil-bocil sekitar rumah, main gawai hingga tengah malam, dan baru kemudian mengerjakan skripsi dari tengah malam hingga fajar. Begitu seterusnya. Ia begitu nyaman menjalani rutinitas janggalnya itu. Orang tua awalnya menegurnya, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka jengah dan akhirnya membiarkannya.

“Mas Adli, Mas Adli!” teriak dua orang di depan kamar Adli.

Setan alas kalian! Ada apa sih? Berisik!” teriak Adli jengkel. Kantuknya masih begitu perkasa untuk dilawan.

Namun, hardikannya tidak mengendurkan ketukan pada pintu kamarnya. Ketukan pintu berlangsung terus-menerus dan pada akhirnya membuat kantuk Adli lenyap.

“Ada apa, Zah? Ada apa Ta?” tanya Adli sesaat setelah membuka pintu kamar pada dua orang pengganggu tidurnya.

“Ini, Mas. Hari ini kami PAT. Ajarin, dong. Kami tidak paham bahasa Inggris,” jawab ‘Izzah dengan muka memelas. Raut muka ‘Izzah dan Talita mampu menerbitkan rasa iba Adli.

“Aduh, kalian mengganggu saja orang sedang enak tidur. Memangnya selama semester ini kalian belajar apa? Kok bisa-bisanya mengerjakan, apa namanya tadi? tidak bisa,” gerutu Adli. Ia juga tak paham dengan istilah PAT.

“PAT itu Penilaian Akhir Tahun,” tukas ‘Izzah.

“Lah kan sekarang baru Juni. Kok sudah penilaian akhir tahun?” heran Adli.

“UAS itu UAS. Cuma bahasanya yang berbeda. Kamu kan siswa zaman kompeni. Zaman sekarang UAS namanya ganti jadi PAT,” jelas ibu Adli yang sedang menyapu.

“Owalah,” jawab Adli sambil menggaruk-garuk rambut. Ia sudah sangat asing dengan dunia sekolah.

“Sekarang zamannya sekolah online. Guru hanya memberi perintah untuk membaca buku halaman sekian atau mengerjakan LKS halaman sekian. Mereka sama sekali tidak menjelaskan apa pun,” jelas ‘Izzah.

Adli bengong mendengar apa yang terjadi di sekolah daring. Sebenarnya Adli awalnya heran mengapa pengalaman sekolah daring ‘Izzah dan Talita berjalan begitu kacau. Bahkan, metodenya hampir sama seperti memberi dan mengerjakan PR semata.

Namun, Adli langsung teringat keluhan teman se-SMP-nya dulu yang bernama Farida. Ia sekarang menjadi guru honorer di kampung sebelah. Farida sering mengeluh karena gaji guru honorer seperti dirinya, hanya tiga ratus ribu perak per bulan. Bahkan, untuk menunjang kebutuhan pokok saja sudah tidak cukup. Farida harus sambil berjualan produk kecantikan secara daring. Story WhatsApp-nya dipenuhi iklan dagangan.

Adli hanya bisa tersenyum kecut kala mendengar keluh kesah ‘Izzah dan mengingat cerita getir Farida. Ia menjadi maklum dengan apa yang terjadi.

“Tiga ratus ribu perak mana cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup plus beli kuota. Mana cukup untuk beli akun Zoom premium. Idealnya sekolah daring menggunakan Zoom atau aplikasi sejenisnya,” protesnya dalam benak.

“Mas, jadi gimana? Bisa bantu, ya, please. Bisa,” pinta ‘Izzah dengan wajah memelas. Talita hanya diam, tetapi menunjukkan ekspresi seragam.

“Ya sudah iya, tetapi bereskan dulu kamarku ini. Sapu lantainya dan bereskan kasurnya,” tutur Adli. Ia luluh setelah mendengar cerita betapa ngawurnya metode sekolah daring yang ‘Izzah jalani.

Setelah setengah jam berlalu, kamar Adli rampung dibereskan. Lantai telah bersih. Bantal dan selimut telah rapi. Gelas dan piring yang ditimbun di dalam kamar sudah dievakuasi ke dapur.

