Al-Tsaqafah Raih Juara Nasional Lomba Debat Sejarah di Universitas Indonesia

ALTSAQAFAH.ID – Tim Debat Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah berhasil meraih Juara Harapan Satu dalam Lomba Debat Sejarah di Universitas Indonesia, Depok pada Rabu (30/10/2024).

Menurut Arin Ibrahim, guru sejarah di Al-Tsaqafah, lomba debat sejarah ini terdiri dari lima babak dengan total peserta 110 tim debat dari berbagai sekolah di Indonesia.

“Babak pertama itu lomba esai. Di babak pertama, 110 tim debat disisihkan menjadi 16. Babak kedua sampai keempat itu debat secara daring. Babak kedua, menjadi 8. Babak ketiga dan keempat menjadi 4. Selanjutnya, 4 tim debat yang terbaik itu menuju babak kelima, yaitu final yang dilaksanakan di Auditorium Gedung 1 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia,” jelas Arin.

M. Ihsan Kamil, salah satu anggota Tim Debat Al-Tsaqafah, mengungkapkan bahwa Juara Harapan Satu adalah pencapaian yang besar baginya sebab ini adalah kali pertama Al-Tsaqafah mengikuti Debat Sejarah History Fair di Universitas Indonesia.

“Pertama kalinya Al-Tsaqafah ikut Debat Sejarah History Fair di UI dan bisa dapet Juara Harapan Satu itu adalah pencapaian yang besar,” ucap Ihsan.

Anggota lain, Najad Ahmad, juga mengungkapkan hal yang serupa.

“Secara pribadi, saya sebagai peserta debat, seneng bisa juara. Lumayan, dari 110 sekolah di seluruh Indonesia, bisa keluar sebagai Juara Harapan Satu itu, menurut saya, lebih dari cukup sebenernya. Apalagi ini kali pertama kita ikut dan kita juga satu-satunya perwakilan madrasah dan bahkan pondok pesantren di final,” jelas Najad.

Yusuf Sirodjul Qori, anggota lain, mengungkapkan bahwa hasil lomba sebenarnya bukanlah fokus utamanya, melainkan proses yang dilalui.

“Meskipun belum bisa juara satu, tapi intinya yang penting, kan, menikmati perjalanannya. Banyak hal yang bisa kita pelajari. Cara belajarnya, cara ngomong, berargumen. Banyak juga kita dapet kenalan dari sekolah lain,” jelas Yusuf.

Kemenangan Tim Debat Al-Tsaqafah ini juga tidak bisa dilepaskan dari peran pembimbing mereka, Ibu Noor Khayati. Menurutnya, latihan debat sudah dimulai dari tanggal 19 September 2024 dan berlangsung kurang lebih satu bulan.

“Mereka sudah punya pemahaman materi yang cukup baik dari pembelajaran di kelas. Jadi, selama kurang lebih satu bulan itu latihannya saya fokuskan ke diskusi mendalam tentang topik yang relevan, simulasi debat dan evaluasi berkala,” jelas Khayati.

Dalam latihan tersebut, Khayati juga mengamini bahwa dirinya selalu memosisikan diri sebagai lawan yang sepadan, bahkan lebih.

“Betul, saya mencoba memosisikan diri sebagai lawan debat setiap latihan. Hal ini agar mempersiapkan santri agar siap menghadapi berbagai skenario debat dan melatih mereka agar bisa berpikir kritis secara cepat dari berbagai perspektif, serta untuk membangun kepercayaan diri dalam berargumen,” tutupnya.

Tim Debat Al-Tsaqafah mengaku bahwa pencapaian ini tidak mungkin terjadi tanpa bantuan pembimbing mereka.

“Jujur, menurut saya, tanpa bimbingan Bu Khayati, mungkin kita ga bakal sampai Juara Empat. Serius,” jelas Najad.

Meskipun belum berhasil meraih posisi pertama, Tim Debat Al-Tsaqafah mengaku mempelajari banyak hal dari pemangku puncak juara tersebut.

“Data mereka lebih lengkap, sumber-sumber primernya mereka catet dan punya diktat tersendiri terkait itu. Kita belajar banyak dari mereka. Cara berargumen, cara menanggapi argumen lawan. Mereka punya ekskul debat. Jadi, latihannya udah dari kelas 9 dan mereka kelas 12 sekarang,” jelas Tim Debat Al-Tsaqafah.

“Mungkin nanti di Al-Tsaqafah bisa juga ada ekskul debat biar santri terlatih public speaking, biar hujah santri itu enggak kalah sama orang Kristen. Soalnya juara satu dan duanya itu orang Kristen,” tutup mereka.

 

Reporter: Fajri Fauzi

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya