Teras Masjid yang Basah

ALTSAQAFAH.ID – Hujan tadi malam mengguyur seluruh kota. Rintik airnya yang banyak bagai serbuan prajurit membasahi seluruh sudut dan sisinya. Kalau tidak percaya, cobalah tengok dahan dan ranting. Pohon dan kebun basah semua. Lebih dari itu, selokan-selokan pun meluap dan jalan serta lapangan dipenuhi genangan air.

Hari masih gelap dan matahari belum keluar dari sarangnya. Namun, cahayanya yang tipis sudah memancar lurus dari ujung timur sana. Kokok ayam mulai terdengar dan melebur dengan suara tarhim yang keluar dari corong-corong pengeras suara di pucuk menara masjid. Bunyi keduanya mengisi ruas-ruas jalan, menerobos tikungan, memantul-mantul di dinding rumah, dan akhirnya hilang terserap di kebun ujung sana. Geliat kehidupan belum terlihat. Hanya satu dua rumah yang lampunya sudah menyala.

Di samping pemukiman itu, berdiri dinding beton yang melingkari sebuah pondok pesantren. Berbeda dengan pemukiman di sekelilingnya, geliat kehidupan sudah tampak di sana. Semua lampu sudah dinyalakan dan suara gemercik air dari santri yang berwudu sudah banyak terdengar. Beberapa santri sudah ada yang berpakaian rapi dan mulai melangkahkan kakinya menuju masjid, bahkan ada yang sudah bangun sejak tadi dan sedang membaca puji-pujian kepada Allah Swt. dan rasul-Nya di masjid, tetapi aku tidak termasuk golongan tadi. Aku masih meringkuk di balik selimut biru di sudut kamarku, persis seperti kepompong. Malas betul rasanya jika harus bangun sedini itu, apalagi udara pagi ini sungguh dingin. Aku bisa menggigil jika terkena air saat berwudu. Meski demikian, selimut yang menutupi tubuhku tetap saja kusingkap dan aku tetap menuju kamar mandi untuk berwudu.

Setelah sarung kukencangkan, kemeja putih kukancing, peci hitam kupakai, dan Al-Qur’anku dekap di dada, kulangkahkan kaki keluar dari asrama menuju masjid. Genangan air menyambut langkahku. Sebentuk sandal jepit ukuran 12 terbentuk di jalan yang kulewati. Ciprat air berwarna cokelat selalu memercik setiap aku melangkah. Sarung kuangkat sedikit untuk menghindari percikan air. Sangat hati-hati aku berjalan. Bagian bawah sandalku sudah aus. Salah langkah sedikit saja aku pasti tergelincir.

Masjid yang kutuju adalah bangunan dengan panjang 20 meter dan lebar yang kurang lebih sama. Terbangun atas dua lantai dengan lantai pertama difungsikan sebagai aula dan lantai duanya difungsikan sebagai masjid, kecuali di sisi baratnya, masjid ini memiliki teras. Pada bagian kiri dan kanan teras timurnya, terdapat tangga menuju lantai dua. Menara masjid menjulang tinggi di sudut tenggaranya. Kubahnya berada di bagian tengah atas bangunan itu. Empat tiang mencuat di lantai satu menopang lantai dua, sedangkan lantai duanya memiliki delapan tiang. Empat tiang berbentuk tabung terletak di bawah kubah yang di Tengah kubah itu tergantung lampu hias. Empat tiang lainnya berbentuk kotak terletak dekat dengan jendela. Warna bangunan itu kuning pucat. Dua belas jendela besar yang hampir tidak pernah ditutup sela-menyela masing-masing dinding bagian kiri dan kanannya. Ruang sound dan gudang terletak di bagian depannya dan dipisahkan oleh tempat imam. Lukisan kaligrafi memenuhi dinding bagian luar dua ruangan tadi. Kipas angin menempel di bagian atas dinding dua ruangan tadi dan tiang-tiang di sana. Satir dari tripleks terpasang dari belakang tempat imam hingga ke ujung belakang masjid untuk memisahkan antara jemaah laki-laki dan perempuan.

Aku mengambil posisi di saf  ketiga, tepat di depan salah satu tiang. Posisi yang strategis. Angin dari kipas yang tertempel di dinding atas jatuh tepat ke sana. Embus angin dari jendela di sisi kanannya juga menambah kesejukan di sana. Satu lagi nilai plus jika duduk di sana, bisa bersandar di tiangnya.

Ikamah dilantunkan, salat didirikan, wirid dilafalkan, dan doa dipanjatkan, menghamburlah seluruh santri ke tempat mengajinya masing-masing. Mereka membentuk halakah-halakah kecil dengan guru di tengahnya atau membentuk barisan memanjang dengan guru di tengahnya.

Masjid berangsur sepi, hanya menyisakan beberapa santri yang masih melanjutkan wiridnya atau mengulang dan menambah hafalannya. Aku masih duduk sila dengan badan yang terbungkuk dan mata terpejam. Seorang teman menepuk bahuku dan aku terbangun. Aku segara berdiri dan berjalan menuju tempatku mengaji. Belum dua langkah aku berjalan, kakiku mati rasa, badanku limbung, dan terjatuh. Kakiku kesemutan. Pasti karena ketiduran dengan posisi tadi. Sialan. Kuselonjorkan kakiku agar darah yang tersumbat kembali mengalir dan mengisi ruas-ruas pembuluh darahku. Setelah kesemutan hilang dan kaki kembali bisa digerakkan, aku melanjutkan berjalan menuju tempat mengaji.

Sesampainya di sana, hampir semua kawan-kawanku tertidur. Hanya dua tiga orang yang masih bangun. Mereka yang bangun sedang melatih bacaannya untuk nanti disetorkan. Itu pun dengan badan yang terangguk-angguk. Mengantuk.