“Aku dulu, ya, Mas. Soalnya PAT-ku online dan waktunya terbatas. Nanti soalnya berbentuk Google Form,” rayu ‘Izzah. Ia adalah sepupu Adli yang tujuh tahun lebih muda darinya. Ia bersekolah di sebuah sekolah kejuruan swasta di ibu kota kecamatan.

Waktu pelaksanaan PAT bahasa Inggris tiba. Adli langsung saja merebut ponsel ‘Izzah. Ia malas bersusah payah mengajari ‘Izzah karena itu akan memakan waktu yang lama. Singkatnya, ia kini menjadi joki dalam mengerjakan soal-soal PAT bahasa Inggris ‘Izzah.

“Kok, soalnya sama seperti UTS kemarin, Zah?” heran Adli ketika membaca soal PAT.

“PTS, Mas, bukan UTS,” koreksi ‘Izzah.

“Halah, sama saja!” sergah Adli membela diri.

“Wong materinya sama saja aku tidak paham, bagaimana jika berbeda?” jawab ‘Izzah dengan intonasi yang bernada retorik.

Adli hanya tersenyum kecut. Ia kemudian menggeleng-geleng sambil mengerjakan soal tentang tenses yang seharusnya dikerjakan sepupunya itu.

Ia heran mengapa tenses secara khusus dan bahasa Inggris secara umum terus-terusan diajarkan di sekolah dasar hingga perguruan tinggi, tetapi tidak serta-merta membuat siswa Indonesia secara umum menguasai bahasa Inggris, setidaknya dalam tenses. Tentu ada yang salah dengan ini semua.

Adli sendiri menguasai tenses karena memang ia kuliah di jurusan bahasa Inggris. Mungkin jika ia kuliah di program studi lain juga ia akan kelimpungan menjawab soal tenses yang sebenarnya hanya diulang-ulang semenjak sekolah dasar itu.

Adli dengan mudah mengerjakan semua soal yang ada. Ia hanya menghabiskan waktu selama lima belas menit dari enam puluh menit yang tersedia. ‘Izzah memasang muka lega dan bahagia saat mengetahui Adli sudah mengerjakan semua soal PAT-nya. Apalagi semua soal dijawab Adli dengan benar sebagaimana soal PTS-nya dulu.  Ia menghaturkan terima kasih dan nylonong pulang.

Selanjutnya tinggal Talita. Ia masih duduk di kelas satu. Sebenarnya Adli heran mengapa materi bahasa Inggris sudah diajarkan sejak siswa duduk di kelas satu. Pasalnya, banyak siswa kelas satu yang bahkan belum bisa mengenali alfabet dalam bahasa Indonesia. Sedangkan Talita dan kawan-kawannya harus belajar bahasa Inggris yang kesulitannya tentu lebih tinggi daripada bahasa Indonesia.

Akan lebih sukar lagi bagi siswa-siswa di daerah yang menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua, bukan bahasa ibu. Menguasai bahasa Indonesia saja masih gelagapan, apalagi ketika mereka dituntut menguasai bahasa Inggris.

Dengan menghabiskan waktu lebih singkat, Adli bisa menyelesaikan soal PAT Talita. Talita hanya bisa bengong melihat sepupu tertuanya itu dalam hitungan menit bisa menyelesaikan semua soal yang baginya sangat sukar, bahkan untuk dipahami pertanyaannya.

Ia menyunggingkan senyum dan ucapan terima kasih saat pulang. Adli pergi ke kamar untuk melanjutkan mimpinya.

##

Waktu berlalu cepat. PAT telah berakhir delapan hari lalu. Hari ini, sekolah dasar di depan rumah Adli ramai. Para orang tua yang seyogianya dibagi jadwal kedatangannya untuk mengambil rapor justru datang beramai-ramai bak tidak ada pandemi.

Sejak awal kemunculan pandemi, aktivitas warga di desa Adli tinggal memang berjalan seperti biasa. Bagi warga, pandemi hanya ada di acara berita televisi dan tempat-tempat umum yang aktivitasnya diatur negara.

Memakai masker pun bukan karena mereka takut akan terjangkit pandemi, tetapi lebih ke takut terkena razia yang dilakukan puskemas kecamatan yang berkoordinasi dengan hansip.

Sederhananya, sekarang, semacam ada wanti-wanti tambahan bagi orang yang akan bepergian melintasi jalan kecamatan selain wanti-wanti untuk memakai helm, yakni memakai masker.

