Nasihat K.H. Said Aqil Siroj kepada Wisudawan/i Angkatan IX Al-Tsaqafah

ALTSAQAFAH.ID – Prof.Dr. K.H. Said Aqil Siroj, Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah menyampaikan nasihat penting yang harus diingat oleh para santri Al-Tsaqafah. Nasihat tersebut disampaikan pada Upacara Wisuda dan Kelulusan Santri Angkatan IX Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Sabtu (11/05/2024).

Empat Hal yang Harus Diingat oleh Santri Al-Tsaqafah

Pertama, attamasuk biruhidin, beragama bukan hanya KTP, beragama bukan hanya akidah dan syariat, beragama bukan hanya menjadi stempelnya keputusan pemerintah. Selama ini kita banyak melihat kiai itu hanya menjadi stempelnya pemerintah. Kalau pemerintah butuh hukum, butuh legitimasi dari kiai, kiai diminta fatwa. Misalnya, hukumnya keluarga berencana halal, hukumnya bunga bank halal. Hanya diminta itu dan setelah itu selesai.

Peran para ulama tidak hanya memberi stempel keputusan pemerintah, tetapi membimbing, mengawal, mendidik masyarakat dari pemerintah sampai tukang sapu dibimbing agamanya, akhlaknya, karakternya, muamalahnya. Ishlâḫim bainan-nâs (membangun masyarakat, bukan membangun satu dua orang agar yang saleh ini bukan hanya kiai, bukan hanya ustaz, melainkan juga masyarakat yang saleh sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang saleh, jujur, amanah, baik, ramah, berakhlak, dan tidak ada korupsi.

Sebagai contoh, HP tertinggal di warung, sepeda motor tidak dikunci, mobil berada di luar rumah jika tetap aman, baru masyarakatnya bisa disebut saleh. Jadi, ulama itu berperan membangun masyarakat (ishlâḫim bainan-nâs).

Q.S. An-Nisa’: Ayat 114 (Juz 5).

۞ لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍ ۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

lâ khaira fî katsîrim min najwâhum illâ man amara bishadaqatin au ma‘rûfin au ishlâḫim bainan-nâs, wa may yaf‘al dzâlikabtighâ’a mardlâtillâhi fa saufa nu’tîhi ajran ‘adhîmâ

Ruhudin juga harus dibangun dengan ilmu pengetahuan. Para sahabat dahulu itu berjasa besar dalam meyebarkan agama Islam. Membangun peradaban dengan ilmu pengetahuan.

Kedua, ruhul wathaniyah, ketika nanti menjadi tokoh masyarakat, pemimpin, atau berperan menjadi apa saja, santri Al-Tsaqafah harus tetap mempunyai semangat nasionalisme yang kuat dan kokoh. Kita diberi amanah sebuah negara yang sangat besar. Dilahirkannya kita di bumi yang sangat luas dengan kekayaan yang sangat luar biasa merupakan amanah dari Allah. Santri Al-Tsaqafah harus mencintai Indonesia sampai kapan pun, jangan sampai pecah, seperti Timur Tengah, Afganistan, Suriah, Iraq, Libiya, Yaman.

Ketiga, santri Al-Tsaqafah menghormati perbedaan. Indonesia terdiri dari banyak suku, bahasa, agama, kepercayaan sehingga harus saling menghormati, tidak boleh saling mencaci maki.

Q.S. Al-An’am: Ayat 108 (Juz 7)

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ  كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

wa lâ tasubbulladzîna yad‘ûna min dûnillâhi fa yasubbullâha ‘adwam bighairi ‘ilm, kadzâlika zayyannâ likulli ummatin ‘amalahum tsumma ilâ rabbihim marji‘uhum fa yunabbi’uhum bimâ kânû ya‘malûn

Keempat, santri Al-Tsaqafah menghormati hak asasi manusia. Manusia siapa pun harus dihargai agamanya, kehidupannya, nyawanya, hartanya, keluarganya, dan harga dirinya.

Kutipan khotbah terakhir Nabi Muhammad saw.

أَيُهَا النَّاس، إنّ دِمَاءَكُمْ وَأمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَليكُمْ حَرَامٌ إلى أنْ تَلْقَوْا رَبَّكُمْ، كَحُرمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا في شَهْرِ كُمْ هَذَا في بَلَدِكُم هَذَا

Sebelumnya, Kiai Said menjelaskan bahwa berjalannya sembilan kali wisuda ini merupakan tajribah (eksperimen) dalam rangka membangun atau mencari sistem pendidikan yang ideal. Sistem yang menggabungkan antara pendidikan agama dan pendidikan peradaban dan budaya sebagai upaya menemukan sistem yang harmonis di antara keduanya.

Sistem tersebut, menurut Kiai Said, sebenarnya telah dilakukan oleh para kiai sebelum berdirinya Indonesia. Pesantren didirikan oleh para kiai sebelum berdirinya Indonesia, di antaranya Pesantren Syekh Qurro di Rengasdengklok Karawang, Pesantren Joko Tingkir Sultan Hadiwijaya di Lamongan, Pesantren Tebu Ireng, Pesantren Buntet, Pesantren Babakan, Pesantren Kempek, Pesantren Lirboyo, Pesantren Ploso, itu semuanya dalam rangka membangun manusia Indonesia yang beragama sekaligus berbudaya, berperadaban, berkemajuan, mempunyai keahlian, dan berperan membangun masyarakat dengan dasar ilmu agama.

Kiai Said menegaskan, berdirinya Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah merupakan upaya melanjutkan perjuangan kiai-kiai terdahulu tersebut.

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya