Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah memberikan pembekalan strategi kepada para santri kelas 12 untuk menghadapi Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2025. Dalam sosialisasi yang digelar pada Jumat (3/10/2025), para santri diingatkan agar tidak salah dalam memahami fungsi Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Koordinator Kurikulum Bidang Madrasah Aliyah, Najib Zamzami, menekankan adanya kesalahpahaman umum mengenai TKA yang membuat banyak siswa dan orang tua salah fokus. Menurutnya, banyak yang terlalu berfokus pada TKA ketimbang persiapan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).
“Padahal, TKA itu syarat untuk SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi), yaitu bagi siswa yang eligible atau masuk peringkat 40% tertinggi di jurusannya,” jelas Najib. “Bagi yang tidak masuk dalam kuota eligible, TKA ini seharusnya tidak ada fungsinya.”
Meski TKA hanya krusial untuk jalur SNBP, pihak Al-Tsaqafah tetap mewajibkannya bagi seluruh siswa kelas 12. Najib menjelaskan, kebijakan ini bertujuan agar mereka terlatih dan terbiasa dengan sistem ujian berbasis komputer yang formatnya serupa dengan UTBK.
Lebih lanjut, Najib memaparkan perbedaan kuota penerimaan di tiga jenis Perguruan Tinggi Negeri (PTN), yakni PTN Badan Hukum (BH), Satuan Kerja (Satker), dan Badan Layanan Umum (BLU).
“Kampus-kampus besar seperti UI, UGM, dan Brawijaya itu kan PTNBH. Dalam pembagian kuota, jatah untuk jalur mandiri bisa mencapai 50%,” ungkapnya.
Konsekuensinya, porsi untuk jalur SNBP dan SNBT di PTNBH menjadi lebih kecil. Sebaliknya, PTN Satker dan BLU memiliki kuota jalur mandiri yang lebih sedikit (maksimal 30%), sehingga peluang di jalur SNBP dan SNBT lebih besar.
Dengan fakta ini, Najib mendorong siswa yang tidak masuk kuota eligible SNBP untuk menyusun strategi realistis dengan memaksimalkan peluang di jalur SNBT dan Mandiri.
“Kalau memang menargetkan kampus favorit dan yakin, kejarlah di jalur mandiri atau UTBK, tidak usah terlalu fokus pada nilai TKA. Apalagi nilai UTBK juga bisa digunakan untuk mendaftar di jalur mandiri,” sarannya.
Sosialisasi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman utuh bagi siswa dan orang tua, terutama menjelang pertemuan wali santri. Dengan informasi yang jelas, siswa dapat menentukan fokusnya: memaksimalkan jalur prestasi SNBP atau bertarung di jalur tes melalui UTBK-SNBT dan ujian mandiri.
“Supaya orang tua juga punya rencana dan tidak memaksakan semuanya,” tutup Najib, merujuk pada banyaknya beban akademik siswa kelas 12, mulai dari ujian sekolah hingga munaqosyah.