Namun, keramaian di sekolah seberang rumah Adli tak mengusik tidurnya. Aktivitasnya juga masih sama seperti di awal cerita, stagnan.

Keramaian sekolah di seberang jalan memang tak mampu mengganggu tidur Adli, tetapi ‘Izzah bisa. Alurnya hampir sama seperti ketika ‘Izzah membangunkannya untuk mengerjakan soal PAT daring tempo hari.

“Memang apa sih maumu, Zah?” tanya Adli heran.

“Hari ini Aku disuruh guru bahasa Inggrisku menemuinya di sekolah,” jawab ‘Izzah disertai ekspresi memelas.

“Aku sudah paham akal bulusmu. Kau memintaku mengantarmu ke sana, kan?” tanya Adli menyelidik.

“Iya. Hehehe,” jawab ‘Izzah membenarkan.

“Kenapa kamu tidak naik koperades saja?” tanya Adli lagi. Ia ingin menghindar dari permintaan sepupu mudanya itu dengan menyuruh ‘Izzah menaiki angkutan desa.

“Mas Ai dari mana saja? Supir koperades sudah bangkrut semua. Mereka beralih ke profesi lain. Lagi pula tempat mangkal mereka sudah menjadi halaman toserba RH.

“Toserba milik Kaji Dawud yang katanya mendonasikan 20% keuntungan harian untuk panti asuhan?” timpal Adli.

“Nah, iya betul. Mas ingat Kaki Uwan?” sambung ‘Izzah. ‘Izzah mengajak Adli kembali ke ingatan masa biru-putihnya. Kebetulan Adli pernah bersekolah di sekolah yang berada di samping sekolah ‘Izzah. Jadi, Adli dan ‘Izzah sedikit banyak memiliki ingatan kolektif mengenai lingkungan sekolah mereka.

“Aku tidak tahu. Semoga kakek tua itu sehat. Dia hobi mencak-mencak saat siswa yang jadi pelanggan setia koperades susah ditertibkan,” kenang Adli.

“Dia sudah kehilangan pekerjaannya bersamaan dengan amblas-nya usaha koperades. Sekarang ia menjadi penjual masker di depan alun-alun kecamatan,” jelas ‘Izzah.

“Ya Allah. Semoga kakek tua itu selalu dilimpahi rezeki dan kesehatan,” respons Adli.

Matanya berkaca-kaca karena ia khawatir akan nasib kakek tua itu. Saat Adli bersekolah di madrasah tsanawiyah saja, kakek tua itu sudah sedemikian tua. Apalagi sekarang Adli sudah lulus dari madrasah tsanawiyah sepuluh tahun yang lalu?

##

Adli akhirnya kembali menuruti keinginan ‘Izzah. Ia bersedia mengantar ‘Izzah ke sekolah. Keinginannya untuk bernostalgia dengan masa biru-putihnya juga menjadi pendorong tersendiri mengapa ia menuruti keinginan ‘Izzah. Sedikit banyak, masa biru-putih Adli menjadi bagian dari mosaik-mosaik yang menyusun kepribadian Adli yang sekarang.

Ketika sedang memanasi sepeda motor, Talita lewat. Senyumnya begitu lebar. Ia berjalan sambil mendekap rapor yang berwarna hijau tua. Ibunya menyusul di belakangnya.

“Ada apa nih? Kok ada yang kelihatan begitu bahagia?” goda Adli.

Yang digoda hanya tersenyum sambil memamerkan giginya yang gupis.

“Itu ditanya Mas Adli,” respons ibu Talita atas godaan Adli kepada anaknya.

“Alhamdulillah, Talita mendapat ranking satu. Ia mendapat nilai seratus untuk mata pelajaran bahasa Inggris,” sambung ibu Talita. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bangga dari raut wajahnya.

“Alhamdulillah,” sergah Adli sambil tersenyum kecut. Adli merasa menyesal karena telah menjadi joki PAT bahasa Inggris untuk Talita. Ia telah memberi gambaran palsu mengenai kemampuan Talita pada gurunya. Ia juga ikut andil dalam menggusur siswa yang seharusnya menempati rangking satu.

