Protokol Ketat Menyambut Kedatangan Santri

Berbagai kebijakan khusus diambil oleh tiap-tiap pondok pesantren dalam menyikapi kembalinya para santri ke pondok di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga mereda. Penegakan protokol kesehatan dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait dilakukan agar mata rantai penyebaran Covid-19 dapat diputus.

Seperti yang dilakukan Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan yang pada hari Minggu (10/1) menerima kembali kedatangan santri gelombang terkahir sebanyak 146 santri, yang berasal dari santri kelas tujuh tingkat Madrasah Tsanawiyah. Mereka harus melalui tiga pos pemeriksaan, yaitu: pos kedatangan, pos dokumen, dan pos swab anti-gen.

Kedatangan seluruh santri Al-Tsaqafah dijadwalkan secara bertahap sejak bulan Agustus tahun 2020 dengan memperhatikan protokol kesehatan yang sangat ketat. Ketua Satgas Pencegahan Covid-19 yang sekaligus Kepala Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, KH Sofwan Yahya menjelaskan bahwa langkah ini merupakan komitmen pesantren untuk terlibat aktif dalam pemutusan mata rantai Covid-19.

 “Sejak awal, protokol kesehatan yang kami terapkan di sini merupakan komitmen utama untuk memutus mata rantai persebaran Covid-19.  Penerapan protokol kesehatan ini, dimulai sejak 14 hari prakeberangkatan santri ke pesantren yaitu kewajiban isolasi mandiri di rumah masing-masing dengan dibuktikan catatan keseharian dan surat kesehatan dari dokter,” jelasnya.

Kiai Sofwan juga menambahkan bahwa santri diperkenankan masuk pesantren jika telah melewati tahapan yang telah ditentukan oleh Satgas Covid-19 pesantren. Tahapan tersebut adalah kelengkapan berkas kedatangan yang mencakup surat keterangan sehat, surat kesediaan kembali ke pesantren, dan riwayat aktifitas selama 14 hari sebelum kembali ke pesantren.

“Saat tiba di pesantren, santri wajib menyerahkan berkas-berkas kedatangan. Setelah itu mereka akan diarahkan ke bagian tes swab antigen lalu ke lapangan parkir untuk menunggu hasilnya. Jika santri dinyatakan non-reaktif, maka mereka bisa masuk asrama dengan melalui bilik antiseptik, mandi kedatangan, dan ganti pakaian, lalu setelah itu baru masuk ruang isolasi selama 14 hari. Namun, jika hasil swab antigen reaktif, maka santri dites swab PCR dan kemudian pulang kembali ke rumah, sembari menunggu hasilnya,” terangnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa setelah dua minggu masa karantina, para santri akan kembali dites swab antigen untuk menegasakan kondisi para santri. Jika non-reaktif mereka bisa memasuki asrama dan mengikuti kegiatan rutinitas pesantren dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan seperti pakai masker, sering mencuci tangan, dan menjagak jarak. Sementara itu, yang hasil swabnya rekatif tetap berada di ruang isolasi sampai dinyatakan sehat oleh dokter.

Gelombang kedatangan santri ini telah dimulai sejak bulan Agustus tahun 2020 , dengan rincian dimulai dari kelas paling akhir,  rombongan kelas XII Madrasah Aliyah dan dilanjut secara bergiliran sampai kelas VII Madrasah Tsanawiyah dengan jarak kedatangan tiga minggu sampai satu bulan.

Seperti diketahui, banyak lembaga pendidikan yang masih melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagaimana keputusan pemerintah masing-masing. PJJ memang menjadi satu solusi pencegahan Covid-19 di lingkungan pendidikan, tapi sistem PJJ juga menimbulkan masalah dan dampak buruk terhadap kesehatan psikologis peserta dan orang tua didik.

Hal di atas menjadi satu alasan pesantren untuk dilakukannya pembelajaran tatap muka langsung, dengan pertimbangan aktivitas santri di asrama dapat diawasi secara penuh. Selain itu juga hanya guru asrama dan sekitar pesantren yang diperbolehkan mengajar langsung, sementara guru yang jaraknya jauh tetap dilakukan PJJ semi daring dengan mengirimkan beragam media pembelajaraan.

“Berbeda dengan santri di pesantren, mayoritas siswa di sekolah dan madrasah tidak tinggal di asrama sehingga aktifitas mereka di luar lembaga tidak dapat diawasi dan dipantau. Dan itu sangat risakan bagi penyebaran Covid-19, terlebih di daerah zona kuning, merah atau hitam. Semoga di pesantren ini para santri tetap sehat wal’afiat juga semangat mengaji dan belajar,” harapnya.

Demi menunjang kelancaran kedatangan santri ke pesantren, Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah melakukan kerjasama dengan pihak-pihak terkait termasuk Puskesmas, Kapolsek, Koramil dan berkordinasi langsung dengan pihak Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.