Benarkah Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Sesuai Syariah?

Pertanyaan:

Terima kasih sudah menjawab hukum investasi di Surat Berharga Negara (SBN) Konvensional. Namun, bagaimana dengan SBN yang syariah?

(Umi Rasya, asal Bandung, orang tua dari Faeza Hansa Syakira, alumni Al-Tsaqafah Angkatan ke-XI)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah, Alhamdulillah, wa ash-shalatu wa as-salamu ‘ala sayyidina Muhammad ibni ‘Abdillah. Ammaba’du.

Penanya yang budiman!

Secara sederhana, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) merupakan Surat Berharga Negara yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Keuangan sebagai bukti atas bagian penyertaan suatu aset.

Dengan kata lain, sukuk adalah surat berharga komersial berbentuk sertifikat hak milik yang menjadi bukti bahwa suatu aset merupakan kepemilikan dari pihak tertentu.

SBSN kerap juga disebut Sukuk Negara (SN). Pemahaman terhadap istilah ini penting untuk bisa memahami dengan baik, apakah SBSN sesuai dengan konsep syariah atau justru sebaliknya.

Dalam tinjauan fikih, SBSN memiliki kemiripan dengan praktik bai’ al-’inah. Dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Wahbah al-Zuhaili menggambarkan praktik tersebut sebagai berikut:

وبيع العينة: أن يقول شخص لآخر: اشتر سلعة بعشرة نقدًا، وأنا آخذها منك باثني عشر لأجل

Bai’ al-’Inah (digambarkan): jika seseorang berkata kepada pihak lain: ‘Belilah barang ini dengan harga cash 10 dirham, dan aku akan membelinya darimu dengan harga 12 dirham secara tempo” (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, vol. 5, h. 3453)

Hal senada juga disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah:

فَإِنَّ بَيْعَ الْعِينَةِ: أَنْ يَبِيعَ لِرَجُلٍ بِثَمَنٍ مُعَجَّلٍ سِلْعَةً كَانَ قَدِ اشْتَرَاهَا مِنْهُ بِثَمَنٍ مُؤَجَّلٍ أَكْثَرَ مِنْهُ

“Jual beli al-’inah adalah menjual kembali barang yang telah dibeli dengan harga tunai kepada pihak tersebut dengan harga tangguh (tempo) yang lebih tinggi.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, vol. 9, h. 271).

Berdasarkan deskripsi tersebut, ketentuan hukum SBSN dapat disandarkan pada pandangan para ulama mengenai praktik bai’ al-‘inah.

Ragam Pendapat Ulama tentang Bai’ al-’Inah

Dalam madzhab Syafi’i, Bai’ al-’Inah hukumnya boleh, dengan syarat harga dan tenor waktunya harus jelas. Hal ini sebagaimana penjelasan Imam al-Harawi yang dikutip oleh Imam al-Nawawi berikut:

وَفَسَّرَ أَبُو عُبَيْدٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَرَوِيُّ الْعِينَةَ هُوَ أَنْ يَبِيعَ الرَّجُلُ مِنْ رَجُلٍ سِلْعَةً بِثَمَنٍ معلوم إلى أجل مُسَمًّى ثُمَّ يَشْتَرِيَهَا مِنْهُ بِأَقَلَّ مِنْ الثَّمَنِ الَّذِي بَاعَهَا بِهِ

“Abu ‘Ubaid Ahmad bin Muhammad al-Harawi menjelaskan bahwa al-‘inah merupakan transaksi jual beli suatu barang oleh pihak pertama (penjual) dengan pihak kedua (pembeli) dengan harga yang disepakati sampai suatu tempo yang ditentukan. Kemudian, pihak pertama membeli kembali barang tersebut dengan harga yang lebih rendah dibanding ketika menjualnya, dengan harga yang diketahui juga.”

قَالَ وَإِنْ اشْتَرَى بِحَضْرَةِ طَالِبِ الْعِينَةِ سِلْعَةً مِنْ آخَرَ بِثَمَنٍ مَعْلُومٍ وَقَبَضَهَا ثُمَّ بَاعَهَا مِنْ طَالِبِ الْعِينَةِ بِثَمَنٍ أكثر مما اشتراه إلى أجل مسمى ثم بَاعَهَا الْمُشْتَرِي مِنْ الْبَائِعِ الْأَوَّلِ بِالنَّقْدِ بِأَقَلَّ مِنْ الثَّمَنِ فَهَذِهِ أَيْضًا عِينَةٌ وَهِيَ أَهْوَنُ مِنْ الْأُولَى وَهُوَ جَائِزٌ عِنْدَ بَعْضِهِمْ