##

Kendati jarak dari rumah Adli ke sekolahan ‘Izzah dekat, perjalanan ke sekolah memakan waktu yang cukup lama. Sepeda motor Adli harus melewati jalanan rusak yang sudah menahun. Sebenarnya sudah ada janji dari pemkab untuk memperbaiki jalan penghubung antarkecamatan itu. Namun, seiring dengan adanya pandemi, dana perbaikan jalan ini konon dialihkan untuk mengatasi pandemi.

Sesampainya ‘Izzah dan Adli di dekat sekolahan, ‘Izzah langsung pamit menghadap guru bahasa Inggrisnya. ‘Izzah bilang ia takkan lama menghadap gurunya itu.

Sembari menunggu, Adli menikmati suasana di halaman sekolahnya. Suasana halaman sekolah Adli yang bersebelahan dengan sekolah ‘Izzah.

Denyut nadi aktivitas di sekolah Adli terasa seperti mati dibunuh pandemi. Suasana begitu lengang. Hanya ada beberapa motor terparkir di dekat pagar sekolah. Penjual yang mangkal sangat sedikit daripada saat Adli bersekolah di situ. Hampir bisa dipastikan bahwa semua terjadi karena memang hampir tidak ada siswa yang datang ke sekolah.

Beberapa pekerja terlihat sedang mengecat tembok sekolah Adli yang telah pudar warnanya. Adli sedikit lega melihatnya. Kegiatan ini setidaknya memberi sejumput harapan bahwa denyut kehidupan sekolah akan kembali berdetak meski entah kapan.

Nostalgia Adli tiba-tiba buyar saat tiba-tiba ‘Izzah datang dalam keadaan menangis. Mendapati sepupunya menangis tak terkendali, Adli mengajaknya mengaso sambil minum es cendol di pojokan lapangan. Setelah memesan cendol, Adli mempersilakan ‘Izzah duduk. ‘Izzah masih terus saja menangis, bahkan sampai es cendol yang dipesan sudah datang.

##

Selepas turun dari motor, ‘Izzah bergegas menuju kantor guru yang berada di belakang kantin sekolah. Ia disambut meja-meja kantin yang berdebu dan kursi-kursi yang dijungkirbalikkan di atasnya. Kantor guru sepi kendati banyak guru di dalamnya. ‘Izzah berjabat tangan kepada guru-guru yang sudah lama ia tak temui. Setelah bersalaman dengan lima guru, ia sampai di meja Bu Dwi, guru bahasa Inggrisnya.

Bu Dwi mengajak ‘Izzah ke kantin untuk berbincang karena di dalam kantor terdapat banyak guru. Mereka sedang serius menyiapkan rapor siswa yang lusa akan dibagikan.

Setelah berbasa-basi sebentar, Bu Dwi menjelaskan perkembangan ‘Izzah di mata pelajaran bahasa Inggris yang begitu pesat.

“Selamat ‘Izzah! Nilai bahasa Inggrismu begitu bagus semester ini. Nilaimu unggul jauh dibandingkan nilai teman-teman sekelasmu,” ujar Bu Dwi.

“Terima kasih, Bu,” jawab ‘Izzah dengan senyum yang kecut. Hati nuraninya terusik karena nilai yang dipuji Bu Dwi bukan hasil kerja kerasnya sendiri. Pujian Bu Dwi justru terdengar seperti sindiran yang menyiksa batinnya.

“Bulan depan akan ada olimpiade bahasa Inggris tingkat kabupaten antarsekolah kejuruan. Tim MGMP bahasa Inggris menunjuk ‘Izzah untuk mewakili sekolah dalam perlombaan ini,” tutur Bu Dwi. Rona wajahnya menyimpan harapan yang besar pada ‘Izzah.

‘Izzah terperanjat mendengar apa yang dikatakan Bu Dwi. Ia kaget bukan main. Wajahnya pucat pasi. Ekspresinya bak ekspresi orang yang menjumpai hantu di siang bolong.

“Tapi, Bu, tapi …,” jawab ‘Izzah dengan ekspresi yang tak karuan.

Ia sama sekali tak berpikir bahwa “bantuan” Adli akan berdampak sejauh ini. Keringat dinginnya mulai mengucur. Pandangannya berkunang-kunang. Kepalanya pusing.

“Tapi apa?” tanggap Bu Dwi heran.

rifqisalafi@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Bahasa Inggris Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah