ALTSAQAFAH.ID – Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah menyelenggarakan Munaqasyah bahasa Arab pada Minggu (20/10/2024). Munaqasyah tahun ini mengusung konsep yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu dengan menguji kompetensi santri dalam empat elemen dasar bahasa Arab: membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan.
Nahjus Shofa, selaku koordinator bahasa Arab, menjelaskan bahwa pelaksanaan Munaqasyah bahasa Arab tahun ini mengusung konsep yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Pada tahun-tahun sebelumnya, Munaqasyah lebih mengedepankan hafalan dan penampilan saja, padahal keterampilan berbahasa itu tidak ada hafalan. Oleh karena itu, di Munaqasyah tahun ini, kita menguji spontanitas santri dalam berbahasa,” jelas Shofa.
“Spontanitas di sini mencakup empat elemen dasar. Pertama adalah Maharah al-Kalam (Kemampuan Bicara), kita menguji mereka dengan berdialog dalam bahasa Arab secara spontan. Kedua, Maharah al-Istima’ (Kemampuan Mendengar), di sini kita menguji daya tangkap mereka dalam mendengar dan menganalisis sebuah video berbahasa Arab. Ketiga, Maharah al-Qira’ah (Kemampuan Membaca), kita menguji mereka dalam membaca suatu cerita. Membaca dalam bahasa Arab itu tidak seperti ngaji. Ada intonasi, titik koma yang harus perhatikan. Terakhir, Maharah al-Kitabah (Kemampuan Menulis), kami tekankan agar anak tidak hanya pintar ngomong saja, tapi juga mampu menulis, mengarang sebuah tulisan dengan tema tertentu,” tutup Shofa.

Izzul Insani, selaku salah satu penguji, menjelaskan bahwa Munaqasyah tahun ini cukup memuaskan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Secara garis besar cukup memuaskan. Banyak yang lancar berdialog dengan saya meskipun tidak dipungkiri ada beberapa yang ketika ditanya kebingungan mau menjawab seperti apa. Mungkin mereka grogi berhadapan dengan saya,” tutur Izzul.
Zahin Arfa, salah satu peserta Munaqasyah, mengungkapkan bahwa Munaqasyah tahun ini memiliki metode yang sangat baik dibanding sebelumnya.
“Lebih enak, sih, lebih bagus, soalnya enggak seperti dulu yang harus mengonsep presentasi, yang harus edit-edit. Apalagi yang tahun sebelum kemarin, buat drama, harus ngonsep teks segala macem, dialog, ditambah ngeluarin dana untuk properti. Kalau sekarang kan bahannya full dari buku pelajaran bahasa Arab. Yang selama enam tahun kita pelajari,” jelas Zahin.
Peserta lain, Hafito Wijaya, merasa bahwa konsep Munaqasyah sekarang berhasil memotret secara objektif kemampuan setiap santri dalam berbahasa.
“Di Munaqasyah kali ini, santri yang diuji jadi lebih kelihatan jelas kemampuannya. Penguji juga akhirnya tahu gimana kelebihan dan kekurangan setiap santri buat evaluasi ke depannya. Kita, santri, juga jadi tahu kekurangan diri masing-masing. Kita jadi introspeksi diri sendiri,” ucap Hafito.
Pelaksanaan Munaqasyah tahun ini dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama, yaitu ujian mendengarkan dan menulis. Santri kelas 12 dibagi menjadi empat kelompok dan ditempatkan ke dalam empat ruangan. Kemudian dilanjutkan sesi kedua, yaitu ujian berbicara dan membaca. Para santri dipecah menjadi banyak kelompok dan melakukan dialog bersama penguji. Setelah itu, mereka diuji dalam membaca teks yang disediakan dengan tema yang juga relevan dengan mereka, seperti universitas yang akan mereka pilih setelah lulus nanti.
Reporter: Fajri Fauzi

