Perjuangan Kiai Dalhar Watucongol Mengawal Kemerdekaan dan Amalannya

ALTSAQAFAH.ID – K.H. Nahrowi Dalhar atau yang dikenal dengan Mbah Dalhar Watucongol merupakan ulama karismatik dari Magelang Jawa Tengah. Mbah Dalhar adalah mursyid tarekat Syadziliyah dan menjadi ulama panutan masyarakat.

Karisma dan kedalaman ilmu Mbah Dalhar menjadikannya sebagai gurunya para ulama. Mbah Dalhar menjadi rujukan umat Islam dan telah melahirkan banyak ulama, khususnya di wilayah Jawa Tengah.

Mbah Dalhar lahir di lingkungan Pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang. Beliau lahir pada 10 Syawal 1286 H/ 12 Januari 1870 M.

Sang ayah bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo adalah cucu dari Kiai Abdurrauf. Kekeknya Mbah Dalhar dikenal sebagai salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro.

Kisah Perjuangan Kiai Dalhar

K.H. Nahrowi Dalhar memiliki peran penting dalam perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonial. Mbah Dalhar ikut mengawal santri berjuang pada masa kemerdekaan. Para pejuang diberi ijazah doa dan bambu runcing yang telah diberi doa agar dimudahkan oleh Allah dalam bertempur mengawal perang pasca-kemerdekaan.

Mendaratnya pasukan militer NICA (Netherlands-Indies Civiele Administration) yang membonceng Sekutu di Surabaya pada 10 November 1945 menjadi momentum perjuangan para santri dan para kiai. Pertempuran di Surabaya yang melibatkan para santri dan rakyat Indonesia melawan Sekutu yang dipimpin Brigjen Mallaby meluas hingga ke Semarang, Ambarawa, dan Magelang.

Pertempuran laskar santri melawan pasukan sekutu meletus pada 21 November 1945. Pasukan sekutu berhasil dipukul mundur oleh laskar dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Divisi 5 Kedu yang dipimpin Kolonel Sudirman hingga akhirnya melarikan diri ke Ambarawa.

Perang terjadi lagi di pertahanan terakhir Sekutu, yakni Ambarawa, kemudian peristiwa ini disebut Palagan Ambarawa. Pada perang ini, Laskar Hizbullah dan tentara rakyat mengepung Ambarawa. Laskar Hizbullah Yogyakarta mengirim Batalyon Bachron Edrees, tepatnya di kawasan Jambu dan Banyubiru Semarang.

Para ulama se-Magelang mengadakan pertemuan untuk menyikapi situasi genting di wilayah Magelang dan sekitarnya, terutama Magelang, Ambarawa, dan Semarang.

Diriwayatkan oleh K.H. Saifuddin Zuhri, ulama se-Magelang mengadakan pertemuan di rumah pimpinan Hizbullah di belakang masjid besar Kota Magelang pada 21 November 1945. Pertemuan ini dilaksanakan sekitar pukul 03.00 dini hari.

Ulama yang hadir dalam pertemuan itu sebanyak 200 ulama. Para ulama menilai, gerakan batin atau gerakan rohani ini penting untuk menyikapi situasi genting saat itu.

Di antara ratusan ulama yang hadir, ada sejumlah ulama besar yang sangat ditunggu kehadirannya, yaitu K.H. Dalhar Watucongol, K.H. Siroj Payaman, K.H. R. Tanoboyo, dan K.H. Mandhur Temanggung. Mereka adalah empat ulama besar untuk Magelang dan sekitarnya yang akan memimpin riyadhoh ruhaniyah (gerakan batin).

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Letkol M. Sarbini, Letkol A. Yani, dan satu regu pengawal siap tempur itu, para ulama dan rakyat dipimpin empat ulama besar itu membaca aurod, antara lain Dalail Khoirot, Hizib Nashar li Abil Hasan Asy-Syadzili, Hizib al-Barri, dan Hizib al-Bahri, keduanya Li Abil Hasan Asy-Syadzili.

K.H. Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013), mencatat bahwa seketika itu Gedung Seminari Katolik dikosongkan. Mereka (Sekutu) mengangkut semua perlengkapan. Bukan hanya persenjataan, melainkan juga alat perbekalan dan perabotan rumah tangga.

Proses evakuasi Sekutu dimulai pukul 04.00 menjelang subuh. K.H. Saifudin Zuhri teringat saat K.H. Dalhar bermunajat dengan Hizib Nashar. Ia meyakini bahwa dua kejadian tersebut, yaitu proses evakuasi oleh Sekutu dan munajat Kiai Dalhar terjadi secara bersamaan.

Kisah perjuangan Kiai Dalhar menjadi bukti bahwa ulama dan santri punya peran penting dalam mengawal negeri. Kiai Dalhar wafat pada 23 Ramadan, 8 April 1959. Beliau dimakamkan di pemakaman Gunungpring, Watucongol, Muntilan, Magelang.

Amalan Kiai Dalhar Watucongol

1. Membaca Selawat Munjiyah 1000 Kali

“Tirakati anakmu dengan membaca sholawat Munjiyah 1000 kali setiap hari wetonnnya selama tiga tahun berturut-turut. Lakukan itu sebelum anak masuk usia TK. Faidahnya, Insya Allah kelak suatu hari si anak bakal kembali ke jalan yang benar/baik meski bergaul sama siapa saja.”

Riwayat K.H. Chalwani Nawawi Berjan Purworejo pada hari Sabtu, 3 April 2021 di PP. Raudlatul Falah Gembong Pati. Beliau menerimanya dari K.H. Khudlori Tegalrejo Magelang, dari K.H. Dalhar Watucongol.

Redaksi Selawat Munjiyah:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ، وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَی الدَّرَجَاتِ، وَتُبِلِّغُنَا بِهَا أَقْصَی الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ

2. Membaca Surah Al-Falaq 7 kali Setiap Hari

Riwayat K.H. Achmad Chalwani bahwa di dalam Kitab Tanwirul Ma’ali Karya Al-‘Arif Billah Simbah K.H. Dalhar bin Abdurrahman beliau berkata, “Barang siapa menjelang Magrib membaca Surah Al-Falaq 7 kali setiap hari, maka tidak akan pernah sepi dari rizki.”

3. Doa Semangat Bekerja Berbahasa Jawa

Allaahumma ubat ubet biso nyandang biso ngliwet
Allaahumma ubat ubet mugo-mugo pinaringan slamet
Allaahumma kitra kitri sugih bebek sugih meri
Allaahumma kitra kitri sugih sapi sugih pari

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya