Kalimat Jaa Zaidun (جاء زيد) Berdasarkan 7 Disiplin Ilmu (Tamat)

Setelah hiatus beberapa bulan karena menjadi bapak rumah tangga, akhirnya penulis bisa menyelesaikan tulisan ja zaidun (جاء زيد) berdasarkan dua disiplin ilmu yang terakhir, yaitu ‘Arudh dan Maqulat. Dua disiplin ilmu ini sangat langka sekali. Setahu penulis, di Tasikmalaya, hanya beberapa pondok saja yang masih eksis mengajarkan kedua disiplin ilmu ini. Oleh karena itu, penulis hanya menjelaskan secara umum kedua ilmu tersebut beserta kaitannya dengan kalimat jaa zaidun berdasarkan kitab risalah muta’alliqoh bi jaa zaidun.

Langsung saja untuk disiplin ilmu ‘Arudh, penulis awalnya penasaran dengan syair-syair yang ada dalam kitab Ta’limul Muta’alim. Dalam benak penulis, syair-syair itu pasti mempunyai nama. Karena rimanya terbentuk dengan indah dan terpola sehingga pasti ada irama yang khas untuk setiap bait yang ada.

Benar saja, pola irama dalam syair-syair arab dinamakan bahar. Yang mana, bahar tersebut jumlahnya tidak hanya satu. Dalam kitab Mukhtashor Syafi, jumlahnya ada 16, yaitu Bahar Thowil, Madid, Basith, Wafir, Kamil, Hazaj , Rojaz, Romal, Sari’, Munsarih, Khofif, Mudhori`, Muqtadhob, Mujtats, Mutaqorib, dan Mutadarok. Seperti dalam sebuah bait:

طويل مديد فالبسيط فوافر #  فكامل اهزاج الاراجيز ارمل

سريع سراح فالخفيف مضارع #  فمقتضب مجتث قرب لتفضلا

Lantas lafaz jaa zaidun jika ditinjau dari sisi ilmu ‘arudh dinamai apa? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, para pembaca yang budiman harus mengenal dulu istilah huruf-huruf yang dipotong (احرف التقتيع)  yang jumlahnya ada enam macam. Untuk mempermudahnya mari perhatikan bait syair berikut ini:

لم ار على ظهر جبل سمكتن # لم ار على غص شجر بقرة

Ada enam istilah yang ada dalam ilmu ‘arudh :

  1. Sabab Khofif, yaitu lafaz yang terdiri dari dua huruf, yang mana huruf pertama berharakat dan huruf yang kedua sukun. Contoh: lafaz lam (لم)
  2. Sabab Tsaqil, yaitu lafaz yang terdiri dari dua huruf yang mana huruf peratma dan kedua berharokat. Contoh: lafaz aro (ار)
  3. Watad Majmu`, yaitu lafaz yang terdiri dari tiga huruf yang mana huruf pertama dan kedua berharakat sedangkan huruf yang ketiga sukun. Contoh: lafaz ‘ala (على)
  4. Watad Mafruq, yaitu lafaz yang terdiri dari tiga huruf yang mana huruf pertama dan ketiga berharakat sedangkan huruf yang kedua sukun. Contoh: lafaz dzohrin (ظهر)
  5. Fashilah Sughra, yaitu lafaz yang terdiri dari empat huruf yang mana tiga huruf awal berharakat dan huruf terakhir sukun. Contoh: lafaz jabalin (جبلن)
  6. Fashilah Kubro, yaitu lafaz yang terdiri dari lima huruf yang mana empat huruf pertama berharakat sedangkan huruf terakhir sukun. Contoh: lafaz samakatan (سمكتن)

Baca juga:

Setelah memahami enam istilah di atas, maka kita dapat memereteli kalimah jaa zaidun berdasarkan ilmu ‘arudh. Syekh Ahmad Zaini Dahlan menjawab dalam kitabnya:

فالجواب أنهم يسمون جاء وتد مفروقا لأنه ثلاثة أحرف أوسطها ساكن ويسمون زيدا مركبا من سببين خفيفين

“Maka jawabannya adalah bahwasanya para ulama ahli ilmu ‘arudh menamai lapad ja sebagai watd mafruq karena terdiri dari tiga huruf yang mana huruf tengahnya sukun, kemudian lafaz zaidun tersusun dari dua lafaz, yaitu Zai (زي) dan dun (دن), yang mana kedua lafaz tersebut disebu sabab khofif sesuai penjelasan di atas (huruf pertama berharakat dan kedua sukun).

Terakhir, lafaz jaa zaidun ditinjau dari ilmu maqulat. Untuk pembahasan ilmu maqulat, penulis masih belum menguasai disiplin ilmu ini. Akhirnya, penulis membeli buku Ilmu Maqulat karangan Muhammad Nurudin. Konon beliau lagi naik daun, karena mengalahkan Guru Gembul dalam debat terbuka.

Menurut Muhammad Nuruddin, “Ilmu Maqulat ialah ilmu yang membahas tentang genus-genus superior yang diberlakukan bagi semua wujud yang berada di luar. Lebih mudahnya, Ilmu Maqulat ialah ilmu yang membahas kategori-kategori.”

Adapun kategori yang dibahas berjumlah 10, yaitu jauhar, ‘aradh, kamm, kaif, idhafah, aina, mata, wadha, milk, fi`il, dan infi`al. Karena berjumlah 10 maka populer dengan istilah maqulat ‘asrah atau ten categories. Untuk lebih jelas lagi, silahkan baca bukunya!

Lantas lafaz jaa zaidun kalau ditinjau dari ilmu maqulat termasuk maqulat apa? Pada persoalan ini, Syekh Ahamd Zaini Dahlan memberikan jawaban yang berbeda, yaitu tergantung dari situasi kondisi. Tapi penulis lebih tertarik dari jawaban beliau ditinjau dari segi per-kata-nya.

وأما المفردات فكل من جاء و زيد من مقولة كيف  أيضا باعتبار كونها لفظين

Secara per kata lafaz jaa zaidun masing-masing termasuk maqulat kaif, demikian pula kalau dua kata tersebut disambung. Intinya, kondisinya zaid sekarang telah datang.

Akhir kata, pembahasan  Kalimat jaa zaidun (جاء زيد) berdasarkan 7 disiplin ilmu telah selesai. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi para pembaca yang budiman.

hilmifarid46@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Matematika dan Al-Jabr Wa Al-Muqabalah PPL Al-Tsaqafah (Periode 2013-2020 dan 2022-2024)