Dua santri Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah berhasil mengharumkan nama almamater dan Kafilah Daerah Khusus (DK) Jakarta dengan meraih prestasi gemilang dalam ajang Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional yang diselenggarakan pada 1-6 Oktober 2025 di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
Mereka adalah M. Syihab Nawwaf yang sukses meraih Juara Harapan 1 di bidang Tarikh dengan materi kitab Muqaddimah Ibn al-Khaldun, dan M. Emil Hardy Al Rosyid yang menyabet Juara Harapan 2 di bidang Nahwu dengan materi kitab Syarah Ibn ‘Aqil ‘ala Alfiyyah Ibn Malik. Keduanya berhasil unggul di tengah persaingan yang sangat ketat melawan ratusan peserta.
Emil sendiri mengakui bahwa persaingan di bidangnya luar biasa ketat, terutama dari para peserta yang berasal dari pondok pesantren yang dikenal sebagai basis kajian kitab, seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah.
“Mereka sudah terbiasa ikut lomba, jadi sempat sulit untuk mengimbangi,” ungkap Emil.
Lebih lanjut, Emil juga menceritakan keterkejutan juri saat tahu bahwa ada peserta asal Kafilah Jakarta yang lolos final.
“Ketika saya menjawab berasal dari Pondok Al-Tsaqafah, salah seorang juri langsung berkata, ‘Oh, pondoknya Kiai Said, pantas hebat’,” kenang Emil, menceritakan momen yang membanggakan tersebut.
Di sisi lain, Syihab mengungkap bahwa persiapannya menjadi sangat sulit karena tidak adanya batasan tema yang diujikan. Meski begitu, Syihab mengaku bisa tetap tenang dan menikmati jalannya perlombaan.
“Secara umum sebenarnya saya enjoy the game saja dan tidak merasa tegang sama sekali,” katanya.
Syihab juga mengenang beberapa momen yang terjadi di perlombaan tersebut. Ia menceritakan dirinya yang sempat terlibat perdebatan dengan dewan juri karena mengutarakan pendapat yang berbeda.
“(Itu) mungkin momen yang paling berkesan, dan ini berlangsung cukup intens, meskipun ujungnya yang salah saya,” kenangnya sambil tertawa.
M. Hikam Ali, Koordinator Bidang Kitab, menyatakan rasa bangga dan syukurnya. Menurutnya, pencapaian ini adalah buah dari proses pembinaan matang dan mentalitas kuat yang ditanamkan di Al-Tsaqafah.
“Tentu ini pencapaian yang luar biasa dan membanggakan, bukan hal yang mudah, mereka telah melalui sekian banyak babak penyisihan, mulai dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional,” ujarnya.
Prestasi yang diraih Syihab dan Emil di panggung MQK Internasional ini merupakan cerminan dari visi jangka panjang Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah dalam mencetak kader intelektual.
Melalui program intensif seperti sorogan, para santri ditempa untuk menguasai kitab kuning dari aspek gramatika (nahwu-sharaf) hingga analisis konten dan relevansi kontekstual.
Pola pikir kritis mereka juga diasah melalui partisipasi aktif dalam forum Bahtsul Masail di berbagai pesantren dan lembaga.
Dengan ekosistem pendidikan yang terstruktur ini, Al-Tsaqafah terus melahirkan kader-kader yang tidak hanya matang secara keilmuan, tetapi juga siap bersaing dan menorehkan prestasi di berbagai tingkatan.

