Amanat HSN 2025 di Al-Tsaqafah: Malu dan Sombong Adalah Penghalang Ilmu

Kepala Madrasah Aliyah (MA) Al-Tsaqafah, Akrom Halimi, menegaskan bahwa identitas santri yang sesungguhnya adalah ilmu, bukan sekadar gelar. Dalam menuntut ilmu, seorang santri dilarang memiliki sifat malu-malu ataupun sombong, karena kedua sikap tersebut akan menghalangi masuknya ilmu.

Penegasan ini disampaikannya saat memberikan amanat dalam Upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Rabu (22/10/2025).

Di hadapan para santri, Akrom mengingatkan bahwa menjadi santri berarti mengemban amanat keilmuan.

“Santri itu identik dengan ilmu. Santri itu bukan gelar. Tapi santri itu ada beban amanat (keilmuan) di pundaknya,” tegas Akrom.

Akrom menambahkan, meskipun hadis Nabi Muhammad SAW menyatakan “Thalabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimat” (mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan), bukan berarti semua jenis ilmu wajib dipelajari secara fardhu ‘ain (kewajiban individu).

Menurutnya, luasnya cakupan ilmu dan terbatasnya usia manusia meniscayakan adanya pengkategorian.

“Islam tidak mewajibkan semua ilmu harus wajib ‘ain untuk dicari,” jelasnya. “Tapi ada beberapa ilmu yang wajib ‘ain, ada yang wajib kifayah (kewajiban kolektif), ada juga yang bersifat komplementer atau pelengkap.”

Untuk meraih ilmu tersebut, Akrom menekankan pentingnya adab dan sikap mental yang tepat. Ia melarang keras santri untuk malu dalam belajar.

Mengutip perkataan Sayyidina Umar, ia mengingatkan, “Man raqqa wajhuhu, raqqa ‘ilmuhu.” (Barang siapa yang wajahnya tipis, maka ilmunya pun akan tipis).

“Oleh Imam Nawawi, ini ditafsiri: orang yang malu-malu untuk mencari ilmu, niscaya ilmu yang didapatkannya pun akan sedikit,” paparnya.

Selain tidak boleh malu, santri juga tidak boleh sombong. Akrom mengutip perkataan Imam Mujahid: “La yata’allamul ‘ilma mustahyi wa la mutakabbir,” yang berarti ilmu tidak akan bisa didapatkan oleh orang yang malu dan yang sombong.

“Di sinilah pentingnya tawasuth (moderasi). Kita harus bisa menempatkan kapan kita harus malu dan kapan kita harus berani,” pungkasnya.

“Misalnya saat muthala’ah, harusnya berani malah malu. Nanti, harusnya malu malah berani. Ini kan juga berkaitan dengan adab,” tutupnya.

Penekanan kuat pada adab mencari ilmu ini menegaskan bahwa Hari Santri bukan sekadar perayaan, tetapi juga momen refleksi. Amanat tersebut menggarisbawahi bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berfokus pada hasil (ilmu), tetapi juga sangat mementingkan proses dalam meraihnya.

media@altsaqafah.id   Postingan Lainnya