Tempatku mengaji adalah teras utara di bangunan ini. Lebarnya seukuran rata-rata tinggi orang dewasa ditambah sedikit. Panjangnya lebih kurang 16 meter. Tumbuhan melati tertanam di sampingnya, melati yang untuk hidup sungkan, tetapi untuk mati enggan. Daunnya berwarna cokelat, tetapi tak kunjung meranggas. Tunas-tunas hijaunya yang beberapa kali terlihat juga dengan cepat berubah menjadi cokelat. Kadang-kadang aku dan teman-teman suka mencabuti daunnya yang cokelat untuk memberi ruang agar daun-daun muda tumbuh di sana serta menyiramnya. Andai seluruh tanaman itu menghijau, tempat ini akan terlihat indah dan asri.

Aneh, teras masjid ini kering. Bukankah semalam hujan deras. Mungkin ada yang telah mengepelnya. Tidak peduli. Aku menaruh Al-Qur’anku di kosen jendela dan mengambil posisi rebahan seperti yang lainnya.

“Gus Rei, Pak Ahmad ga ada ya?” tanyaku pada salah satu temanku, Reihan. Ia kami panggil gus karena memang ayahnya adalah seorang kiai.

“Belum. Ayo, panggil.”

“Gak ah. Ajak Syauqi aja. Ngantuk aku.”

“Ya udah lah. Qi, ayo,” ajak Gus Rei.

Syauqi tidak mengiyakannya, tetapi ia segara menyusul Gus Rei menuju kantor guru. Kuperhatikan langkahnya. Langkahnya gontai dan geraknya sedikit oleng. Tampak benar bahwa ia mengantuk, tetapi bukan itu yang menjadi pusat perhatianku. Perhatianku tertuju sepenuhnya pada sandal yang ia pakai. Sandal jepit karet yang permukaan atasnya berwarna putih dan hijau pada bagian bawahnya. Bagian bawahnya pun aus. Tidak salah lagi, itu adalah sandalku.

Kantor guru itu letaknya tidak jauh dari masjid. Hanya sepelemparan batu darinya. Kantor itu terletak di lantai dua gedung sekolah. Warna dindingnya sama dengan warna cat masjid. Ukurannya kurang lebih dua pertiga ukuran kelas pada umumnya. Di tengahnya terdapat meja kayu besar yang dikepung kursi kondangan. Di salah satu kursi itulah Gus Rei dan Syauqi melihat Pak Ahmad. Pak Ahmad sepertinya ketiduran saat mengerjakan sesuatu. Pipinya menempel di tangannya yang dilipat di atas meja. Banyak kertas dan alat tulis berserakan di sana. Di hadapannya, laptop masih terbuka dan menyala. Ada juga secangkir kopi yang baru setengah habis di atas meja itu.

“Syauqi, bangunin pak Ahmad!”

“Ngaak ah, kamu aja Gus. Sayakan Cuma nemenin.”

“Halah, kalau gini aja gak mau, tapi kalau nemenin makan malah kamu yang ngabisin makanan saya.”

“Ya udah, iya.”

“Pak, bangun Pak, waktunya ngaji,” ucap Syauqi sambil menepuk pelan tangan pak Ahmad.

Pak Ahmad bangun. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Tangannya yang tadi terlipat kini meraba-raba meja mencari kacamata.

“Oh iya-iya. Coba kamu lihat dulu tempatnya, basah apa tidak.”

“Iya Pak,” jawab Gus Rei dan Syauqi hampir bersamaan.

Aku masih menunggu kabar dari mereka berdua. Apakah pak Ahmad ada atau tidak. Apakah mengaji atau tidak. Aku harap libur. Rasanya ingin sekali melanjutkan tidur. Apalagi cuaca sedang sejuk begini. Saat mereka datang, mereka langsung kutanya.

“Gus Rei, Syauqi, gimana? Ada pak Ahmad nggak?”

Bukannya menjawab, Gus Rei malah berjalan ke kamar mandi dan Syauqi membangunkan yang lainnya dan meminta kami pindah tempat atau setidaknya berdiri. Kawan-kawan yang baru bangun tidur menurut saja tanpa bertanya. Begitu juga aku.

Byurrr…, ember putih di tangan Gus Rei memuntahkan seluruh isinya. Debu-debu terhanyut, semut-semut kalang kabut, kami semua terkejut. Teras itu basah seluruhnya.

Tanpa mengambil tempo, Syauqi berjalan kembali ke kantor. Kali ini langkahnya mantap dan sedikit tergesa-gesa sampai-sampai dia beberapa kali tergelincir dan nyaris jatuh. Sepertinya, sandalku yang dia pakai dan jalanan yang basah menjadi penyebabnya.

“Pak, Lantainya basah semua, bahkan sampai menggenang.”

“Oh, ya sudah. kalau begitu, ngajinya libur.”

“Iya pak, terima kasih.”

Secepat ia pergi, secepat pula ia kembali. Hanya saja kini senyumnya yang lebar terkembang dan lebih hati-hati saat melangkah.

“Woi, libur. Kata pak Ahmad ngajinya libur.”

Seperti prajurit diteriaki komandannya, kami semua serempak meninggalkan teras masjid itu. Di kepalaku terbayang nikmatnya melanjutkan tidur walau di atas kasur Palembang yang tipis. Tidak, bukan kami yang meninggalkan teras ini. Hanya mereka. Aku masih berdiri di sini. Mencari sandal jepit karet yang aus bagian bawahnya, sandalku. Aku teringat kepada Syauqi. Aku kembali tanpa alas kaki.

 

Penulis: Zahin Arfa Izzati Ahmad (Kelas 11 IPA 1)

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya