Santri Mampu Bersaing Masuk Perguruan Tinggi Negeri?

ALTSAQAFAH.ID – Perguruan Tinggi Negeri (PTN) banyak diminati oleh siswa tingkat akhir SMA/MA. Alasannya bermacam-macam, mulai dari biaya kuliah yang lebih murah daripada perguruan tinggi swasta hingga tidak ingin kalah gengsi dengan teman-temannya.

Bukan hanya siswa sekolah umum yang mendambakan Perguruan Tinggi Negeri, melainkan juga para santri dari pondok pesantren. Akan tetapi, biasanya terdapat permasalahan dari santri-santri yang ingin masuk Perguruan Tinggi Negeri, mulai dari insecure dengan teman-teman yang menuntut ilmu di sekolah umum, takut perihal iuran semester yang lumayan mahal hingga takut terjumus kepada pergaulan bebas.

Jika rekan-rekan santri takut kalah saing dengan teman-teman yang menuntut ilmu di sekolah umum, para santri harus bisa mengimbangi antara belajar pelajaran eksakta, menghafal, dan pelajaran pondok seperti kitab kuning. Seharusnya para santri lebih diuntungkan karena santri dapat mencari referensi pengetahuan umum dari manuskrip-manuskrip ulama Islam zaman dahulu. Banyak ulama Islam zaman dahulu yang menguasai banyak bidang, contohnya jika ada di antara rekan-rekan santri yang ingin mengambil jurusan matematika murni dapat mencari referensi dengan membaca kitab Al Jabar wa al Muqabalah karya Imam Al-Khawarizmi, begitu juga dengan jurusan kedokteran dapat membaca kitab-kitab karangan Imam Ibnu Nafis, juga di bidang sejarah dapat membaca kitab karangan Ibnu Khaldun. Jadi, para santri tidak perlu lagi takut kalah saing dengan teman-teman yang lain.

Selanjutnya perihal biaya semesteran, rekan-rekan santri tidak perlu khawatir karena sekarang banyak lembaga dan universitas yang menyediakan beasiswa untuk para santri. Salah satu contohnya seorang guru kami pernah memberi informasi bahwa ada suatu universitas ternama di Indonesia yang menyediakan beasiswa bagi santri yang hafal Al-Qur’an minimal 1 juz, sedangkan telah banyak rekan-rekan santri yang telah hafal lebih dari itu, bahkan ada yang sudah hafal 30 juz. Jadi, rekan-rekan santri tidak perlu khawatir akan biaya. Jika kita bersungguh-sungguh, pasti akan ada banyak jalan yang terbuka.

Permasalahan terakhir tentang pergaulan bebas lingkungan luar pesantren. Seharusnya para santri bisa menyesuaikan diri di masyarakat. Jangan sampai malah kita yang salah jalan ketika kita sudah terjun langsung ke masyarakat. Seharusnya kita sebagai santri saling mengingatkan jika melakukan suatu hal yang tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan dan mengajak ke jalan yang benar.

Jadi, rekan-rekan santri tidak perlu ragu untuk melanjutkan pendidikan ke universitas-universitas negeri. Sebagaimana kata pepatah man jadda wa jada, barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan berhasil.

 

 

 

Penulis: Mari’e Muhammad Wildan (Kelas XI IPA 1)

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya