ALTSAQAFAH.ID – Sebelas tahun yang lalu (tahun 2011), setiap hari Senin malam, tepatnya bakda Magrib, kami berangkat dari Ciputat ke Ciganjur untuk mengais luberan berkah dan ilmu Abuya Said Aqil Siroj. Iya, kami, santri-santri yang kuliah di sekitar Ciputat. Dengan berkendara motor roda dua ala kadarnya, kami berangkat setelah salat Magrib untuk mengaji pada beliau. Kitab Risalatul Qusyairiyyah, Tafsir Al-Kabir (Mafatihul Ghaib), dan Shillatullah bil Kaun (disertasi beliau) adalah kitab-kitab yang dibaca dan dijelaskan oleh beliau secara bergiliran. Kami menyimak, mencatat, dan menerjemahkan pengajian beliau. Itu adalah bagian rutinitas kami selama mengaji kepada Buya Said. Menerjemahkan pengajian dijadikan “PR” untuk pertemuan minggu depannya. Secara bergilir, kami menerjemahkan pengajian-pengajian beliau. Sekali pernah menerjemahkan, banyak revisi dari Buya Said (maklum, keluar pesantren angetan dan baru semester awal kuliah).

Setelah berjalan dua tahun, melalui salah satu keponakannya, kami dikabarkan bahwa Buya Said akan membuka pondok pesantren yang letaknya tidak jauh dari ndalem beliau. Beberapa kali setelah selesai ngaji, kami diajak mampir ke “calon” pesantren yang masih dalam tahap pembangunan. Kami melihat gedung berlantai dua dengan enam ruang (sekarang menjadi asrama putri) di remang-remang kegelapan (karena belum diberikan penerangan dan masih dalam tahap pembangunan), sekadar melihat-lihat tempat yang nanti dipersiapkan menjadi ladang amal beliau.
Membangun pondok pesantren adalah manifestasi dari pesan ayah beliau, K.H. Aqil Siroj. Buya Said pernah berkata, “Ayahku (K.H. Aqil Siroj) berpesan, hidup di mana pun jangan sampai jauh dari pondok.” Dari pesan sang ayah inilah keinginan beliau membuka pondok pesantren yang sudah lama dicita-citakannya terwujud dengan berdirinya Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah.
Dua atau tiga bulan menjelang dibuka dan dimulainya aktivitas pondok dan madrasah, persiapan pembukaan pondok dimusyawarahkan bersama beberapa santri Buya Said. Mulai dari perekrutan guru dan pengurus, penyusunan kurikulum pesantren, dan segala keperluan madrasah dan pondok pesantren. Tidak lupa pula mencari bibit-bibit santri dari berbagai daerah, khususnya dari santri-santri Pondok Pesantren KHAS Kempek. Hasilnya, sebanyak 12 santri awal yang menjadi bibit santri Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, yang kemudian bertambah hingga berjumlah 29 santri.
Pada tanggal 10 Juli tahun 2013, yang bertepatan dengan tanggal 1 Ramadan 1434 H, santri-santri awal mulai datang dan menjadi awal aktivitas pondok pesantren. Di tengah hujan gerimis, Buya Said datang ke pondok sepulang dari kantor PBNU untuk menyambut dan menyapa santri-santri tersebut yang mayoritas berasal dari daerah Krangkeng, Indramayu.
Kesempatan khidmah pada Buya Said tiba dengan dimulainya aktivitas pondok pesantren. Ketika diminta untuk membantu santri-santri Buya Said, saya dan teman-teman santri Buya Said yang lainnya pun menyanggupinya meskipun pada hari-hari pertama harus bolak-balik Ciputat-Ciganjur. Ya, perancang dan “pembabat alas” pondok ini adalah santri-santri yang mengaji pada Buya Said setiap Senin malam dan kolega masing-masing.
Hari Minggu, 28 Juli 2013, Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah diresmikan melalui acara yang tidak bisa dikatakan sederhana. Peresmian dihadiri para kiai dan tokoh nasional. Pesantren yang mulanya hanya seluas ± 4000 m2 mulai dikenalkan ke masyarakat luas. Tidak tanggung-tanggung, Buya Said sendiri mengenalkannya pada masyarakat melalui pengajian-pengajian yang dihadirinya.
Sekarang, hampir satu dasawarsa Al-Tsaqafah berjalan. Silih berganti pengurus, guru, santri, datang dan pergi. Sembilan tahun bukan waktu yang lama dari satu sisi dan bukan juga waktu yang singkat dari sisi lain. Semoga pengabdian ini manifestasi sendiko dawuh pada dawuh-nya Mbah Yai Sepuh Lirboyo (K.H. Abdul Karim), “Santri lek mulih ojo lali ngedep dampar” (santri kalau pulang ke rumah jangan lupa mengajar). Semoga menjadi wasilah berkahnya ilmu hamba sebagaimana dikatakan:
العِلْمُ قَدْ يُسْتَدْرَكُ وَلَا تُسْتَدْرَكُ الْخِدْمَةُ
“Ilmu masih bisa dicari, tetapi tidak demikian halnya dengan pengabdian.”
العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَالْبَرَكَةُ بِالْخِدْمَةِ، وَالْمَنْفَعَةُ بِالطَّاعَةِ
“Ilmu bisa didapat dengan mengaji, berkah didapat dengan mengabdi, kemanfaatan ilmu didapat dengan kepatuhan.”
Semoga Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah terus eksis, mberkahi, dan manfaati. Semoga juga saya diakui sebagai santri beliau, Abuya Prof.Dr. K.H. Said Aqil Siroj. Amin.
Kepala Madrasah Aliyah (MA) Al-Tsaqafah, asal Cirebon, Jawa Barat. Santri Lirboyo. Sarjana Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