Disampaikan juga bahwa bai’ al-’inah adalah jika seorang thalibu al-‘înah meminta orang lain membeli suatu barang darinya dengan harga yang maklum, lalu diserahkannya barang tersebut, kemudian meminta agar pembeli menjual kembali barang ke dia dengan harga yang lebih tinggi dibanding saat dia membeli darinya, dengan tempo yang disebutkan (disepakati). Lalu pembeli (melakukan apa yang diperintahkannya) dengan menjual barang tersebut ke penjual pertama dengan harga yang lebih sedikit dari saat dia membelinya. Hal sebagaimana disebutkan terakhir ini juga termasuk akad ‘înah, meskipun kelihatannya lebih ringan dari akad yang pertama. Dan hal semacam ini adalah boleh menurut sebagian ulama” (Syarifuddin Al-Nawawi, al-Majmu’ ‘Ala Syarh al-Muhadzdzab, vol. 10, h. 153)

Diperbolehkannya Bai’ al-’Inah menurut Imam al-Syafi’i, sebagaimana dikutip oleh Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’-nya, karena jual beli yang pertama bukan satu kesatuan dengan jual beli yang kedua. Pandangan Imam al-Syafi’i tersebut lebih tepatnya sebagai berikut:

قَالَ الشَّافِعِيُّ رحمه الله مَنْ بَاعَ سِلْعَةً مِنْ السِّلَعِ إلَى أَجَلٍ وَقَبَضَهَا الْمُشْتَرِي فَلَا بَأْسَ أَنْ يَبِيعَهَا مِنْ الَّذِي اشْتَرَاهَا مِنْهُ بِأَقَلَّ مِنْ الثَّمَنِ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ دَيْنٍ أَوْ نَقْدٍ لِأَنَّهَا بَيْعَةٌ غَيْرُ الْبَيْعَةِ الْأُولَى

“Imam Syafi’i rahimahullah berkata, ‘Jika seseorang menjual suatu barang secara kredit, lalu pembelinya mengambilnya, maka tidak mengapa baginya menjualnya kepada orang yang membelinya dengan harga lebih rendah atau lebih tinggi, baik secara kredit maupun tunai. Karena jual beli ini berbeda dengan jual beli yang pertama.'” (Syarifuddin Al-Nawawi, Al-Majmu’ ‘Ala Syarh al-Muhadzdzab, vol. 10, h. 149).

Meskipun Bai’ al-‘Inah dalam madzhab Syafi’i adalah boleh, tapi menurut Imam al-Adzra’i perlu untuk diklasifikasi lebih lanjut. Menurutnya:

قَالَ الْأَذْرَعِيُّ وَيَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ إنْ بَاعَهُ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ أَوْ حَاجَةٍ إلَى بَيْعِهِ كُرِهَ وَعَلَيْهِ يَنْزِلُ النَّصُّ لِأَنَّهُ كَالْكَرَاهَةِ فِيهِ وَإِنْ بَاعَهُ لِحَاجَةٍ لِدَيْنٍ أَوْ نَفَقَةٍ لَمْ يُكْرَهْ وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ كَلَامُ الرُّويَانِيِّ وَغَيْرِهِ. اهـ.

Imam al-Adzra’i berkata: Seharusnya perlu untuk ditegaskan, jika ia menjualnya tanpa ada kebutuhan atau terpaksa untuk menjualnya, maka bai’ al-’inah itu adalah makruh. Namun, jika ia menjualnya karena kebutuhan akan utang atau biaya, maka itu tidak makruh. Inilah yang dimaksud dari perkataan Al-Ruyani dan lainnya” (Hasyiyah al-Ramli al-Kabir, vol. 2, h. 42).

Sebaliknya, dalam madzhab yang lain, yakni menurut madzhab Malikiyah, Hanafiyah, Hanabilah, Hadawiyah, dan Zaidiyah, Bai’ al-‘Inah adalah tidak boleh. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu.

فيكون بيع العينة ممنوعًا غير جائز عند مالك وأبي حنيفة وأحمد والهادوية من الزيدية. وجوز ذلك الشافعي وأصحابه مستدلين على الجواز في الظاهر بما وقع من ألفاظ البيع التي لايراد بها حصول مضمونه.

Dengan demikian, jual beli ‘inah dilarang dan tidak boleh menurut Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, madzhab Hadawiyah dan Zaidiyah. Sedangkan Imam al-Syafi’i dan para santrinya memperbolehkan Bai’ al-’Inah” (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, vol. 4, h. 3034).

Kesimpulan

Dari berbagai macam transaksi yang disebutkan dalam literatur fikih, bai’ al-‘inah lebih memiliki kemiripan skema SBSN. Para ulama berbeda pendapat tentang bagaimana hukum bai’ al-‘inah.

Menurut mazhab Syafi’i, bai’ al-‘inah adalah boleh. Sedangkan menurut mazhab Malikiyah, Hanafiyah, Hanabilah, Hadawiyah, dan Zaidiyah, bai’ al-‘inah adalah tidak boleh.

Dengan kata lain, berinvestasi dengan membeli SBSN adalah boleh menurut mazhab Syafi’i dan tidak boleh menurut mazhab Malikiyah, Hanafiyah, Hanabilah, Hadawiyah, dan Zaidiyah.

 

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

adepradiansyah1991@gmail.com   Postingan Lainnya

Guru Fiqh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah