ALTSAQAFAH.ID – Pelaksanaan halalbihalal di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah berlangsung dengan khidmat. Halalbihalal diawali apel bersama di lapangan dengan mendengarkan tausiah dari Kepala Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, K.H. Sofwan Yahya.
لَيْسَ الْعِيْدُ لـِمَنْ لَبِسَ الـْجَدِيْدَ إِنَّـمَا الْعِيْدُ لـِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ
“Hari raya bukanlah bagi orang yang memakai pakaian baru, namun hari raya adalah bagi orang yang ketaatannya bertambah.” (Al-Hafidz Abdurrahman b. Ahmad b. Rajab al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif, Beirut: Dar Ibni Katsir, 1999, Cet. V, H. 483)
Kemudian para santri bersalaman dan bermaaf-maafan dengan para guru diiringi lantunan selawat dan dilanjutkan foto bersama.

Halalbihalal merupakan tradisi khas Indonesia yang sudah berlangsung lama, bahkan ratusan tahun. Dari penelusuran Ahmad Baso, terdapat sumber primer tentang halalbihalal pada naskah Jawa asal Demak-Cirebon abad 17-18. Di dalam naskah tersebut terdapat istilah “halal ba halal” yang menceritakan sebuah peristiwa seorang tokoh Wali Songo, yaitu Sunan Gunung Jati yang mengarungi samudra untuk halalbihalal ke gurunya, yaitu Syekh Nur Jati.

nya anyabrang.
Semana alabuh pateng Ki Samsu (pemilik perahu yang mengantarkan Kangjeng Sunan Gunung Jati) ngeli samodra (mengarungi laut), nutobak paran paranai (ombaknya landai, tidak keras) ing Carebon kawarnaha,
Sunan Makedum (Sunan Gunung Jati) sira, mring Seh Alul Iman (Syekh Nur Jati Cirebon) guru wus dangu genpatakenan (sang guru yang sudah lama dinantikan ingin bertemu dan bertanya pada).
Seh Alul Iman minta sing(g)ah aneda Halal Ba Halal, anak mas Cirebon mongke ing Kali Sampu (Kali Sapu di Cirebon) halalna (maka berujar sang guru: putra mas Cirebon yang berdiam di Kali Sapu, basis pesantren awal Sunan Gunung Jati) saya halal-kan kamu… yakni maafkan dan terima silaturahimmu.
Selain sumber primer naskah Jawa tersebut, terdapat juga istilah halalbihalal pada naskah Babad Cirebon riwayat Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang menceritakan warga Jepara melakukan halalbihalal dengan seorang waliyullah Pangeran Ibrahim Karang Kamuning atau Sunan Atas Angin, menantu dari Sunan Ampel.

Wong Japara sami hormat sadaya umek Desa Japara kasuled polah ing masjid kaum sami ajawa tangan (berjabat tangan) sami anglampah Halal Ba Halal sami rawuh amarek dateng Pangeran Karang Kamuning. (sba)

